Views: 243
Merajut Damai di Tanah Leluhur: Komisopa dan Fosa Duduk Bersama di Tofoi
BINTUNI — Di sebuah balai sederhana di Kampung Tofoi, Distrik Sumuri, puluhan tokoh adat, pemimpin daerah, dan masyarakat adat Sumuri berkumpul. Dua hari penuh, 28–29 Agustus 2025, mereka duduk bersama, berdiskusi, mendengar, dan menimbang hati. Bukan sekadar rapat, tetapi sebuah upaya bersama untuk merajut kembali benang persaudaraan yang sempat kusut di antara marga Komisopa dan Fosa.
Suasana hening saat Ketua LMA Sumuri, Tadius Fosa, menyampaikan pesan adatnya. Dengan suara penuh wibawa, ia mengingatkan bahwa jalan terbaik untuk menyelesaikan perbedaan adalah kembali pada akar: adat.
“Kami menyerukan agar semua pihak bergandeng tangan untuk menyelesaikan persoalan dan membangun keharmonisan,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya menghargai warisan leluhur.
Bagi masyarakat Sumuri, tanah bukan sekadar ruang hidup. Ia adalah bagian dari identitas, darah, dan napas yang diwariskan turun-temurun. Karena itu, setiap persoalan tapal batas adat tidak bisa diputuskan begitu saja, melainkan harus melalui musyawarah, ritus, dan kesepakatan bersama.
Pemimpin Datang Mendengar
Tak hanya tokoh adat, pemerintah daerah pun hadir menyimak langsung. Bupati Teluk Bintuni, Yohanis “Anisto” Manibuy, memimpin jalannya pertemuan. Baginya, forum di Tofoi adalah wujud nyata kehadiran negara yang mau mendengar suara rakyatnya.
“Kami datang ke Tofoi distrik Sumuri bukan membawa keputusan sepihak, tapi mendengar langsung lewat forum mediasi, agar lahir solusi bersama untuk 19 marga Suku Sumuri,” kata Anisto.
Bupati juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada masyarakat adat Sumuri yang tetap setia menjaga wilayah ulayat mereka meski zaman berubah.
“Penghargaan sebesar-besarnya, karena masyarakat adat sampai hari ini masih merawat tanah leluhur dengan komitmen dan kecintaan yang besar,” ucapnya.
Migas dan Harapan Baru
Sumuri bukan hanya tanah adat, tapi juga tanah kaya sumber daya minyak dan gas bumi. Kehadiran perusahaan pengelola migas di wilayah itu tentu membawa harapan sekaligus tantangan.
Bupati menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen memastikan aktivitas perusahaan memberi manfaat nyata bagi masyarakat adat.
“Kami yakin, kegiatan perusahaan di daerah ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat Sumuri,” ujarnya.
Komitmen itu, kata Bupati, sudah dituangkan dalam berbagai regulasi, mulai dari Perda Nomor 1 Tahun 2019 tentang pengakuan dan perlindungan masyarakat adat, hingga Perbup Nomor 15 Tahun 2023 tentang tanah ulayat masyarakat adat. Peraturan ini menjadi dasar hukum agar masyarakat adat tidak sekadar penonton, melainkan bagian penting dari pembangunan.
Suara dari Kampung
Bukan hanya tokoh adat dan pejabat yang bicara. Suara masyarakat kecil pun turut hadir. Seorang mama asal Tofoi, Maria Komisopa, dengan mata berkaca-kaca menyampaikan harapannya:
“Kami hanya mau hidup damai. Tanah ini tempat kami tanam sagu, tempat anak-anak kami cari ikan. Jangan sampai anak cucu kami nanti saling jauhi hanya karena batas tanah.
Seorang pemuda Sumuri, Yohan Fosa, juga menambahkan bahwa sebagai generasi muda ingin lihat persaudaraan tetap kuat. “Kalau ada masalah, duduk bicara baik-baik, jangan sampai pecah jadi permusuhan,” tuturnya.
Kata-kata sederhana dari masyarakat itu seolah menjadi inti dari pertemuan Tofoi: bahwa damai lebih berharga daripada kemenangan sepihak.
Damai untuk Generasi Mendatang
Pertemuan di Tofoi tak berhenti pada simbol. Dinas Pertanahan dan Lingkungan Hidup (DPLH) Kabupaten Teluk Bintuni turut memberikan sosialisasi tentang pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat dalam bingkai NKRI. Pesannya jelas: pembangunan akan bermakna jika sejalan dengan nilai adat dan martabat leluhur.
Ketua MRPB, Judson F. Waprak, Ketua DPRK, Romilus Tatuta, hingga Kapolres Teluk Bintuni AKBP Hari Sutanto, S.I.K dan Dandim 1806 Teluk Bintuni Letkol Inf Teguh Eko Efendi, Asisten II Ir. I.B. Putu Suratna, MM serta dari Dinas PLH diwakili Kepala Bidang Pemanfaatan Tanah Ancie Notanubun, S.H semua duduk bersama dalam forum itu. Mereka tidak hanya hadir sebagai pejabat, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar yang ingin melihat Sumuri tetap harmonis.
Akhirnya, pertemuan di Tofoi menjadi simbol bahwa dialog, penghormatan, dan kebersamaan masih menjadi jalan utama bagi masyarakat Papua Barat. Komisopa dan Fosa diajak bukan hanya untuk menyelesaikan sengketa hari itu, tetapi juga untuk memberikan warisan damai bagi generasi berikutnya.
Di tanah yang subur dengan minyak dan gas, masyarakat Sumuri justru percaya bahwa kekayaan terbesar mereka bukanlah sumber daya alam, melainkan persaudaraan yang utuh.
(Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)











