Joko Lingara Memimpin Saat Merah Putih Kembali ke Peraduan

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 2

“Saat Empat Pelajar Bintuni Menjaga Merah Putih Tetap Terhormat”

BINTUNI, inspirasipapua.id – Menjelang senja di Gelanggang Argosigemerai SP5, Distrik Bintuni Timur, Senin, 17 Agustus 2026, perhatian peserta upacara tertuju pada empat pelajar. Mereka berdiri dalam posisi masing-masing, menunggu aba-aba untuk menjalankan tugas terakhir dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Teluk Bintuni.

Satu membawa baki. Satu mengerek tali. Satu membentangkan kain merah putih. Satu lainnya membawa bendera.

Tugas mereka terlihat sederhana. Namun di balik gerakan yang harus seragam dan presisi itu, tersimpan pelajaran tentang tanggung jawab. Bagi empat pelajar tersebut, Merah Putih bukan sekadar kain yang dinaikkan dan diturunkan pada setiap 17 Agustus. Mereka diberi kesempatan untuk belajar secara langsung bagaimana sebuah tugas kecil dapat memiliki makna besar ketika dilakukan untuk kepentingan bersama.

Upacara penurunan Bendera Merah Putih itu dipimpin Wakil Bupati Teluk Bintuni Joko Lingara sebagai Inspektur Upacara. Prosesi berlangsung khidmat dan tertib, diikuti unsur Forkopimda, TNI-Polri, aparatur sipil negara, pelajar, organisasi masyarakat serta warga Teluk Bintuni.

Empat pelajar tersebut merupakan bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka yang telah menjalani seleksi dan latihan. Pembawa baki adalah Margaretha Dora Manikrowi, siswi SMA Negeri 1 Bintuni, putri Isidorus Manibuy dan Imelda Manikrowi.

Posisi pengerek bendera dipercayakan kepada Muhammad Andra Jayadi, siswa SMA Negeri 1 Bintuni, putra Jayadi dan Hasriani. Sebagai pembentang bendera adalah Putra Revansa, siswa SMA Harmoni School Terpadu Bintuni, putra Muhammad Sakkar dan Mulyati. Sedangkan pembawa bendera adalah Frans Ludrian Abidondifu, siswa SMA Negeri 1 Bintuni, putra Nelson Koibur dan Sermina Arnolda Kawer.

Di bawah tatapan peserta upacara, mereka menjalankan tugas dengan gerakan yang terukur. Tidak ada ruang untuk terburu-buru. Setiap langkah mengikuti aba-aba, setiap posisi memiliki makna, dan setiap kesalahan kecil dapat mengganggu kekhidmatan prosesi.

Di situlah pendidikan karakter berlangsung tanpa ruang kelas.

Disiplin tidak hanya diajarkan melalui buku. Tanggung jawab tidak selalu dijelaskan lewat teori. Dalam latihan Paskibraka, para pelajar belajar datang tepat waktu, mematuhi instruksi, bekerja sebagai satu kesatuan dan memahami bahwa keberhasilan sebuah tugas bergantung pada kerja banyak orang.

Tugas mereka pun tidak berdiri sendiri. Komandan Pasukan Penurun Bendera Pusaka adalah Letda Infanteri Yosef Marbun, S.Tr.Han., abituren Akademi Militer 2024 yang kini menjabat Komandan Peleton Kompi A Yonif 763/Sanetia Buerama Amor.

Komandan upacara dipercayakan kepada Kapten CPM Rendi Harisman, abituren Pendidikan Pertama Perwira Prajurit Karier TNI 2019 yang kini menjabat Dansubdenpom 18/1-1 Bintuni. Sementara AKP Ikram Syaban bertugas sebagai Perwira Upacara dan Iptu Reynelda Tiurlan Simanjuntak, SH., sebagai pembawa acara.

Paduan Suara Via Dolorosa Bintuni yang beranggotakan 45 orang di bawah pimpinan Yoan Beyete turut mengisi suasana upacara. Satu regu Korps Musik dari Brigade Infanteri 26/Gurana Piarawaimo juga mengiringi jalannya prosesi.

Bagi masyarakat yang menyaksikan, upacara itu mungkin hanya berlangsung dalam hitungan menit. Tetapi bagi para pelajar yang berdiri di tengah lapangan, tugas tersebut merupakan hasil dari latihan panjang, disiplin dan kepercayaan yang diberikan kepada mereka.

Karena itu, Paskibraka bukan hanya tentang siapa yang paling tegap ketika berdiri di depan tiang bendera. Ia juga tentang bagaimana anak-anak muda belajar menghormati simbol negara, bekerja dalam kelompok dan menyelesaikan tanggung jawab yang dipercayakan kepada mereka.

Di Teluk Bintuni, nilai itu menjadi penting. Peringatan kemerdekaan tidak hanya berbicara tentang masa lalu atau perjuangan para pahlawan. Ia juga menyentuh pertanyaan tentang generasi seperti apa yang akan mengisi kemerdekaan berikutnya.

Ketika Bendera Merah Putih akhirnya disimpan dengan penuh penghormatan, rangkaian upacara penurunan pun selesai. Lapangan perlahan kembali lengang. Namun pelajaran yang dibawa pulang para pelajar itu jauh lebih panjang daripada durasi upacara.

Mereka telah belajar bahwa menjadi bagian dari peringatan kemerdekaan bukan sekadar berdiri di lapangan. Ada disiplin, tanggung jawab, kerja sama dan penghormatan yang harus dijaga.

Dan mungkin, dari empat anak muda yang sore itu berdiri di bawah langit Bintuni, makna kemerdekaan menemukan bentuknya yang paling sederhana: merawat kepercayaan dan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

**(Tim/red/MA/inspirasipapua.id)**

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *