Bupati Tetapkan 14 Hari Tanggap Darurat Bencana Bintuni, Wakil Bupati Pimpin Tim Penanganan Bencana

Nampak Bupati Petrus Kasihiw saat memberikan arahan umum ketika memimpin rapat masalah penanganan bencana banjir di Tembuni dan Meyado. IP-IST
Bagikan berita ini

Visits: 3

BINTUNI, InspirasiPapua.idWakil Bupati Teluk Bintuni Matret Kokop, SH ditunjuk Bupati sebagai Ketua Tim Penanggulangan Bencana Tembuni dan Meyado.  Bupati Teluk Bintuni saat pimpin Rapat penanggulangan bencana banjir di kabupaten Teluk Bintuni, Selasa (26/07/2022) betermpat di ruang rapat Kantor Bupati Teluk Bintuni mengatakan bahwa dirinya sudah menandatangani surat pernyataan Tanggap Darurat Bencana di Tembuni dan Meyado selama 14 Hari kedepan.
Wakil Bupati Teluk Bintuni Matrret Kokop ditunjuk sebagai Ketua Tim Tanggap Darurat Penanganan Bencana Banjir di Tembuni dan Meyado. IP-IST
Dan menjadi fokus bagi Tim ke lapangan dalam rangka melihat kondisi masyarakat di dsitrik Tembuni serta distrik-distrik yang berdekatan seperti distrik Meyado yang juga terkena dampak bencana banjir.
Bupati Bintuni itu juga meminta agar tim yang sudah dibentuk agar segera menginventarisisir sarana dan prasarana dan logistik serta kedua tim segera membuat program kerja dan memberikan batas waktu rencana kerja 14 hari kedepan.
“Dan setelah 14 hari akan ditunjau kembali apabila kondisi belum bisa dipulihkan maka waktu status Tanggap Darurat Bencana untuk distrik Tembuni dan Meyado dan sekitarnya akan akan diperpanjang.
Dan dalam 14 hari apa yang dibuat dilokasi bencana banjir di Tembuni dan itu dibuat dalam rencana kerja.
Dan tanggap darurat ini kita mengikuti anjuran dari provinsi yaitu ditetapkan selama 3 bulan kedepan. Namun untuk tindakan reaksi cepat kita lakukan selama 14 hari. Dimana dasar hukum kita tanggap darurat kita laksanakan selama 14 hari agar operasional kita tetap dalam lega formal,” papar Bupati.
Bupati juga meminta agar kantor distrik Tembuni dijadikan Posko Utama dan meminta tim memasang dua tenda besar di halaman kantor distrik tersebut sebagai Posko darurat. Dan pilihan lainnya juga bisa Puskesmas lama di Tembuni dijadikan  Posko darurat.
Nampak pimpinan OPD di lingkup Pemkab Teluk Bintuni, Basarnas atau SAR saat mengikuti rapat masalah Tanggap Daruran Bencana Banjir bersama Bupati dan Wakil Bupati Teluk Bintuni. IP-IST
“Kita harus selalu berada diantara warga masyarakat yang terdampak bencana banjir selama Tanggap Darut Bencana diberlakukan. Jangan kita biarkan warga masyarakat korban banjir itu sendirian.
Kita juga perlu ada upaya-upaya psikologi agar trauma mereka bisa hilang maka kita harus menghibur mereka agar mereka tidak larut dalam kesedihan. Dan mereka selalu merasa bahwa ada pemerintah ditengah-tengah mereka,” ujar Bupati Bintuni.
Pada kesempatan itu Bupati juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BPBD, Basarna serta Dinas Kesehatan serta Dinas PUPR yang sdah turun melihat kondisi bencana banjir di Tembuni dan Yakora yang sudah mengabil langkah turun ke lapangan.
Dan semua yang dilakuan tersebut sudah sedikit banyak membantu masyarakat kita di daerah bencana. Dimana kita tidak berhenti sampai di situ karena persoalan yang dihadapi cukup berat.
Dan setelah saya turun ke sana maka perlu kita bersinergi minimal memberikan bantuan-bantuan yang bisa membuat mereka bisa bertahan hingga cuaca atau iklim berubah menjadi bak kembali,” tutur Bupati.
Bupati juga meminta agar tim tanggap darut penganan bencana banjir Tembuni dan Meyado agar segera menindak lanjuti apa yag harus dilakukan di lokasi banjir dengan membuat program kerja reaksi cepat sebagai program jangka pendek serta program jangka panjang.
“Sebab Kabupaten Teluk Bintuni berada dalam design daerah rawan banjir dan itu sudah dipetakan oleh Badan Nasinal Penanggulanga Bencana.
Dimana Badan Meterologi Klimatogi dan Gefisika  (BMKG) telan melaporkan perkembangan cuaca dan iklim dan kita sudah mendapatkan gambaran  akan terjadi curah hujan yang tinggi di wilayah Teluk Bintuni.
Forkopimda Teluk Bintuni juga hadir dalam rapat masalah penanganan bencana manjir distrik Tembuni dan sekitarnya. IP-IST
Namun waktu itu kita prediksi itu terjadi di Wamesa sepeti yang terjadi banjir beberapa waktu lalu. Dan saya sendiri tidak menyangka kalau ini terjadi di Tembuni karena yang saya tahu daerah ini belum pernah terjadi banjir besar seperti yang sudah terjadi dua kali baru-baru ini yaitu pada tanggal 13 Juli 2022 dan 20 Juli 2022.
Oleh karena itu saya mohon dukungan Forkopimda dan dan pimpinan OPD untuk kita ramai-ramai turun ke sana dan apa-apa saja yang perlu kita siapkan,” pungkas Bupati.
Ditempat yang sama Wakil Bupati Matret Kokop menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada dirinya sebagai Ketua Tim Tanggap Darurat Penanganan Banjir di Tembuni dan sekitarnya.
“Alam ini kita tidak bisa lawan tetapi kita bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan warga kita. Sehingga kita harus siap apapun yang terjadi.
Kali Tembuni dan kali Sebyar itu memiliki kepala air yang sama. Karena kepala airnya ada di daerah Moskona Utara dan Moskona Timur dimana Kali Sebyar ini alurnya dari Moskona Utara turun ke Jagiro, Rawara sampai ke Kamundan. Sedangkan Tembuni alurnya dari kali Sebyar yang ada di Moskona Utara turun ke kali Wasian.
Kalau kedua kepala air itu hujan besar maka semua yang dibawa akan kena banjir. Dan banjir yang terjadi ini akibat dari pembakaran hutan, akibatnya tanah tergusuur membawa endapan itu membuat sungai dangkal dan ketika hujan deras endapat naik menyebabkan air sungai ikut naik dan ini makin lebar sehingga menyebabkan terjadinya banjir.
Sehingga solusinya kita harus mengeruk sungai dan itu alternatif jangka panjang. Sebab kalau itu tidak dilakukan maka akan tetap terjadi banjir kalau curah hujan yang turun cukup deras,” ungkap Matret Kokop.
Wakil Bupati juga mengatakan bahwa orang tua-tua dulu itu menggunakan rumah-rumah panggung tidak pernah memakai rumah gantung.
Karena sertiap tahun banjir terjadi di Tomu, Aranday, Kamundan serta Weriagar. Dan pernah kita bangun rumah-rumah Trans di kampung Baru distrik Aranday waktu itu tiang-tiangnya tidak begitu tinggi menyebabkan rumah Trans yang sudah dibangun itu semua tenggelam ketika terjadi banjir.
Akhirnya saya minta agar pusaran sungai di kasih putus. Dan kalau itu tidak dikasih putus maka Tomu atau Sasari itu sudah tenggelam.
Karena saluran air diputus maka ketika air laut naik dan air dari atas turun itu tidak menyebabkan terjadi banjir. Dan kedepan apabila masyarakat suruh bangun rumah itu harus disurvey lebih dahulu jangan asal bangun saja karena dikuatirikan ketika banjir rumah yang dibangun  tersebut bisa tenggelam sebab air naik lebih tinggi dari pondasi rumah yang dibuat,” tutur Matret Kokop.
Wakil Bupati juga menyebutkan bahwa Sebyar banjir merupakan agenda tahunan. Namun yang membuat saya kaget Tembuni bisa dilanda banjir besar karena selama ini kalau air naik itu sedikit saja.
“Jadi apa yang bisa kita lakukan, kita lakukan dan saya dalam menangani bencana banjir ini tidak mau lama-lama karena alam ini setiap saat bisa berubah. Jadi apa yang bisa kita lakukan kita lakukan.
Dan saya yakin tim yang kita bentuk ini mampu untuk menangani bencana banjir di Tembuni. Dan saya tidak mau lama-lama dalam menangani bencana bajir ini, kita harus cepat.
Sebab kemiskinan ekstrim yang terjadi di Bintuni saya sudah tangani dan saya sudah ketemu Gubernur dan saya katakan kepada beliau bahwa pada tahun 2023 dan 2024 kemiskinan ekstrim di Bintuni sudah tidak ada lagi.
Sehingga untuk menangani bencana banjir ini saya siap dan ini merupakan penghargaan bagi saya sebab kita bekerja untuk membantu masyarakat. Dan kita siap  memberikan masukan bagaimana tindak lanjut dari bencana banjir ini. Intinya kita harus saling berkoordinasi terus dalam menangani bencana banjir ini,”harap Kokop. (01-IP)

 

 

 

About Post Author

banner x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *