Tangan Terulur dari Bintuni untuk Flores

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 1

Dari Lampu Merah Bintuni, Solidaritas untuk Flores

BINTUNI, inspirasipapua.id — Di Flores, rumah-rumah runtuh, jalan dan jembatan terputus, sementara sebagian keluarga masih mencari kabar tentang orang-orang yang mereka cintai. Dari kejauhan, duka itu sampai ke Bintuni. Senin pagi, warga Flobamora turun ke persimpangan jalan, menadahkan tangan kepada pengguna jalan. Mereka mengumpulkan bukan sekadar uang, melainkan harapan untuk keluarga dan saudara yang sedang bertahan di tengah puing-puing gempa.

Ketua Kerukunan Flobamora Kabupaten Teluk Bintuni, Aloysius Ado, mengatakan gempa yang melanda Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 membawa kerusakan besar. Bangunan, jalan, dan jembatan terdampak, sementara korban jiwa dan luka-luka terus menjadi bagian dari kabar duka yang diterima keluarga di Bintuni.

Menurut Aloysius, berdasarkan informasi yang mereka terima, lebih dari 80 orang meninggal dunia dan lebih dari 120 orang mengalami luka berat maupun ringan akibat bencana tersebut.

“Akibat kejadian tersebut masyarakat Flobamora Kabupaten Teluk Bintuni mengambil langkah dengan melakukan aksi solidaritas pengumpulan dana untuk membantu saudara-saudara maupun orang tua yang ada di Flores yang akan dilaksanakan selama 2 hari yaitu tanggal 24 dan 26 Agustus 2026,” kata Aloysius kepada wartawan, Senin (24/8/2026), di sela-sela aksi penggalangan dana di Bintuni.

Penggalangan dana dilakukan di dua titik, yakni persimpangan lampu merah Pasar Sentral Bintuni dan persimpangan lampu merah Kampung Lama.

Di bawah terik matahari, warga Flobamora menghampiri kendaraan yang berhenti di lampu merah. Mereka mengajak masyarakat Bintuni ikut merasakan duka keluarga di Flores.

Nominal yang diberikan tidak selalu besar. Ada yang menyumbang Rp1.000, ada pula Rp2.000. Tetapi dari uang-uang kecil itu, terkumpul satu bentuk kepedulian yang jauh lebih besar: pesan bahwa keluarga di Flores tidak sedang menghadapi bencana sendirian.

“Masyarakat Kabupaten Teluk Bintuni menyumbang satu sen dan dua sen untuk membantu saudara-saudara kita di Flores NTT,” ujar Aloysius.

Ia berharap hasil penggalangan dana tersebut dapat meringankan beban keluarga yang terdampak gempa.
“Mudah-mudahan kegiatan penggalangan dana ini dapat membantu keluarga atau saudara-saudara kita yang terkena gempa di sana,” katanya.

Dari Sisar Matiti untuk Flores
Ketua Tungku Tirossa, Felipus Kase yang akrab disapa Lucky, mengatakan keluarga besar Flobamora Kabupaten Teluk Bintuni memiliki enam tungku. Seluruhnya ikut mengambil bagian dalam aksi solidaritas tersebut.

Menurut Lucky, penggalangan dana berlangsung sejak pagi hingga sore dan berjalan lancar.

“Puji Tuhan, donasi yang kami kumpulkan ini semoga dapat bermanfaat buat saudara dan keluarga kami yang ada di Flores,” ujarnya.

Ia menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kabupaten Teluk Bintuni yang secara sukarela menyisihkan uang ketika melintas di persimpangan lampu merah.

Bagi Lucky, sumbangan tersebut bukan semata-mata persoalan nominal. Di balik Rp1.000 atau Rp2.000 yang diberikan warga, ada pesan persaudaraan yang hendak dikirim dari Sisar Matiti kepada Flores.

“Dengan adanya sumbangan dari masyarakat Bintuni atau Sisar Matiti, maka masyarakat Flores tidak merasa sendiri, bahkan merasakan kehadiran masyarakat Sisar Matiti di sana,” katanya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan Ketua Tungku Maumere, Haris Manukule. Ia mengatakan bantuan sekecil apa pun tetap berarti bagi keluarga yang sedang menghadapi musibah.

“Bantuan masyarakat Teluk Bintuni yang menyisihkan dananya Rp1.000 atau Rp2.000 itu sangat membantu keluarga dan saudara-saudara kami yang ada di Flores sana yang terkena musibah gempa,” tutur Manukule.

Ia juga mengapresiasi masyarakat dari berbagai latar belakang yang turut memberikan bantuan.

“Atas nama keluarga, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Nusantara, tujuh suku maupun Papua yang ada di Teluk Bintuni atas bantuan yang diberikan,” katanya.

Di persimpangan jalan Bintuni, kepedulian itu akhirnya menemukan bentuk paling sederhana: tangan yang terulur dan uang yang berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.

Jumlahnya mungkin hanya seribu atau dua ribu rupiah.

Namun bagi keluarga yang sedang kehilangan rumah, kehilangan anggota keluarga, atau masih menunggu kabar dari kampung halaman, bantuan itu membawa satu pesan penting: Flores tidak sendirian.

**(Tim/red/MA/inspirasi Papua.id)**

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *