Masih Kuat Berkebun, Ternyata Jantung Bermasalah: Fakta Mengejutkan dari Skrining Lansia di Bintuni

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUD Teluk Bintuni, dr. Steve Freyssinet Karundeng, Sp.JP, saat melakukan pemeriksaan ekokardiografi dalam kegiatan skrining jantung bagi lansia berisiko di Teluk Bintuni. Hasil skrining menunjukkan banyak peserta yang tampak sehat ternyata telah mengalami perubahan struktur jantung tanpa gejala. Melalui deteksi dini, risiko stroke, serangan jantung, dan gagal jantung dapat dicegah lebih awal. (ist/inspirasipapua.id)
banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 9

Skrining Jantung Lansia di Teluk Bintuni Ungkap Fakta Mengejutkan, Banyak Kelainan Ditemukan Meski Tanpa Gejala

 

BINTUNI, PAPUA BARAT, inspirasipapua.id – Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Yang mengkhawatirkan, banyak kasus berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas sehingga sering kali baru diketahui setelah terjadi komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, atau gagal jantung.

Kondisi tersebut terungkap dalam kegiatan bakti sosial skrining ekokardiografi bagi lansia berisiko penyakit jantung dan pembuluh darah yang digelar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama RSUD Teluk Bintuni pada 30–31 Mei 2026 di Gedung Medical Check Up (MCU) RSUD Teluk Bintuni.

Kegiatan bertajuk “Jantung Sehat, Lansia Kuat” itu merupakan bagian dari peringatan Hari Bakti IDI ke-118, Hari Jadi Kabupaten Teluk Bintuni ke-23, serta Hari Hipertensi Dunia.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUD Teluk Bintuni, dr. Steve Freyssinet Karundeng, Sp.JP, menjelaskan bahwa skrining difokuskan pada kelompok lansia yang memiliki faktor risiko tinggi penyakit jantung dan pembuluh darah.

Peserta yang mengikuti pemeriksaan merupakan lansia dengan riwayat hipertensi, diabetes melitus, obesitas, gangguan irama jantung, gejala gagal jantung, riwayat penyakit jantung koroner, stroke, hingga keluhan sesak napas dan pembengkakan tungkai.

“Kelompok ini dipilih karena memiliki risiko yang jauh lebih tinggi mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah dibandingkan populasi umum. Melalui skrining, kita berharap dapat menemukan kelainan sejak dini sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih berat,” ujar dr. Steve.

Tujuh dari Sepuluh Lansia Mengalami Perubahan Struktur Jantung

Selama dua hari pelaksanaan, sebanyak 50 lansia menjalani pemeriksaan ekokardiografi.

Hasilnya cukup mengejutkan. Hanya 14 peserta atau 28 persen yang memiliki struktur dan fungsi jantung dalam batas normal. Sementara 36 peserta lainnya atau 72 persen ditemukan mengalami left ventricular remodeling (LV remodeling), yakni perubahan bentuk dan struktur otot jantung yang umumnya terjadi akibat paparan faktor risiko dalam jangka panjang, terutama hipertensi.

Selain itu, tim medis juga menemukan sejumlah kelainan lain, yaitu:

  • 5 kasus penyakit jantung koroner (CAD)
  • 3 kasus gagal jantung
  • 2 kasus fibrilasi atrium
  • 1 kasus aneurisma aorta
  • 1 kasus cor pulmonale kompensata
  • 1 kasus kalsifikasi aorta
  • 13 kasus regurgitasi mitral
  • 11 kasus regurgitasi aorta

Menariknya, sebagian besar peserta yang ditemukan memiliki kelainan tersebut belum pernah menjalani pemeriksaan ekokardiografi sebelumnya. Bahkan, tidak sedikit yang masih merasa sehat dan tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti bekerja maupun berkebun.

“Inilah mengapa penyakit jantung sering disebut sebagai silent disease. Banyak orang merasa sehat, tetapi sebenarnya perubahan pada jantung sudah berlangsung selama bertahun-tahun,” kata dr. Steve.

Hipertensi Jadi Pemicu Utama

Menurut dr. Steve, tingginya angka temuan kelainan jantung dalam skrining ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi peserta yang memang berasal dari kelompok berisiko tinggi.

Hipertensi, diabetes melitus, obesitas, riwayat stroke, penyakit jantung koroner, hingga gangguan irama jantung merupakan faktor yang dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi jantung secara bertahap.

Ia menegaskan bahwa hipertensi bukan sekadar masalah angka tekanan darah.

“Tekanan darah tinggi yang berlangsung bertahun-tahun memaksa jantung bekerja lebih keras. Akibatnya otot jantung menebal, ruang jantung berubah bentuk, fungsi jantung menurun, dan risiko stroke maupun gagal jantung meningkat,” jelasnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa beban penyakit kardiovaskular tersembunyi pada kelompok lansia berisiko di Kabupaten Teluk Bintuni masih cukup tinggi dan membutuhkan perhatian bersama.

Empat Pelajaran Penting

Dari hasil skrining tersebut, terdapat empat pelajaran penting yang dapat dipetik.

Pertama, penyakit jantung sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Seseorang bisa tetap aktif bekerja dan beraktivitas, tetapi sebenarnya telah mengalami perubahan struktur jantung yang meningkatkan risiko komplikasi di masa depan.

Kedua, hipertensi dapat merusak jantung secara perlahan tanpa disadari. Karena itu pengobatan hipertensi tidak hanya bertujuan menurunkan tekanan darah, tetapi juga melindungi organ-organ vital seperti jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah.

Ketiga, deteksi dini memberikan kesempatan untuk melakukan intervensi sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat.

“Kabar baiknya, sebagian besar kelainan yang ditemukan masih berada pada fase yang memungkinkan dilakukan intervensi. Dengan pengendalian faktor risiko dan pengobatan yang tepat, risiko stroke, serangan jantung, maupun gagal jantung dapat ditekan secara signifikan,” ujar dr. Steve.

Keempat, kebutuhan layanan skrining jantung di daerah masih sangat besar. Tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa masih banyak warga yang membutuhkan akses pemeriksaan kesehatan jantung.

Jangan Tunggu Sakit untuk Memeriksakan Jantung

Bagi masyarakat yang telah diketahui memiliki faktor risiko atau kelainan jantung, dr. Steve mengimbau agar rutin mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, aktif berolahraga sesuai kondisi kesehatan, serta mematuhi pengobatan yang diberikan dokter.

Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri jika mengalami nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar, atau mudah lelah.

Sementara bagi masyarakat yang masih sehat, langkah terbaik adalah melakukan pencegahan melalui pola hidup sehat dengan menerapkan perilaku CERDIK, yaitu cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat bergizi seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres dengan baik.

“Sebagian besar penyakit jantung sebenarnya dapat dicegah. Jangan menunggu munculnya gejala untuk mulai peduli terhadap kesehatan jantung. Semakin dini faktor risiko ditemukan dan dikendalikan, semakin besar peluang untuk tetap sehat dan aktif di usia lanjut,” tuturnya.

Kegiatan skrining ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat Teluk Bintuni. Banyak lansia yang bahkan baru pertama kali menjalani pemeriksaan ekokardiografi sepanjang hidupnya.

Dr. Steve berharap masyarakat semakin sadar pentingnya deteksi dini penyakit jantung.

“Pesan utama dari skrining ini sederhana: jangan menunggu sakit untuk memeriksakan jantung. Dengan deteksi dini, kita memiliki kesempatan untuk mencegah komplikasi dan mempertahankan kualitas hidup yang baik di usia lanjut,” pungkasnya.

Jantung Sehat, Lansia Kuat. Deteksi Dini Hari Ini, Investasi Kesehatan Seumur Hidup”.

***(red/tim/MA/inspirasipapua.id)***

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *