Views: 42
Peringati Hari Ginjal Sedunia 2026, IDI Teluk Bintuni Gelar Webinar Hybrid dan Dorong Layanan Hemodialisis
BINTUNI, PAPUA BARAT – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Teluk Bintuni menggelar webinar hybrid dalam rangka memperingati Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) 2026.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (7/3/2026) itu menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam, dr. Jemi Tubung, Sp.PD, M.BioMed sebagai pembicara utama.
Webinar ini diikuti oleh dokter spesialis, dokter umum, perawat, serta tenaga kesehatan lainnya yang bertugas di RSUD Teluk Bintuni maupun di berbagai Puskesmas di distrik-distrik wilayah Teluk Bintuni.
Ketua IDI Cabang Teluk Bintuni, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran tenaga kesehatan dan masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ginjal.
“Webinar hybrid ini diikuti oleh dokter spesialis, dokter umum, perawat dan tenaga kesehatan lainnya, baik yang bertugas di RSUD Teluk Bintuni maupun di puskesmas di berbagai distrik di Teluk Bintuni,” ujar dr. Wiendo kepada media di Bintuni, Sabtu (7/3/2026).
Hari Ginjal Sedunia sendiri diperingati setiap tahun, dan pada 2026 mengusung tema “Kidney Health for All – Caring for People, Protecting the Planet” atau Ginjal yang Sehat untuk Semua – Perawatan untuk Masyarakat dan Menjamin Keberlangsungan Kehidupan di Bumi.
Tema ini menekankan pentingnya akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan ginjal yang bermutu dan aman bagi semua orang, sekaligus mendorong perhatian pada kesehatan individu serta perlindungan lingkungan dalam sistem perawatan pasien penyakit ginjal.
Menurut dr. Wiendo, momentum Hari Ginjal Sedunia sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ginjal, termasuk melalui deteksi dini dan pengobatan yang tepat.
“Peringatan ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan ginjal serta mendorong upaya deteksi dini penyakit ginjal di masyarakat,” katanya.
Sementara itu, dalam pemaparannya, dr. Jemi Tubung mengungkapkan bahwa kasus gagal ginjal di Teluk Bintuni menunjukkan tren yang perlu mendapat perhatian serius.
Ia menyebutkan, dalam 35 hari pertama tahun 2026, RSUD Teluk Bintuni telah merawat tujuh pasien gagal ginjal stadium akhir yang membutuhkan penanganan hemodialisis atau cuci darah secara segera.
Menurutnya, tingginya kasus gagal ginjal kronik stadium akhir di wilayah tersebut banyak dipicu oleh penyakit penyerta yang tidak terkontrol, seperti hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
“Banyaknya pasien gagal ginjal kronik stadium akhir di Teluk Bintuni berkaitan dengan tingginya kasus hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 yang belum terkontrol dengan baik,” jelas dr. Jemi.
Sebagai langkah antisipasi, RSUD Teluk Bintuni saat ini telah menyiapkan Unit Layanan Hemodialisis (cuci darah) yang tengah menjalani proses penilaian kelayakan operasional oleh Kementerian Kesehatan.
Unit layanan ini ditargetkan segera memperoleh izin operasional dalam waktu dekat sehingga dapat melayani pasien gagal ginjal kronik stadium akhir maupun pasien gagal ginjal akut dengan kondisi tertentu.
Selain untuk masyarakat Teluk Bintuni, layanan tersebut juga diharapkan dapat membantu pasien dari wilayah lain yang membutuhkan penanganan hemodialisis.
Dengan adanya fasilitas tersebut, diharapkan akses pelayanan kesehatan bagi pasien penyakit ginjal di wilayah Teluk Bintuni dan sekitarnya menjadi semakin baik dan cepat.
***(MA/Inspirasi Papua)***













