Bupati Bintuni Anisto Ajak GKI Jadi Pelayan Damai dan Keadilan

Bupati Teluk Bintuni, Yohanes ‘Anisto’ Manibuy, berpose bersama perwakilan peserta Raker IV GKI Klasis Teluk Bintuni usai menyematkan tanda peserta, kemudian menyampaikan sambutan penuh pesan damai dan keadilan yang mengajak gereja hadir bagi sesama. Suasana hangat raker tampak ketika peserta menyimak arahan Bupati Manibuy untuk memperkuat sinergi gereja dan pemerintah demi masyarakat yang rukun dan sejahtera. (ist/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 82

Bupati Teluk Bintuni Dorong GKI Jadi Agen Damai: Raker IV Teguhkan Pelayanan yang Lebih Peka dan Peduli

 

BINTUNI, PAPUA BARAT — Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, Klasis Teluk Bintuni, menggelar Rapat Kerja (Raker) IV di Gereja Eben Haezar SP5, Distrik Bintuni Timur, Rabu (3/12/2025). Pertemuan ini menjadi ruang bersama untuk meneguhkan kembali arah pelayanan gereja, sekaligus memperkuat sinergi di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Suasana kekeluargaan tampak hangat sejak pagi. Para pelayan, majelis, dan utusan jemaat berkumpul membawa semangat untuk membangun gereja yang kokoh, mandiri, dan relevan bagi masyarakat.

Bupati Manibuy: Gereja Harus Hadir sebagai Agen Damai dan Keadilan

Bupati Teluk Bintuni, Yohanes ‘Anisto’ Manibuy, S.E. ketika menghadiri Raker Klasis IV itu menegaskan bahwa gereja memiliki peran strategis tidak hanya sebagai lembaga rohani, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang berdampak nyata.

“Dunia yang kita diami saat ini penuh ketidakadilan, kekerasan, kerusakan lingkungan, dan kesenjangan kesejahteraan.

Gereja dipanggil untuk membawa damai, mengupayakan keadilan, dan menjaga ciptaan Tuhan,” ujar Bupati Anisto Manibuy.

Ia mengajak GKI menjadi komunitas yang kudus namun tetap membumi—menjadi sahabat bagi mereka yang membutuhkan terang Injil, serta hadir untuk menolong, menguatkan, dan memberi harapan.

Kasih Kristus sebagai Dasar Pelayanan Gereja

Raker IV tahun ini mengusung tema tentang jati diri gereja yang bersumber dari kasih Kristus. Kasih yang tidak berhenti di altar dan mimbar, tetapi bergerak ke jalan-jalan kampung, rumah penduduk, dan ruang-ruang kehidupan masyarakat.

Bupati Manibuy menekankan bahwa kasih Kristus harus mendorong gereja keluar dari zona nyaman.

“Kasih Kristus memanggil kita menjadi pelaku keadilan, penjaga perdamaian, dan penabur kesejahteraan di tengah masyarakat yang majemuk,” tegasnya.

Tema ini diharapkan menjadi fondasi yang menuntun gereja merancang program pelayanan yang lebih mandiri, tajam, dan menjawab pergumulan nyata umat.

Gereja dan Pemerintah: Mitra dalam Membangun Masyarakat

Pemerintah Daerah, jelas Manibuy, memberi apresiasi tinggi atas pelaksanaan Raker IV itu.

Menurutnya, forum ini penting untuk menyelaraskan langkah pelayanan gereja dengan dinamika sosial di Teluk Bintuni.

Ia berharap keputusan-keputusan pelayanan yang dirumuskan dalam raker dapat memperkuat kemitraan strategis antara gereja dan pemerintah, khususnya dalam membangun masyarakat yang rukun, adil, dan sejahtera.

“Gereja harus menjadi terang Kristus yang menerangi daerah ini,” papar Bupati Manibuy.

Menata Ulang Kehidupan Bergereja yang Lebih Peka dan Peduli

Momentum Raker IV ini menjadi kesempatan bagi GKI Klasis Teluk Bintuni untuk menata ulang kehidupan bergereja—agar lebih peka terhadap kebutuhan sesama, lebih peduli terhadap lingkungan hidup, serta lebih aktif menyatakan kasih Allah dalam tindakan sehari-hari.

Gereja diharapkan tidak hanya berdiri untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi berkat bagi seluruh alam ciptaan dan masyarakat Papua.

Di akhir sambutannya, Bupati Yohanis Manibuy mengucapkan selamat menjalankan raker dan mendoakan agar GKI terus menjadi pilar damai, persatuan, dan kasih di Teluk Bintuni.

(MA/Inspirasi Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *