Views: 167
Bangkitkan Pendidikan, Bangun Masa Depan: SMP Advent Teluk Bintuni Didirikan
https://vt.tiktok.com/ZSBVMjQvV/
Laporan: Tim Redaksi KADATE | Inspirasi Papua
BINTUNI, 11 Juli 2025 — Di bawah langit yang cerah dan angin lembut yang bertiup pelan dari Distrik Manimeri, sekelompok orang berdiri mengelilingi sebidang tanah merah yang belum lama diratakan. Di antara mereka, ada tokoh masyarakat, para pemimpin gereja, pejabat daerah, dan anak-anak kecil yang sesekali tersenyum malu-malu dari balik kaki orang dewasa.
Hari itu, sebuah batu pertama diletakkan. Tapi sesungguhnya, bukan hanya batu yang ditanam. Di tanah Idut SP4-Banjar Ausoy, harapan dan doa juga ditanam bersama debu dan semen, menandai awal pembangunan SMP Kristen Advent Teluk Bintuni.
Sebuah Awal yang Sederhana, Tapi Tidak Biasa
Acara peletakan batu pertama itu sederhana, tanpa kemewahan. Namun, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan, seolah seluruh yang hadir paham bahwa mereka sedang menyaksikan sebuah titik balik. Di balik tenda-tenda kecil yang dipasang, senyum dan pelukan menjadi simbol bahwa ini bukan sekadar proyek fisik—ini adalah proyek hati dan iman.
Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, datang langsung pada acara tersebut. Ia berjalan pelan, menyapa satu per satu tokoh gereja dan masyarakat, sebelum akhirnya berdiri di podium kecil, memberi sambutan dengan suara tenang namun penuh keyakinan.
“Tanpa pendidikan yang baik, kita tidak bisa berharap lahir generasi yang mampu membawa perubahan,” ucapnya.
Kata-katanya singkat, namun terasa dalam. Di matanya, sekolah ini bukan hanya soal dinding dan atap, tapi tentang anak-anak yang suatu hari akan menulis masa depan Bintuni dengan pena bernama karakter, iman, dan pengetahuan.
Pendidikan: Membangun Lebih dari Sekadar Gedung
Bupati Yohanis mengingatkan bahwa pendidikan adalah pondasi yang membentuk bangsa, dan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya bisa tercapai jika karakter generasi mudanya kuat.
“Sekolah ini bukan hanya tempat belajar menghitung atau membaca. Tapi tempat mengembalikan citra Allah dalam diri manusia, melalui pendidikan yang membentuk hati, keterampilan, dan semangat pelayanan,” katanya.
Ia pun menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pendiri sekolah, panitia pembangunan, dan seluruh jemaat GMAHK yang telah bersama-sama mewujudkan impian ini.
“Hari ini kita menanam lebih dari batu. Kita menanam harapan, komitmen, dan iman kita terhadap pendidikan di tanah ini,” ucap Bupati, disambut tepuk tangan hangat.
Di Antara Jemaat dan Anak-Anak
Di antara tamu-tamu penting, hadir pula anak-anak kecil, beberapa memakai seragam putih-merah SD, yang mungkin belum sepenuhnya paham makna acara hari itu. Tapi wajah mereka menyimpan rasa ingin tahu—mereka mungkin belum tahu bahwa yang sedang dibangun adalah tempat mereka menata masa depan.
“Kalau sekolah ini sudah jadi, saya mau sekolah di sini. Biar dekat dari rumah,” ujar salah satu bocah 11 tahun yang tinggal tak jauh dari lokasi.
Di sela-sela acara, jemaat Advent menyanyikan lagu pujian. Suaranya merdu, kadang menggema, kadang lirih seperti doa. Di situlah terasa bahwa ini bukan proyek pemerintah semata, tapi juga perjalanan rohani seluruh komunitas yang percaya bahwa iman dan ilmu harus berjalan beriringan.
Kolaborasi yang Menyatu dalam Semangat
Hadir pula sejumlah pejabat daerah, termasuk Forkopimda, Ketua DPRK Teluk Bintuni Romilus Tatuta, SE, dan Ketua Komisi A DPRK Ma’dika, S.Pd, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Hendrik Kapuangan. Tak ketinggalan para pimpinan OPD, pemuka gereja Klasis GMAHK, panitia pembangunan, serta masyarakat sekitar.
Acara dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan laporan panitia, sambutan dari tokoh-tokoh penting, dan ditutup dengan doa bersama. Di sela-sela kegiatan, banyak warga yang saling berbincang, membicarakan impian mereka tentang bagaimana sekolah ini kelak akan menjadi pusat pendidikan yang melahirkan anak-anak yang takut akan Tuhan, terampil, dan mampu bersaing.
Dari Batu Pertama, Menuju Generasi Emas
Bupati Yohanis mengajak seluruh elemen untuk mendukung pembangunan ini dengan sepenuh hati, karena menurutnya setiap batu bata, setiap adukan semen, dan setiap tenaga yang dikerahkan adalah persembahan terbaik bagi Tuhan dan anak-anak Teluk Bintuni.
“Saya percaya, sekolah ini akan menjadi pusat pembentukan karakter yang kokoh. Dan dari tempat ini, akan lahir generasi emas yang akan membawa perubahan besar untuk Papua Barat dan Indonesia,” tuturnya menutup sambutan.
Hari itu ditutup dengan doa bersama. Tapi di hati banyak orang, sesuatu baru saja dimulai.
Sebuah Catatan Kecil untuk Masa Depan
Membangun sekolah di daerah seperti Teluk Bintuni bukan perkara mudah. Tapi di balik keterbatasan, ada tekad. Di tengah kesederhanaan, ada harapan. Di Idut SP4-Banjar Ausoy, batu pertama telah diletakkan—dan di atasnya, satu per satu impian akan disusun menjadi kenyataan.
Sekolah ini belum selesai. Tapi semangat untuk menyelesaikannya sudah lebih dari separuh jalan. Karena yang membangun bukan hanya tukang, tapi seluruh hati yang percaya bahwa pendidikan adalah jembatan menuju masa depan.
Dari sebuah peletakan batu, dimulailah perjalanan panjang menuju generasi Teluk Bintuni yang cerdas, beriman, dan penuh semangat membangun bangsanya. ***













