Views: 157
Selangkah Lagi, Layanan Cuci Darah Hadir di Bintuni: Visitasi PERNEFRI Rampung, Kemenkes Dijadwalkan Turun Usai Lebaran
BINTUNI, PAPUA BARAT – Harapan pasien gagal ginjal di Teluk Bintuni untuk menjalani cuci darah tanpa harus meninggalkan keluarga dan kampung halaman kini semakin nyata.
Unit Dialisis RSUD Teluk Bintuni tinggal menunggu satu tahapan akhir sebelum resmi beroperasi, yakni visitasi dari Kementerian Kesehatan RI yang ditargetkan berlangsung setelah Lebaran tahun ini.
Sebelumnya, tahapan awal telah dilalui melalui visitasi dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) Wilayah Papua Barat, Sabtu (21/2/2026).
Visitasi dilakukan oleh dr. Nasrum Machmud, Sp.PD, K-GH, yang tiba di Bintuni pukul 12.00 WIT dan langsung melakukan pertemuan bersama manajemen RSUD serta Dinas Kesehatan sebelum meninjau langsung fasilitas.
Kegiatan tersebut dihadiri Plt Direktur RSUD Teluk Bintuni dr. Novita Panggau, Sp.PD, drg. Jemi Tubung, M.Biomed, Sp.PD selaku Ketua Tim Hemodialisis, dr. Johanes Risamasu, M.Kes, Sp.PK selaku Kepala Unit Transfusi Darah, Sekretaris Dinas Kesehatan Teluk Bintuni Semuel Manibuy, SKM, para kepala bidang di lingkup Dinas Kesehatan, serta dokter dan staf Unit Dialisis.
Bukan Sekadar Izin, Tapi Jaminan Keselamatan Pasien
Dalam arahannya, dr. Nasrum menekankan bahwa Hemodialisis (HD) bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi.
“Yang dinilai bukan hanya dokumen, tetapi kesiapan infrastruktur, standar operasional, SDM, hingga bagaimana menjamin keselamatan dan kualitas terapi pasien,” tegasnya.
Usai pemaparan profil rumah sakit oleh dr. Novita, tim melakukan peninjauan lapangan mulai dari UGD hingga ruang Hemodialisis yang berdampingan dengan ruang operasi. Penilaian mencakup alur pasien dari UGD maupun rawat jalan, kesiapan tenaga medis, sistem penyimpanan obat, jarak antar tempat tidur pasien, hingga instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Hasil visitasi kemudian dibahas dalam pertemuan evaluasi singkat di Aula RSUD. Sejumlah masukan teknis diberikan untuk segera ditindaklanjuti sebelum memasuki tahap visitasi akhir dari Kemenkes.
Tinggal Menunggu Izin Operasional
Plt Direktur RSUD Teluk Bintuni, dr. Novita Panggau, menjelaskan bahwa rekomendasi dari PERNEFRI menjadi syarat utama sebelum tim Kemenkes turun melakukan visitasi final.
“Kami sudah berproses dalam sistem OSS pusat dengan mengunggah seluruh dokumen yang dibutuhkan. Unit, SDM, bahan habis pakai, serta obat-obatan sudah siap. Begitu izin operasional terbit, pelayanan Hemodialisis bisa langsung berjalan,” ujarnya.
RSUD Bintuni saat ini telah menyiapkan empat unit mesin Hemodialisis, dengan rencana penambahan melalui skema kerja sama operasional serta pengembangan ruangan di masa mendatang.
Mendesak dan Sangat Dibutuhkan
Kehadiran Unit Dialisis di Bintuni dinilai sangat mendesak. Sepanjang 2025 tercatat sekitar 46 pasien terindikasi gagal ginjal. Sementara Januari hingga Februari 2026 saja sudah ada 9 pasien baru yang membutuhkan terapi cuci darah.
Selama ini pasien harus menjalani cuci darah di Manokwari bahkan di luar Papua. Karena terapi dilakukan rutin dan berkelanjutan, banyak pasien terpaksa menetap di luar daerah, mengeluarkan biaya besar, serta meninggalkan keluarga dan pekerjaan.
“Cuci darah bukan tindakan sekali selesai. Ini terapi pengganti fungsi ginjal yang harus dilakukan terus-menerus. Karena itu, layanan ini sangat dibutuhkan masyarakat,” jelas dr. Novita.
Dengan segala kesiapan yang telah dilakukan, masyarakat Teluk Bintuni kini menanti visitasi akhir dari Kementerian Kesehatan sebagai penentu lahirnya layanan cuci darah pertama di daerah tersebut.
Jika izin terbit, maka babak baru pelayanan kesehatan spesialistik akan resmi dimulai di Papua Barat—mendekatkan harapan, sekaligus menyelamatkan lebih banyak nyawa.
(MA/Inspirasi Papua)













