IDI Teluk Bintuni Peringati World TB Day, Soroti Pentingnya Skrining dan Pengobatan Dini

Dokter dan tenaga kesehatan mengikuti webinar yang digelar IDI Teluk Bintuni dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia 2026, sebagai upaya memperkuat deteksi dini dan penanganan TBC. (ist/Inspirasi Papua)
banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 72

Peringati Hari TB Sedunia 2026, IDI Teluk Bintuni Ajak Tenaga Kesehatan Perkuat Deteksi dan Penanganan TBC

 

 

BINTUNI, PAPUA BARAT – Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (World TB Day) setiap 24 Maret menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran global dalam memerangi penyakit tuberkulosis (TBC).

Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini hingga kini masih menjadi salah satu ancaman kesehatan serius di dunia, termasuk di Indonesia.

Hari Tuberkulosis Sedunia diperingati untuk mengenang jasa ilmuwan asal Jerman, Dr. Robert Koch, yang pada 24 Maret 1882 mengumumkan penemuan bakteri penyebab TBC.

Pada tahun 2026, peringatan World TB Day mengangkat tema “Yes! We Can End TB! Led by Countries – Powered by People” atau “Ya! Kita Bisa Mengakhiri TBC! Dipimpin oleh Negara – Didukung oleh Masyarakat.” Tema ini menekankan pentingnya komitmen kuat pemerintah serta dukungan masyarakat dalam upaya menuntaskan penyakit TBC.

Sebagai bagian dari peringatan tersebut, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Teluk Bintuni menggelar webinar edukasi pada Sabtu (7/3/2026) yang diikuti dokter spesialis, dokter umum, perawat serta tenaga kesehatan yang terlibat dalam penanganan pasien TBC di RSUD Teluk Bintuni maupun puskesmas di berbagai distrik.

Dalam kegiatan tersebut, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua serta Ketua Koalisi Organisasi Profesi untuk Penanggulangan Tuberkulosis (KOPI TB) Papua Barat, menyampaikan materi terkait petunjuk teknis terbaru Kementerian Kesehatan dalam penanganan Tuberkulosis Sensitif Obat (TBC SO).

Menurut dr. Wiendo, pemahaman tenaga kesehatan terhadap pedoman terbaru sangat penting agar proses diagnosis, pengobatan, serta pengendalian penularan TBC dapat dilakukan secara lebih efektif.

Indonesia Masih Hadapi Tantangan Besar

Berdasarkan laporan Global TB Report 2024, Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi di dunia dalam jumlah kasus TBC.

Diperkirakan pada tahun 2023 terdapat 387 kasus TBC per 100.000 penduduk, atau sekitar 1,09 juta orang yang menderita penyakit tersebut di Indonesia.

Karena itu, upaya skrining atau penemuan kasus secara aktif menjadi langkah penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini.

Skrining bertujuan meminimalkan keterlambatan diagnosis dan mempercepat dimulainya pengobatan bagi pasien, sehingga risiko penularan di rumah tangga, tempat kerja, sekolah, maupun lingkungan masyarakat dapat ditekan.

Pentingnya Diagnosis dan Pemantauan Pengobatan

Dalam penanganan TBC paru, proses diagnosis dilakukan sesuai standar medis dengan mengutamakan pemeriksaan mikrobiologi untuk mendeteksi keberadaan kuman penyebab TBC.
Salah satu metode utama adalah pemeriksaan dahak sebagai spesimen untuk mendeteksi bakteri TBC.

Pemeriksaan dahak juga dilakukan secara berkala selama masa pengobatan guna memantau keberhasilan terapi yang dijalani pasien.

Pesan Global untuk Mengakhiri TBC

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyampaikan sejumlah pesan penting dalam peringatan Hari TB Sedunia tahun ini.

Beberapa di antaranya menekankan bahwa investasi dalam pengendalian TBC bukan hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga merupakan keputusan politik dan ekonomi yang strategis.

Selain itu, WHO juga menekankan pentingnya riset dan inovasi dalam penanganan TBC, keberlanjutan layanan kesehatan bagi pasien, serta kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat upaya pengendalian penyakit ini.

Upaya penanggulangan TBC juga harus berorientasi pada kebutuhan pasien dan masyarakat agar layanan kesehatan dapat diakses secara adil dan efektif.

Melalui kegiatan edukasi seperti webinar ini, IDI Teluk Bintuni berharap para tenaga kesehatan semakin siap dalam menghadapi tantangan penanganan TBC, sekaligus memperkuat komitmen bersama untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan bebas dari tuberkulosis.

***(MA/Inspirasi Papua)***

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *