Views: 1
Kapolres Bintuni Bentuk Posko Karhutla di Kawasan LNG Tangguh
BINTUNI, inspirasipapua.id — Asap dan lahan yang terbakar menjadi tanda bahwa musim kering tak boleh dihadapi dengan menunggu api membesar. Di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, kepolisian memilih memperkuat kesiapsiagaan dengan membentuk Posko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Kapolres Teluk Bintuni AKBP Marully Rachmat Azwar, S.H., S.I.K., M.M., mendatangi kawasan LNG Tangguh, Jumat, 28 Agustus 2026. Ia mengecek kesiapan personel Polres Teluk Bintuni yang tergabung dalam Satuan Tugas Karhutla Kabupaten Teluk Bintuni.
Sebanyak 20 personel kepolisian telah dikerahkan untuk membantu penanganan kebakaran lahan. Mereka bekerja bersama petugas keamanan perusahaan BP Tangguh, termasuk dalam upaya pemadaman yang dilakukan sejak 22 Agustus 2026.
“Personel Polres Teluk Bintuni sudah kami kerahkan sebanyak 20 personel bersama dengan petugas keamanan perusahaan BP Tangguh dalam upaya pemadaman kebakaran lahan pada 22 Agustus 2026 lalu,” kata Marully.
Dua sektor penanganan
Untuk mempercepat penanganan, personel gabungan dibagi menjadi dua sektor. Sektor pertama mencakup wilayah Tanah Merah dan Saengga. Sektor kedua berada di wilayah Distrik Sumuri, khususnya Tofoi.
Pembagian sektor itu bukan sekadar soal membagi personel. Di lapangan, kebakaran lahan membutuhkan pengawasan berkelanjutan karena api dapat kembali muncul setelah terlihat padam. Karena itu, penyisiran menjadi bagian penting untuk memastikan tidak ada titik api yang tertinggal.
Penanganan Karhutla dilakukan secara terpadu. BPBD Kabupaten Teluk Bintuni, TNI, Polri, Basarnas, Pemerintah Distrik Sumuri, BP Tangguh, dan Genting Oil terlibat dalam upaya tersebut.
Bagi masyarakat, kerja bersama ini menjadi penting karena Karhutla bukan hanya persoalan api. Kebakaran lahan dapat menimbulkan asap yang mengganggu kualitas udara, menghambat aktivitas warga, serta mengancam ekosistem di sekitarnya.
Karena itu, pencegahan tidak kalah penting dibandingkan pemadaman. Masyarakat diharapkan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi lahan dan cuaca membuat api mudah menjalar.
Personel tetap di lokasi
Marully mengatakan personel Satgas Karhutla akan melanjutkan penyisiran dan pemadaman di wilayah Distrik Sumuri. Mereka akan tetap berada di lokasi sampai kondisi dinyatakan aman.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran tidak berhenti ketika kobaran api mengecil. Personel perlu memastikan titik-titik rawan benar-benar terkendali agar api tidak kembali membesar dan meluas.
“Keselamatan masyarakat dan lingkungan harus menjadi perhatian bersama,” kata Marully.
Polres Teluk Bintuni menyatakan akan terus mendukung penanganan Karhutla secara maksimal. Kepolisian juga mengajak seluruh pihak ikut menjaga hutan dan lahan dari ancaman kebakaran.
Sebab, menjaga lahan tetap hijau bukan hanya tugas petugas pemadam. Ia dimulai dari keputusan sederhana: tidak menyalakan api sembarangan dan segera melaporkan jika menemukan titik kebakaran.
Di tengah musim kering, satu titik api mungkin terlihat kecil. Namun jika dibiarkan, ia dapat berubah menjadi persoalan besar bagi manusia dan lingkungan.
**(Tim/red/MA/inspirasipapua.id)**













