Gedung ATM Dinkes Bintuni Direncanakan Akan Diresmikan Pada Minggu Kedua Bulan Desember

Bagikan berita ini

Visits: 51

Gedung ATM Dinkes Bintuni Direncanakan Akan Diresmikan Pada Minggu Kedua Bulan Desember

BINTUNI, InspirasiPapua,id- Gedung Aids, Tuberclose dan Malaria (ATM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Teluk Bintuni akan diresmikan pada minggu kedua bulan Desember 2022.

Dimana sebelumnya Gedung ATM tersebut direncanakan akan diresmikan pada tanggal 12 November 2022 bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional Ke-58 namun karena suatu dan lain hal maka peremian gedung ATM tersebut diundur.

“Karena ada beberapa hal yang belum  terpasang seperti papan nama, meubeler belum masuk ke gedung.

Sehingga kita berharap pada bulan Desember 2022 ini papan nama sudah terpasang serta meubeler sudah masuk agar gedung ATM tersebut bisa diresmikan pada awal atau minggu kedua Desember 2022,” ungkap Kepala dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni Franky D. Mobilala, SKM, M.Kes kepada media ini beberapa waktu lalu saat ditemui di ruang kerjanya di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni di Kilo-06 distrik Bintuni.

Selainm itu Kepala Dinas Kesehatan itu juga menjelaskan bahwa pihak Dinas Kesehatan Kabupatenj Teluk Bintuni akan bekerja sama dengan Batalion dan Brigif Teluk Bintuni untuk mengatasi masuknya malaria di Batalion dan Berigif.

“Sebab di Batalion dan Brigif memiliki pasuikan yang cukup banyak yang sebagaian besar datang dari luar Bintuni sehingga perlu adanya kerja sama agar malaria dari luar yang masuk ke Bintuni itu tidak terjadi ledakan.

Adapun bentuk kerja sama kita yaitu kami dari Dinas Kesehatan Teluk Bintuni memberikan pelatihan kepada dokter dan tenaga medis yang ada di Batalion maupun Brigif. Dan pelaksanaannya mereka yang lakukan.

Dimana kita juga sudah memberikan support atau dukungan kepada mereka dengan memberikan obat-obatan dan semuanya kita tanggung.

Kemujdian tiap bulan nanti yang kita minta dari mereka hanya laporan data untuk kita bisa ikuti perkembangan malaria yang ada di Batalion maupun di Brigif tersebut,” terang Mobilala.

Franky Mobilala juga menyebutkan bahwa Kabupaten Teluk Bintuni soal bebas malaria sudah dilambung kabupaten Sorong Selatan.

“Dimana seharusnya kabupaten yang bebas malaria lebih dulu adalah Bintuni. Tetapi akhirnya kabupatenh Sorong Selatan dapat melambung kita Bintuni.

Dimana Kabupaten Sorong Selatan dari Komisi Nasional sudah mendapatkan rekomendasi bahwa satu-satunya kabupaten di Tanah Papua yang sudah bebas Malaria.

Dan ini menjadi pukulan berat bagi saya selaku Kepala Dinas sebab saya yang pelopornya seharusnya saya duduk sebagai kepala dinas saya yang harus berusaha agar Bintuni yang diluan bebas malaria,” tutur Mobilala.

Kepala Dinas Teluk Bintuni itu juga mengungkapkan bahwa sebanarnya strategi Eliminasi Malaria di Papua Barat itu isinya EDAT tetapi namanya mereka tidak memakai EDAT tetapi “Belah Kampung”.

Semua sudah tahu bahwa Bintuni yang akan bebas malaria diluan. Tetapi karena ada faktor lain kenapa Teluk Bintuni belum juga bebas malaria karena kabupaten ini diapit oleh sembilan kabupaten  dan kota dimana kita diserang dari kiri kanan dan dari luar.

Sehingga saya berharap suatu waktu kita ada Perda yang mengatur setiap orang yang datang dari luar dan masuk ke Bintuni mereka wajib kita periksa.

Sehingga kita bisa tahu sejal awal orang yang datang ke Bintuni itu bebas malaria atau membawa malaria. Kasus malaria tertinggi di Bintuni terdapat di 5 wilayah yang masuk dari luar dan kasus tertinggi itu dari Jayapura.

Kelima wilayah tersebut yaitu Bintuni, Manimeri, Muturi, Tembuni serta Tirasai yaitu kasus malaria yang dbawa dari perambah-perambah hutan yaitu mereka yang kerja sawmill, pekerja jembatan.

Sehingga kita juga bekerja sama dengan  Dinas Kehutanan untuk memeriksa mereka yang perambah hutan atau pekerja kayu.

Dan juga kita bekerja sama dengan Dinas PUPR agar mereka yang datang dari luar bekerja jembatan di sini kita juga bisa periksa mereka setiap bulan,” tutur Mobilala.

Kepala Dinas Kesehatan teluk Bintuni itu juga menambahkan bahwa dirinya baru saja melakukan seminar dengan Ikatan dokter Indonesia (IDI) yang ada di kabupaten Teluk Bintuni.

“Dimana dalam arahannya pada saat membuka Seminar dirinya meminta bantuan para anggota IDI Teluk Bintuni untuk bekerja sama memberantas dan menangani malaria karena kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri.

Dulu kita bekerja sama sehingga kita bisa menjuarai inovasi pelayanan publik tingkat dunia di Maroko. Itu karena adanya kerja sama yaitu keteribatan kader, keterlibatan kepala-kepala kampung, keterlibatan kepala distrik dan lain-lain.

Sehingga diharapkan di tahun 2023 kita menyusul Kabupaten Sorong Selatan juga bisa bebas malaria atau eliminasi malaria,” pungkasnya. (01-IP)

About Post Author

banner x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *