Pelabuhan Babo Resmi Dibangun, Bupati Ingin Babo Tumbuh sebagai Pusat Ekonomi Baru

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 29

Ground Breaking Pelabuhan Babo, Teluk Bintuni Perkuat Jalur Laut dan Ekonomi Warga

 

BABO, TELUK BINTUNI, inspirasipapua.id — Pembangunan Pelabuhan Babo akhirnya dimulai. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menandai proyek itu dengan peletakan batu pertama pada Rabu, 5 Agustus 2026, bersamaan dengan peluncuran pembangunan empat jetty di Aroba, Aranday, Yakora, dan Kamundan, serta penyerahan dua unit speed boat kepada Pangkalan TNI Angkatan Laut dan Polres Teluk Bintuni.

Bagi masyarakat pesisir Teluk Bintuni, pembangunan ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Di wilayah yang sebagian besar mobilitas warganya bergantung pada jalur laut, pelabuhan menjadi pintu yang menghubungkan kampung-kampung, memperlancar distribusi barang, sekaligus membuka akses terhadap pelayanan publik.

Prosesi peletakan batu pertama diawali dengan ritual adat melalui penyembelihan hewan kurban. Tradisi itu menjadi simbol penghormatan terhadap nilai-nilai lokal sekaligus doa agar pembangunan berlangsung lancar dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Sejumlah pejabat hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Anggota Komisi XII DPR RI drg. Alfons Manibuy, DESS, Bupati Teluk Bintuni Yohanis Manibuy, Wakil Bupati Joko Lingara, Kapolres Teluk Bintuni AKBP Marully Rachmat Azwar, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat Markus Lukas Sabarofek, unsur TNI, DPRK, tokoh adat, serta tokoh masyarakat.

Plt. Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Teluk Bintuni Jandri Salakory mengatakan pembangunan Pelabuhan Babo merupakan bagian dari pelaksanaan RPJMD Kabupaten Teluk Bintuni 2025–2030. Pemerintah daerah menargetkan pelabuhan itu menjadi simpul transportasi laut yang mampu memperkuat konektivitas antardistrik sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Menurut Jandri, proyek pelabuhan dikerjakan PT Arafah Wiratama KSO dengan masa pelaksanaan 600 hari kerja. Sementara pembangunan jetty di Aroba, Aranday, Yakora, dan Kamundan ditargetkan selesai dalam waktu 120 hari.

Nilai investasi yang disiapkan juga tidak kecil. Pembangunan Pelabuhan Babo menggunakan skema tahun jamak (multiyears) senilai Rp78,7 miliar. Adapun Jetty Kamundan dianggarkan sekitar Rp3,8 miliar, Jetty Aroba Rp1,4 miliar, serta Jetty Aranday dan Jetty Yakora masing-masing Rp1,05 miliar.

Bupati Teluk Bintuni Yohanis Manibuy menyebut pembangunan transportasi laut menjadi kebutuhan mendesak bagi daerah yang memiliki bentang wilayah pesisir, sungai, dan kepulauan yang luas.

Menurut dia, pembangunan pelabuhan bukan hanya menghadirkan fasilitas baru, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Hari ini bukan sekadar peletakan batu pertama. Ini adalah simbol dimulainya pembangunan yang memperkuat konektivitas wilayah pesisir dan bukti kehadiran pemerintah dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan akses transportasi yang aman, layak, dan berkelanjutan,” kata Yohanis.

Ia optimistis Pelabuhan Babo beserta jaringan jetty di empat distrik akan memperlancar distribusi barang, menekan biaya logistik, menarik investasi, sekaligus melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir.

Yohanis bahkan memandang Babo memiliki potensi berkembang menjadi pusat ekonomi baru di Teluk Bintuni. Salah satu gagasannya ialah mendorong peninjauan kembali pemanfaatan aset Mess BP agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi seperti pembangunan penginapan dan usaha jasa lainnya.

“Dengan adanya Pelabuhan Babo, saya berharap pertumbuhan ekonomi semakin baik. Kalau bisa Mess BP ditinjau kembali agar membuka ruang ekonomi baru dan menghadirkan penginapan yang memberi dampak positif bagi masyarakat Babo,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, pemerintah daerah menyerahkan speed boat kepada Pangkalan TNI Angkatan Laut dan Polres Teluk Bintuni. Bantuan itu diharapkan memperkuat pengamanan wilayah perairan, mendukung penanganan keadaan darurat, sekaligus meningkatkan keselamatan transportasi laut.

Anggota Komisi XII DPR RI Alfons Manibuy mengapresiasi dimulainya pembangunan tersebut. Menurut dia, keberlanjutan pembangunan menjadi kunci agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

“Siapa pun pemimpinnya, pembangunan harus terus berjalan demi kesejahteraan masyarakat,” kata Alfons.

Ia menilai posisi Pelabuhan Babo sangat strategis karena berada di kawasan penyangga industri migas, termasuk LNG Tangguh. Kehadiran pelabuhan itu dinilai dapat memperkuat sektor jasa, logistik, dan pelayanan yang menopang aktivitas investasi.

Namun, Alfons mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya dinikmati oleh pelaku industri. Ia mendorong perusahaan-perusahaan migas memperluas kemitraan dengan masyarakat lokal agar manfaat investasi lebih merata.

“Saya berharap masyarakat Babo juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar. Jangan sampai daerah ini hanya menjadi lokasi aktivitas industri tanpa memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat setempat,” ujarnya.

Peletakan batu pertama itu menjadi penanda dimulainya sebuah pekerjaan besar. Keberhasilan proyek ini nantinya tidak hanya diukur dari berdirinya dermaga atau panjangnya pelabuhan, tetapi juga dari seberapa jauh infrastruktur tersebut mampu memangkas keterisolasian, menumbuhkan kegiatan ekonomi, dan menghadirkan pelayanan yang lebih dekat bagi masyarakat pesisir Teluk Bintuni.

***(Tim/red/MA/inspirasi Papua.id)***

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *