Views: 46
Merah Putih di Hati Anak Bintuni
Lomba Cerdas Cermat dan Proklamasi Bangkitkan Nasionalisme Sejak Dini
BINTUNI – Matahari baru saja merangkak naik di langit Teluk Bintuni, namun halaman SMA Negeri 1 Bintuni sudah riuh oleh suara tawa, tepuk tangan, dan sorakan penyemangat. Anak-anak berseragam rapi, sebagian mengenakan kain merah putih di kepala, berlarian kecil menuju panggung lomba. Di tiang utama, Sang Saka berkibar gagah, seolah ikut memberi semangat pada para generasi penerus bangsa.
Hari itu, Senin (11/08/2025), bukan sekadar perlombaan. Ketua Panitia HUT ke-80 RI Kabupaten Teluk Bintuni, Mozes Koropasi, S.IP, berdiri di podium, suaranya lantang menggetarkan halaman sekolah.
“Ini adalah momen penting untuk menanamkan rasa cinta tanah air. Kita ingin anak-anak Bintuni tumbuh menjadi generasi yang cerdas, tangguh, dan produktif menuju Bintuni yang sehat, enerjik, religius, andal, smart, dan inovatif (Serasi),” ujarnya, disambut tepuk tangan peserta dan guru pendamping.
Dari panggung utama, terdengar suara polos anak-anak TK membacakan Teks Proklamasi. Meski beberapa kata terdengar terpatah-patah, semangat mereka memancar dari sorot mata yang berbinar. Ada yang mengepalkan tangan, ada yang membusungkan dada bangga. Seolah mereka sedang memanggil kembali semangat 17 Agustus 1945 di tengah lapangan itu.
Menurut Seksi Lomba, Simon Kambia, kegiatan ini diikuti 30 peserta dari 15 TK, 24 siswa SD kelas 1–2 untuk lomba pembacaan Teks Proklamasi, serta 7 SD, 8 SMP, dan 6 SMA/MA dalam Lomba Cerdas Cermat.
Di meja-meja LCC, suasana tak kalah sengit. Tiga pasang mata di setiap tim fokus ke pembawa soal, tangan mereka siap terangkat kapan saja. Begitu bel berbunyi, beberapa anak langsung memukul meja kecil mereka—sinyal mereka punya jawaban. Teriakan penonton pecah, sebagian bangga karena sekolahnya unggul, sebagian lagi menyemangati teman-temannya yang tertinggal.
Namun, tak ada wajah kecewa yang lama. Bagi mereka, ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tapi tentang kebersamaan. Mereka belajar saling mendukung, menghormati lawan, dan berani tampil di depan umum.
Ketika perlombaan usai, pemenang
membawa pulang piala, tetapi semua anak pulang dengan sesuatu yang jauh lebih berharga: semangat merah putih yang kini tertanam di hati mereka. Sebab, di Teluk Bintuni hari itu, nasionalisme tidak hanya diajarkan—tetapi dirasakan, dihidupkan, dan dibawa pulang untuk diwariskan. (Laporan Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)













