KTH dan HHBK Dukung PAD Papua Barat: Ketika Hutan Menjadi Sumber Harapan Baru Warga Oransbari

Kepala Dinas Kehutanan Papua Barat, Jimmy Susanto, saat memberikan sambutan dan dukungan penuh terhadap pengembangan budidaya Nilam dan Sereh Wangi oleh KTH SWAM. Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat kelembagaan KTH sebagai model kehutanan sosial yang berkelanjutan.(ist/Kadate/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 1647

KTH dan HHBK Dukung PAD Papua Barat: Ketika Hutan Menjadi Sumber Harapan Baru Warga Oransbari

 

Laporan: M. Ahmad | KADATE – Inspirasi Papua

MANOKWARI SELATAN — Dari lebatnya hutan hujan tropis Papua Barat, secercah harapan tumbuh. Bukan hanya dari pohon-pohon yang menjulang tinggi, tetapi dari tanaman rempah dan tumbuhan atsiri yang dulu tak begitu diperhitungkan: pala hutan, nilam, dan sereh wangi.

Pada Kamis, 3 Juli 2025, sebuah langkah penting dicatat dalam perjalanan kehutanan berbasis masyarakat di Tanah Papua. Di Oransbari, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat bersama masyarakat Kelompok Tani Hutan (KTH) SWAM melakukan penanaman perdana tanaman nilam dan sereh wangi — dua komoditas unggulan yang kini menjadi andalan dalam mengembangkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

Namun, cerita tak berhenti di situ. Hari itu juga menjadi momen simbolik penyerahan setoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari CDK II Manokwari Selatan kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat. Uniknya, PAD tersebut berasal dari produk lokal khas Papua Barat: minyak gosok berbahan dasar pala hutan, hasil racikan masyarakat yang kini menemukan nilai ekonominya.

Dari Pala Hutan Menjadi PAD

Penyerahan PAD dilakukan secara simbolis oleh Jimmy Ido Kambu, Kepala Seksi Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan CDK II Manokwari Selatan, sekaligus Tim Percepatan PAD HHBK Dinas Kehutanan Papua Barat, kepada Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, Jimmy Susanto.

“Minyak gosok dari pala hutan ini bukan hanya produk lokal yang berdaya saing, tetapi juga telah memberikan kontribusi nyata dalam bentuk PAD. Ini menunjukkan bahwa HHBK bisa menjadi penggerak ekonomi lokal jika dikelola dengan baik,” kata Jimmy Ido Kambu dalam keterangannya.

Produk yang awalnya diolah secara sederhana oleh warga kini mulai terstandarisasi, menyerap tenaga kerja lokal, dan menciptakan ekosistem usaha kecil di sektor kehutanan non-kayu. Hal ini menjadi bukti bahwa kehutanan bisa menyumbang PAD secara langsung, tanpa merusak hutan.

Nilam dan Sereh Wangi: Masa Depan dari Akar Rumput

Di lahan milik KTH SWAM, warga berkumpul dengan penuh semangat. Mereka tak sekadar menanam nilam dan sereh wangi, tetapi menanam harapan baru — harapan bahwa hasil hutan yang tak ditebang bisa menjadi penghidupan yang lestari.

Kepala Dinas Kehutanan Papua Barat, Jimmy Susanto, dalam sambutannya, mengapresiasi langkah KTH SWAM yang dinilainya visioner.

“Budidaya Nilam dan Sereh Wangi ini sangat potensial karena menghasilkan minyak atsiri yang memiliki pasar luas, termasuk ekspor. Kami menyambut baik inisiatif ini dan akan terus mendukungnya,” ujarnya.

Tak berhenti pada penanaman, Jimmy juga menegaskan komitmen Pemprov Papua Barat dalam memperkuat kelembagaan KTH. Mulai dari penyediaan alat penyulingan, gudang penyimpanan, rumah produksi, hingga persemaian bibit akan difasilitasi. Harapannya, KTH SWAM menjadi model yang bisa direplikasi di wilayah lain.

“Kami ingin menunjukkan bahwa hutan tidak hanya tentang kayu. Jika dikelola dengan baik, HHBK seperti pala, nilam, dan sereh wangi bisa menjadi sumber pendapatan masyarakat sekaligus menyumbang PAD. Ini bentuk kehutanan sosial yang nyata dan berkelanjutan,” tegas Jimmy.

Dari Hutan, Untuk Warga dan Daerah

Di balik kesederhanaan warga KTH SWAM, tersimpan tekad yang besar. Mereka tak ingin lagi menjadi penonton dalam pembangunan. Lewat dukungan CDK II Manokwari Selatan dan Dinas Kehutanan, mereka belajar menyusun dokumen kelembagaan, mengelola budidaya, hingga memasarkan hasil.

“Ini bukan sekadar proyek. Ini kehidupan kami,” ujar salah satu anggota KTH, sambil menunjukkan semangatnya di ladang nilam yang baru saja ditanami.

Langkah Dinas Kehutanan Papua Barat mengembangkan model usaha Hutan Rakyat melalui HHBK dan kelembagaan KTH adalah bentuk transformasi paradigma. Hutan tak lagi dilihat semata sebagai komoditas kayu, tetapi sebagai sistem ekologis dan sosial yang saling menopang.

Kini, aroma sereh dan nilam mulai menguar dari kebun-kebun kecil warga Oransbari. Dari hutan, kehidupan baru bertunas. Dan dari tangan-tangan petani hutan yang gigih, lahirlah kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.

Papua Barat, dari hutannya, menunjukkan bahwa pembangunan bisa berakar dari bumi, dan menjulang ke masa depan yang lebih hijau dan manusiawi.
(MA/Kadate – Inspirasi Papua)


Versi berita dalam bahasa Inggris:


Community Forest Groups and Non-Timber Forest Products Boost Local Revenue: West Papua Forestry Department Develops Community-Based Forest Enterprise Model

 

Report by: M. Ahmad | KADATE – Inspirasi Papua
SOUTH MANOKWARI — From the dense tropical rainforests of West Papua, a new ray of hope is emerging. Not from towering trees alone, but from humble forest plants like wild nutmeg, patchouli, and citronella—once overlooked, now becoming the region’s economic champions.

On Thursday, July 3, 2025, a significant milestone was achieved in the journey of community-based forestry in Papua. In Oransbari Village, Oransbari District, South Manokwari Regency, the West Papua Provincial Forestry Department, together with the SWAM Community Forest Group (KTH), carried out the first ceremonial planting of patchouli and citronella—two promising non-timber forest products (NTFPs) now central to the region’s economic development.

That same day also marked the symbolic handover of local revenue (PAD) generated from a unique product: massage oil made from wild nutmeg, processed by local communities under the management of Forest Management Unit II (CDK II) South Manokwari.

From Wild Nutmeg to Regional Income

The PAD was officially handed over by Jimmy Ido Kambu, Head of Forest Planning and Utilization Section at CDK II South Manokwari and member of the West Papua Forestry PAD Acceleration Team, to the Head of the West Papua Forestry Department, Jimmy Susanto.

“This massage oil made from wild nutmeg is not only a competitive local product, but it has also made a tangible contribution to regional income. This shows that NTFPs can be economic drivers if managed properly,” said Jimmy Ido Kambu.

What once began as a small-scale, home-based production by local communities is now evolving into a standardized, value-added product that creates local jobs and fuels the micro-economy in forestry.

Patchouli and Citronella: The Future from the Grassroots

On the land managed by KTH SWAM, the community gathered with high spirits—not just to plant, but to cultivate a new hope. A hope that forests, without being felled, could provide a sustainable livelihood.

Jimmy Susanto praised the initiative and underscored its potential.

“The cultivation of patchouli and citronella is highly promising as they produce essential oils with a large market, including export potential. We welcome this initiative and will continue to support it,” he said.

He further emphasized the government’s commitment to strengthening KTH SWAM through the provision of distillation equipment, processing facilities, warehouses, drying stations, and nurseries. The aim is to establish KTH SWAM as a replicable model for other community forest institutions across the region.

“We want to show that forests are not just about timber. With proper management, NTFPs like nutmeg, patchouli, and citronella can become sources of income for communities while also contributing to local revenue. This is real, sustainable social forestry,” Jimmy added.

From the Forest, For the People and the Region

Behind the modesty of the KTH SWAM members lies a deep resolve. They no longer want to be bystanders in the development process. With the support of CDK II and the provincial forestry office, they’ve learned to organize, cultivate, and market forest products.

“This is not just a project. This is our livelihood,” said one member proudly, standing in the newly planted patchouli field.

The West Papua Forestry Department’s initiative to develop a community-based forest business model through NTFPs and strong local institutions marks a shift in paradigm. Forests are no longer viewed solely as timber reserves, but as dynamic ecosystems that support life and livelihoods.

Today, the scent of patchouli and citronella rises from the small farms of Oransbari. From the forest, a new life takes root. And through the hands of determined forest farmers, a real contribution is made to sustainable regional development.

From West Papua’s forests, the future is green—and full of promise.
(MA/Kadate – Inspirasi Papua)


www.inspirasipapua.id

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *