Potret: Laurensius Nasira, Anak Irarutu Teluk Bintuni yang Bangkit Bersama P2TIM

Caption Foto: Laurensius Nasira, anak asli tujuh suku Teluk Bintuni dari suku Irarutu, menatap masa depan dengan keyakinan baru usai menempuh pendidikan di P2TIM Teluk Bintuni. Dari Tanah Sisar Matiti, ia membuktikan bahwa pendidikan mampu mengubah mental, sikap, dan harapan hidup—menjadi langkah nyata anak Papua bangkit dan berdaya saing di negeri sendiri. (ist/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 52

Dari Irarutu ke P2TIM: Laurensius Nasira Bangkitkan Harapan Anak Tujuh Suku Teluk Bintuni

 

BINTUNI, PAPUA BARAT — Tekad untuk mengubah masa depan keluarga dan tanah kelahirannya mengantarkan Laurensius Nasira, anak asli tujuh suku Teluk Bintuni dari rahim suku Irarutu, menapaki jalan baru melalui pendidikan di Pusat Pelatihan Teknik Industri Minyak dan Gas (P2TIM) Teluk Bintuni.

Berasal dari latar belakang sederhana, Laurensius datang ke P2TIM dengan satu keyakinan kuat: pendidikan adalah kunci perubahan. Hanya dalam waktu tiga hingga empat bulan mengikuti pendidikan dan pelatihan intensif, ia mampu berbahasa Inggris dengan lancar—sebuah capaian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“P2TIM mengubah cara berpikir saya, mengubah mental dan sikap hidup saya,” ujar Laurensius dengan mata berbinar.

Sebagai siswa Angkatan ke-19 P2TIM, Laurensius mengaku sangat bersyukur mendapat kesempatan belajar di lembaga pelatihan kebanggaan Teluk Bintuni itu. Menurutnya, meski waktu pendidikan terbilang singkat, kualitas pembelajaran yang diberikan sangat luar biasa—mulai dari pengetahuan, keterampilan (skill), hingga pembentukan sikap dan etika kerja (attitude).

Lebih dari sekadar tempat belajar, P2TIM menjadi ruang pembentukan karakter. Fasilitas pendidikan yang memadai, kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, serta para trainer yang profesional, hebat, dan rendah hati membuat proses belajar terasa bermakna.

Yang paling membanggakan, seluruh proses pendidikan di P2TIM gratis, sejak masuk hingga selesai. Sebuah peluang emas yang, menurut Laurensius, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh anak-anak asli Teluk Bintuni.

Ia pun mengajak seluruh saudara dari tujuh suku di Teluk Bintuni untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Jangan kita hanya jadi penonton di atas tanah kita sendiri dengan kekayaan sumber daya alam yang ada,” pesannya penuh semangat. “Mari kita jadi pembawa perubahan di Tanah Sisar Matiti ini.”

Laurensius juga menyampaikan terima kasih kepada Petrotekno selaku pengelola P2TIM, serta Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni yang telah membuka ruang dan peluang besar bagi generasi muda Papua untuk mengenyam pendidikan berkualitas.

Kisah Laurensius Nasira menjadi potret harapan—bahwa dengan tekad, kesempatan, dan pendidikan yang tepat, anak-anak Papua mampu bangkit, berdaya saing, dan menjadi tuan di negeri sendiri. (MA/Inspirasinya Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *