Views: 3
Mastama UNIMUTU Bintuni, Evi Wanggai: Pengetahuan HIV Bisa Menjadi Pelindung Generasi Muda
BINTUNI, inspirasipapua.id — “Mengapa sosialisasi HIV/AIDS perlu dilakukan?” Pertanyaan itu dilontarkan Penggiat HIV/AIDS Papua Barat, Everdina Y. Wanggai, kepada 437 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Teluk Bintuni (Unimutu) dalam Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastama), Jumat, 18 September 2026. Suasana di Gedung Serba Guna Bintuni seketika berubah menjadi ruang diskusi. Mahasiswa angkatan kedua itu bergantian menyampaikan alasan mengapa pengetahuan tentang HIV penting bagi generasi muda.
Sejumlah mahasiswa menilai usia 15–24 tahun merupakan masa pencarian jati diri. Keinginan mencoba sesuatu yang baru, pengaruh lingkungan, hingga kemudahan berinteraksi melalui telepon seluler dapat membawa seseorang pada keputusan berisiko. Karena itu, menurut mereka, edukasi HIV tidak cukup dilakukan sekali. Pengetahuan tersebut perlu diulang agar informasi tentang penularan dan pencegahan tidak berhenti sebagai materi seminar.
Everdina Wanggai, yang akrab disapa Evi, mengatakan edukasi berulang diperlukan karena HIV dapat berdampak panjang terhadap kehidupan seseorang. Jika tidak mendapatkan pengobatan, infeksi HIV dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan pada akhirnya mempengaruhi kualitas hidup, termasuk pekerjaan dan masa depan. “Kita perlu pengetahuan yang benar untuk menjaga diri sendiri dan orang lain,” kata Evi dalam sesi tersebut.
Menurut Evi, data Dinas Kesehatan Teluk Bintuni menunjukkan terdapat 1.350 orang dengan HIV hingga Juni 2026. Kelompok usia 25–49 tahun menjadi yang terbanyak, sekitar 72 persen dari keseluruhan kasus. Pada semester pertama 2026 juga ditemukan 70 kasus baru, dengan 63 persen laki-laki dan 37 persen perempuan. Kasus tersebut tidak hanya ditemukan di wilayah perkotaan, tetapi telah menjangkau sejumlah distrik, antara lain Kuri, Tomu dan Weriagar.
Evi menyebut hubungan seksual berisiko tanpa penggunaan kondom sebagai salah satu faktor utama penularan HIV di Teluk Bintuni. Karena itu, mahasiswa tidak hanya diminta memahami bagaimana HIV menular, tetapi juga bagaimana mencegahnya serta menghindari stigma terhadap orang dengan HIV.
Bagi Evi, mahasiswa memiliki posisi penting karena pengetahuan yang diperoleh di kampus dapat dibawa ke tengah masyarakat. Mereka diharapkan menjadi sumber informasi dan solusi, bukan justru menambah persoalan. “Dukung teman-teman yang terinfeksi HIV atau orang dengan HIV tanpa stigma,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia. Teluk Bintuni memiliki 25 puskesmas yang dapat digunakan masyarakat untuk berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk pemeriksaan HIV.
“Jangan sampai sakit baru datang ke rumah sakit. Datanglah ke puskesmas untuk konsultasi,” kata Evi.
Pesan itu menjadi bagian penting dari Mastama: bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya soal memasuki ruang kuliah, tetapi juga belajar memahami persoalan yang dihadapi masyarakat. Di tengah masih adanya kasus HIV di Teluk Bintuni, pengetahuan yang benar, pemeriksaan dini, pencegahan, dan sikap tanpa stigma menjadi bagian dari tanggung jawab generasi muda.
“Mahasiswa Unimutu adalah generasi unggulan Kabupaten Teluk Bintuni ke depan,” ujar Evi.
**(Tim/red/muris/inspirasipapua.id)**













