Views: 147
PDPI Papua Gelar Edukasi Paru Se-Papua: Ajak Masyarakat Waspadai TB, Kanker Paru, Pneumonia, dan PPOK
Peringati Bulan Kesadaran Kesehatan Paru Dunia, Edukasi Digelar di Bintuni, Sorong hingga Webinar Se-Tanah Papua
BINTUNI, PAPUA BARAT — Dalam rangka memperingati sejumlah Hari Kesehatan Paru di bulan November 2025, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua menggelar rangkaian kegiatan edukatif yang menyentuh masyarakat dari kota hingga daerah pedalaman Papua. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan World Lung Cancer Awareness Month, World Pulmonary Hypertension Month, Hari Pneumonia Sedunia (12 November), dan Hari PPOK Sedunia (19 November).
Melalui penyuluhan langsung dan webinar awam, PDPI Papua mengangkat isu penyakit paru yang hingga kini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Penyuluhan Langsung di Bintuni dan Sorong: Edukasi Sederhana, Pesan yang Mengena
Di RSUD Teluk Bintuni, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P memberikan penyuluhan mengenai penyakit paru yang banyak ditemukan di masyarakat Papua. Ia menekankan bahwa Tuberkulosis (TB), Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK), dan Pneumonia masuk dalam 10 besar penyebab kematian di Indonesia tahun 2024.
“Kesadaran masyarakat untuk mengenali gejala sejak dini masih rendah. Padahal batuk lama, sesak, dan nyeri dada adalah sinyal tubuh yang tidak boleh diabaikan,” ujar dr. Wiendo dalam penyuluhan yang digelar Senin (17/11/2025).
Di hari yang sama, edukasi juga dilakukan di RSUD Sele Be Solu Sorong oleh dr. Bakharul Wasil Amsak, Sp.P. Ia memaparkan gejala awal penyakit paru seperti batuk berdahak, batuk darah, sesak napas, hingga nyeri dada.
Menurutnya, pencegahan penyakit paru adalah langkah paling efektif dan murah.
“Cukup berolahraga 30 menit, tiga kali seminggu, tidak merokok, menjaga ventilasi rumah, serta menjemur alas tidur agar tidak lembap. Ini sederhana tapi dampaknya besar,” jelas dr. Bakharul.
Webinar Awam: Sentuhan Edukasi hingga ke Serui, Timika, Asmat, Wamena dan Pedalaman Papua
Puncak kegiatan PDPI Papua adalah webinar awam yang digelar Minggu (23/11/2025). Kegiatan ini diikuti tenaga kesehatan dari berbagai wilayah: Sorong, Bintuni, Manokwari, Nabire, Wamena, Jayapura, Keerom, Serui, Timika hingga Asmat.
Dengan moderator dr. Albertina Hermina Sesa (Serui), dua pembicara utama hadir memberikan materi yang bersifat praktis dan mudah dipahami masyarakat.
Kenali Kanker Paru Sejak Dini
dr. Novita Silvana Thomas, Sp.P (Jayapura) mengungkapkan fakta serius tentang kanker paru di Indonesia.
“Kanker paru adalah kanker paling banyak pada laki-laki dan menduduki urutan kedua pada seluruh kelompok usia. Yang memprihatinkan, setengah pasien kanker paru meninggal dalam satu tahun sejak diagnosis karena datang sudah stadium akhir,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kini sudah tersedia formulir dan aplikasi skrining kanker paru agar masyarakat bisa memeriksakan diri meski tanpa gejala.
Pneumonia Bukan Sekadar Batuk dan Demam
Materi kedua dibawakan dr. Bakhrul Wasil Amsak, Sp.P (Sorong) yang menjelaskan pneumonia sebagai radang akut jaringan paru akibat bakteri, virus maupun jamur — bukan karena kuman TB.
Gejala umumnya berupa batuk berdahak pekat, demam, sesak, dan nyeri dada. Upaya pencegahan sangat sederhana:
- Cuci tangan dengan sabun
- Gunakan masker saat batuk
- Istirahat cukup
- Rutin berolahraga
- Tidak merokok dan hindari asap rokok
- Perbaiki pola makan
- Berikan vaksinasi terutama pada lansia
“Jangan tunggu sesak baru bertindak. Pneumonia bisa menjadi sangat fatal jika terlambat ditangani,” tegasnya.
Membangun Kesadaran Paru dari Papua untuk Papua
Rangkaian kegiatan PDPI Papua ini menjadi upaya nyata untuk mendekatkan edukasi medis yang tepat dan mudah dipahami ke seluruh lapisan masyarakat.
Tidak hanya sebatas pengetahuan, namun juga mengajak masyarakat Papua untuk menjaga diri, keluarga, dan lingkungan agar terhindar dari penyakit paru yang banyak merenggut nyawa.
Dengan edukasi yang merata — dari Bintuni hingga Asmat — PDPI berharap semakin banyak masyarakat Papua yang sadar, waspada, dan berani memeriksakan diri sebelum terlambat.
(MA/Inspirasi Papua)



