Masyarakat Kampung Suga Dan Kawab Sudah Lama Merindukan Dibangunnya Jalan Darat

Fritz Rohromana salah kontraktor lokal distrik Kaitaro dari kampung Suga saat menunjuk jalan dari distrik Kaitaro ke Suga dan jalan Trans Papua Barat sudah dibuka sejauh 18 KM. IP-IST
Bagikan berita ini

Visits: 11

BINTUNI, InspirasiPapua.idMasyarakat kampung Suga dan kampung Kawab distrik Kaitaro sudah sekian lama hidup menderita dalam keterisolasoian dan merindukan dibukanya kampung tersebut malalui jalan darat yaitu sejak distrik tersebut di mekakarkan pada tahun 2007 dari distrik induknya Babo.
Selama ini kedua kampung tersebut hidup dalam keterisolasian dan hanya dapat ditempuh melalui laut dengan menggunakan  Kapal Ketinting selama 7 sampai 8 jam ke ibu kota kabupaten di Bintuni. Sedangkan dengan longboat sekitar 5 jam. Sedangkan dengan speedboat kurang lebih 2,5 sampai 3 jam.
Dan sampai saat ini kampung Suga dan kampung Kawab tersebut ke kota Bintuni belum bisa dilalui jalan darat.
Tetapi ke Kaimana sudah tembus lewat jalan darat namun terkendala dengan status cagar alam atau hutan lindung sehingga jalan tersebut mandek di jalan Trans Papua Barat ke Kaimana.
Sehingga jalan tersebut tidak bisa diteruskan sampai sekarang ke Kaimana.
Salah satu tokoh muda asal kampung Suga Fritz Rohromana mengatakan bahwa selaku kontraktor lokal dirinya memiliki kepedulian tinggi terhadap kemajuan distrik Kaitaro terlebih khusus kampungnya sendiri yaitu Kampung Suga.
“Sampai saat ini saya sudah membuka jalan dari kampung Sara ibu distrik Kaitaro ke Suga dan Kawab sampai ke jalan Trans Papua Barat sejauh 18 kilo meter (KM) namun belum ada pengerasan sebab belum dibayar.
Sedangkan pembangunan jalan dari kampung Sara masuk ke ibu kota distrik Kaitaro sejauh 1,813 KM sampai ke Dermaga Kaitaro.
Fritz Rohromana salah kontraktor lokal distrik Kaitaro dari kampung Suga saat menunjuk jalan menuju Pelabuhan Kaitaro dari lokasi perkantoran distrik Kaitaro di Sara. IP-IST
Kalau pembangunan jalan beserta pengerasan dari kampung Sara masuk ke ibu kota distrik 1 KM dengan Land Celaring beserta bangunan rumah untuk persiapan ibu kota distrik Kaitaro itu baru masuk Rp. 20 Milyar dari Total Rp. 25 Milyar dari Dinas PUPR Teluk Bintuni,” ungkap Kontraktor Lokal Distrik Kaitaro Fritz Rohromana kepada wartawan belum lama ini saat dikonfirmasi di Distrik Kaitaro.
Fritz juga menjelaskan bahwa yang memotivasi dirinya untuk membangun jalan 18 KM dari Sara ibu kota distrik Kaitaro sampai ke kampung Suga dan Kawab hingga jalan Trans Papua Barat adalah waktu itu dirinya diberikan dana awal dari Dinas PUPR Kabupaten Teluk Bintuni sebesar Rp. 900 juta untuk membuka kampung Suga kemudian ditambah Rp. 3 Milyar.
“Maka dengan adanya dana tersebut   ini awal menjadi kesempatan saya menerobos jalan dari Suga masuk ke ibu kota distrik Kaitaro dan sekarang sudah tembus.
Waktu itu kami berharap dengan terbukanya jalan darat dari kampung Suga dan kampung Kawab ke ibu kota distrik Kaitaro di kampung Sara.
Sebab selama ini warga masyarakat kampung Suga dan kampung Kawab kalau mereka hendak ke ibu kota distrik Kaitaro di kampung Sara longboat yang masyarakat gunakan itu harus memutar dan itu sama saja menghabiskan BBM sama dengan kalau masyarakat Suga ke kota Bintuni yaitu menggunakan BBM sabanyak 190 liter kurang 10 liter sudah satu drum.
Harga BBM satu drum itu sebesar rp. 2,6 juta atau kurang lebih 2 drum atau Rp. 5 juta untuk pulang pergi.
Sementara kalau warga lewat jalan darat itu biayanya lebih murah dan pengeluaran tidak sebanyak itu. Sedangkan dari Suga ke Kaimana sudah terbuka apabila masyarakat menggunakan truk atau motor itu hanya 1,5 jam masyarakat sudah mencapai distrik Bofuwer Arguni Kabupaten Kaimana.
Namun jalan belum di tingkatkan atau pengerasan tetapi masih jalan tanah,” paparnya sembari menunjuk jalan darat dari ibu kota distrik Kaitaro menuju kampung Suga dan kampung Kawab serta Jalan Nasional Trans Papua Barat menuju Kaimana.
Rohromana juga berharap bahwa Balai Besar Pembangunan Jalan Trans Papua Barat yang ada di provinsi kalau bisa juga memberikan kesempatan kepada pihaknya selaku kontraktor lokal agar bisa bersama-sama dengan kontraktor dari luar melakukan pengerasan jalan Trans Papua Barat tersebut yang sudah terbuka.
“Sebab selama ini faktor utama yang dirindukan masyarakat Suga dan Kawab yaitu jalan transportasi darat. Sebab itu merupakan tulang punggung mereka untuk memasarkan hasil-hasil kebun dan laut ke Kaimana.
Selain itu mereka juga memerlukan perahu fiber untuk mencari kepiting, ikan dan lainnya untuk menghidupi keluarga mereka.
Sedangkan selama ini ketika mereka hendak pergi ke Kaimana untuk jual hasil pala mereka. Itu harus bermalam ditengah jalan dan tidak sedikit bunga pala atau hasil-hasil yang mereka bawa untuk jual di Kaimana itu rusak di tengah perjalanan.
Terkait hal itu saya minta pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi agar memberikan perhatian untuk pembangunan jalan di sana.
Dan saat ini meski kendaraan sudah bisa lewat tetapi kami berharap bisa ada pengerasan atau kedepan ada pengaspalan,” ujar Frits Rohromana yang juga akan mancalonkan diri menjadi anggota DPRD Teluk Bintuni Tahun 2024 dari partai PKB pimpinan Heri Ruban. (01-IP)

About Post Author

banner x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *