665 Tahun Islam di Tanah Papua: Damai yang Terus Bersemi di Teluk Bintuni

Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, diwakili salah satu Tokoh Muslim Bintuni Dr. Drs. H. Haris Tahir Kaitam, M.Si sat berfose dengan forkopimda, tokoh masyarakat serta tokoh agama dan tokoh adat saat memperingati 665 Tahun Islam di Tanah Papua, 8 Agustus 2025. Islam membawa kedamaian serta kerukunan antar umat bergama dan persatuan di kabupaten Teluk Bintuni. (ist/Kadate/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 138

665 Tahun Islam di Tanah Papua: Damai yang Terus Bersemi di Teluk Bintuni

 

Laporan : Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua

BINTUNI – Langit sore, Jumat (8/8/2025), menyimpan cerita yang tak sekedar menjadi bagian dari kalender peringatan. Di Aula Kantor Majelis Muslim Indonesia (MUI) Teluk Bintuni, masyarakat berkumpul—tua, muda, laki-laki, perempuan—dengan wajah penuh senyum, menyambut momentum 665 tahun masuknya Islam di Tanah Papua.

Yang hadir tak hanya umat Muslim. Warga lintas agama pun duduk berdampingan, menjadi saksi bahwa perjalanan Islam di Papua sejak abad ke-14 adalah kisah damai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, diwakili salah satu Tokoh Muslim Bintuni Dr. Drs. H. Haris Tahir Kaitam, M.Si saat membacakan sambutannya, menegaskan bahwa Islam hadir di tanah ini bukan lewat senjata, melainkan melalui dakwah, perdagangan, dan pernikahan.

“Momentum ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah penghargaan terhadap sejarah panjang dakwah Islam di tanah Papua. Sebuah jejak peradaban yang memberi warna besar bagi kehidupan sosial, budaya, dan spiritual kita di Teluk Bintuni,” ujarnya.

Ia mengingatkan, para mubaligh, ulama, dan leluhur telah menanamkan nilai rahmatan lil ‘alamin—Islam yang membawa kedamaian, toleransi, dan persaudaraan lintas suku-agama.

“Nilai-nilai inilah yang harus kita jaga dan tanamkan kepada generasi muda. Kita jadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan,” tambahnya.

Kearifan Lokal: “Agama Keluarga”

Di Teluk Bintuni, ada filosofi yang diwariskan leluhur: “Agama keluarga”. Sebuah cara pandang bahwa berbeda keyakinan tak menghapus hubungan kekeluargaan. Dalam satu rumah, bisa ada yang Muslim, Kristen, atau Katolik—namun tetap saling menjaga.

Bupati Yohanis menegaskan komitmen pemerintah untuk merawat nilai itu. Pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga pembentukan karakter dan harmoni sosial. Dalam RPJMD 2025–2029, salah satu fokus utama adalah membentuk masyarakat yang sehat, energik, religius, dan andal menuju “Teluk Bintuni Smart dan Inovatif”.

Agama sebagai Penopang Persatuan

Ia mengajak Majelis Ulama Indonesia, organisasi Islam, dan semua tokoh agama untuk bersama-sama menanamkan nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika nilai agama benar-benar diterapkan, akan lahir individu yang lebih baik, masyarakat harmonis, dan lingkungan yang positif. Dari situ, kedamaian dan kesejahteraan akan tumbuh,” kata Bupati Yohanis.

Suasana sore itu menjadi bukti nyata bahwa apa yang diucapkan bukan sekadar retorika. Anak-anak berlarian sambil tersenyum, para tokoh agama duduk berdampingan, dan bendera Teluk Bintuni berkibar di samping simbol-simbol keagamaan.

Di tengah dunia yang kadang diwarnai perpecahan, Teluk Bintuni memilih untuk mengingat sejarah dengan cara terbaik: menebarkan damai, merawat toleransi, dan menjaga persaudaraan—seperti yang telah dilakukan leluhur 665 tahun lalu. ***

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *