Views: 2
Gotong Royong Warga Jawa, Pendopo Pakuwojo Jadi Simbol Persatuan di Bintuni
BINTUNI, PAPUA BARAT — Semangat kebersamaan dan gotong royong kembali menemukan wujud nyatanya di Teluk Bintuni. Pendopo Paguyuban Keluarga Wong Jowo (Pakuwojo) kini berdiri megah di Kampung Awarepi, Distrik Bintuni, menjadi simbol kuat persatuan warga Jawa di tanah perantauan.
Pendopo bercorak arsitektur tradisional Jawa itu dibangun secara bertahap pada 2017 hingga 2018. Ketua Pakuwojo, Syamsul Huda, menegaskan bahwa keberadaan bangunan tersebut lahir dari kekuatan kolektif masyarakat, bukan semata bantuan pihak tertentu.
“Lahan ini kami beli dari hasil iuran bersama. Semua anggota berkontribusi secara sukarela. Bahkan ada warga yang menghibahkan sebagian lahannya tanpa ingin disebutkan namanya. Ini bukti nyata kalau kebersamaan bisa melahirkan sesuatu yang besar,” ujar Syamsul Huda saat ditemui, Rabu (6/5/2026).
Total lahan yang dimiliki mencapai 21 x 75 meter, ditambah hibah 10 x 20 meter serta perluasan dari kas organisasi. Sementara pembangunan fisik pendopo turut mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dan Pemerintah Provinsi Papua Barat.
Sebelum memiliki pendopo permanen, aktivitas paguyuban sempat berlangsung di kawasan Pasar Sentral Bintuni.
Namun, seiring bertambahnya anggota dan kegiatan, kebutuhan akan tempat yang lebih representatif menjadi hal mendesak.
Didirikan pada 5 Mei 2012, Pakuwojo hadir sebagai wadah pemersatu warga Jawa di perantauan. Organisasi ini tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga sarana menjaga nilai-nilai budaya, sosial, dan keagamaan.
Kini, pendopo tersebut menjadi pusat berbagai aktivitas, mulai dari pertemuan warga, kegiatan sosial, pelestarian budaya, hingga kegiatan keagamaan yang memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan.
“Ini bukan sekadar bangunan. Pendopo ini tempat kami menjaga budaya dan menanamkan nilai kepada generasi muda. Ini warisan yang harus dirawat bersama,” kata Syamsul.
Ke depan, Pakuwojo berencana memanfaatkan sisa lahan untuk pengembangan kegiatan pemuda. Fokusnya adalah membuka ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan minat dan bakat, baik di bidang seni, olahraga, maupun keterampilan.
“Kami ingin anak-anak muda punya ruang positif untuk berkembang. Pakuwojo harus jadi tempat pembentukan karakter, bukan hanya tempat berkumpul,” tambahnya.
Syamsul juga menyampaikan apresiasi kepada para pendiri, anggota, pemerintah, dan seluruh pihak yang telah berkontribusi. Ia berharap Pakuwojo terus menjadi jembatan persaudaraan, tidak hanya bagi warga Jawa, tetapi juga masyarakat luas di Teluk Bintuni.
“Kebersamaan adalah kekuatan kita. Dari sini, kita bisa terus memberi kontribusi nyata bagi daerah,” harap Huda.
***(MA/Inspirasi Papua)***













