Views: 2
Hari Ketiga Masa Ta’aruf Unimutu Bekali Mahasiswa Baru tentang Kesehatan Fisik dan Mental
BINTUNI, inspirasipapua.id — Hari ketiga Masa Ta’aruf Universitas Muhammadiyah Bintuni (Unimutu) menjadi ruang bagi 437 mahasiswa baru untuk tidak hanya mengenal lingkungan kampus, tetapi juga memahami cara menjaga kesehatan fisik dan mental selama menjalani kehidupan perkuliahan.
Pembekalan itu dikemas melalui diskusi bertajuk “Membangun Generasi Unggul: Keseimbangan Fisik dan Mental Menuju Mahasiswa yang Produktif dan Berprestasi” yang berlangsung di Gedung Serbaguna Bintuni, Jumat, 18 September 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Masa Ta’aruf mahasiswa baru Unimutu angkatan kedua.
Dalam tradisi pengenalan lingkungan kampus, Masa Ta’aruf menjadi tahap awal bagi mahasiswa untuk saling mengenal, membangun ukhuwah, memahami lingkungan akademik, serta mengenal nilai-nilai yang menjadi bagian dari kehidupan kampus Muhammadiyah. Pada hari kedua, mahasiswa dibekali pengetahuan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari, salah satunya mengenai kesehatan mental.
Narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, dr. Haposan Simatupang, menyampaikan materi tentang cara menjaga kesehatan mental selama masa perkuliahan. Sementara penggiat HIV/AIDS Everdina Y. Wanggai (Evi) dan Devita W. Lisa (Devi) turut memberikan pembekalan terkait kesehatan dan kehidupan mahasiswa.
Haposan mengingatkan mahasiswa agar membangun kebiasaan hidup sehat sejak awal memasuki dunia perkuliahan. Salah satunya dengan mencukupi waktu tidur sekitar 7–8 jam sehari. Ia juga menyarankan mahasiswa mengurangi penggunaan telepon seluler setidaknya 30 menit sebelum tidur.
Kurang istirahat, kata Haposan, dapat memengaruhi kondisi mental dan memicu stres. Gejalanya dapat berupa banyak pikiran, sakit kepala, jantung berdebar, hingga gangguan pencernaan.
Menurut Haposan, stres merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan. Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan seseorang mengelola tekanan tersebut agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih berat.
Ketika mengalami stres, mahasiswa dapat melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau bernyanyi. Latihan pernapasan sederhana juga dapat dilakukan dengan menarik napas panjang kemudian mengembuskannya secara perlahan dan mengulanginya beberapa kali.
Mahasiswa juga dianjurkan tidak menyimpan persoalan seorang diri. Mencari teman dekat yang dipercaya untuk berbicara dan membagikan masalah dapat menjadi salah satu cara mengurangi beban pikiran.
“Sehat mental bukan berarti harus bahagia selalu. Sehat mental adalah bagaimana kita bisa mengelola stres agar tidak mudah mencelakakan diri sendiri,” ujar Haposan.
Ia menjelaskan, stres yang berlangsung berkepanjangan dapat berkembang menjadi depresi. Kondisinya dapat ditandai dengan hilangnya semangat, tidak bergairah melakukan aktivitas, hingga tidak peduli terhadap kebutuhan diri sendiri.
Jika kondisi tersebut sudah mengarah pada keinginan menyakiti diri sendiri atau bunuh diri, mahasiswa perlu segera mencari bantuan. Bantuan dapat diperoleh melalui dosen akademik, teman yang dipercaya, atau dengan mendatangi Puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan.
Bagi mahasiswa yang belum mampu bercerita secara langsung kepada orang lain, Haposan juga menyebut layanan konsultasi melalui 119.id sebagai salah satu pilihan untuk memperoleh bantuan.
Hari ketiga Masa Ta’aruf Unimutu dengan demikian tidak hanya menjadi agenda pengenalan kampus. Mahasiswa diajak memahami bahwa perjalanan di perguruan tinggi juga membutuhkan kemampuan menjaga diri, membangun hubungan yang sehat, mengelola tekanan, serta peduli terhadap kondisi orang lain.
Bekal tersebut menjadi bagian dari proses membangun generasi unggul yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memiliki ketahanan diri dan kepedulian sosial selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
**(Tim/red/MA/inspirasipapua.id)**













