Menjenguk Asa di Tanah Rantau: Sentuhan DPRK Teluk Bintuni untuk Mahasiswa di Yogyakarta

Anggota dan pimpinan DPRK Teluk Bintuni lakukan check up to kesehatan dan kunjungi Mahasiswa asal Telah l Bintuni di Yogyakarta. Inzet: Jefri Orocomna bersama ppinam dan anggota DPRK Teluk Bintuni berbelanja dan membawa bantuan Sembako untuk Mahasiswa dan Mahasiswi asal Teluk Bintuni di Asrama di Yogya sekaligus bersilaturahmi.(ist/Kadate/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 218

Menjenguk Asa di Tanah Rantau: Sentuhan DPRK Teluk Bintuni untuk Mahasiswa di Yogyakarta

 

Laporan: Tim Redaksi | KADATEDE – Inspirasi Papua

YOGYAKARTA, 10 Juli 2025 — Kota pelajar yang dikenal ramah dan penuh semangat intelektual itu menjadi saksi pertemuan yang menghangatkan hati. Di antara kesibukan mereka menjalani pemeriksaan kesehatan di rumah sakit Panti Rapih di Yogyakarta, sejumlah anggota DPRK Teluk Bintuni menyempatkan diri untuk menengok “anak-anak rantau” mereka — para mahasiswa asal Teluk Bintuni yang tengah mengejar cita-cita di kota Gudeg.

Kunjungan yang dipimpin oleh Wakil Ketua II DPRK Teluk Bintuni, Yasman Yasir dan Wakil Ketua III Budi Irianto Nawarisa, didampingi anggota legislatif lainnya seperti Roy Marthen Masewi, Andreas Nauri, Wagiman, Anthon Asmorom, dan Jefri Orocomna, bukan sekadar kunjungan biasa. Di balik kesederhanaannya, ada perhatian yang tulus, ada harapan yang ingin disulam bersama, dan ada rasa ingin tahu akan kondisi nyata para mahasiswa asal Bintuni yang sedang berjuang jauh dari rumah.

Ketika Rindu Disambut Peduli

Siang itu, tak sedikit wajah ceria mahasiswa menyambut rombongan DPRK. Bagi mereka, kehadiran para wakil rakyat dari tanah kelahiran adalah semacam pelipur lara — pertanda bahwa mereka tak dilupakan, bahwa meski jauh di mata, mereka tetap dekat di hati.

“Kami menyempatkan diri menjenguk adik-adik mahasiswa untuk melihat langsung kondisi asrama, sekaligus menyerap aspirasi dan menyerahkan bantuan sembako kepada mereka,” ujar Jefri Orocomna, S.Sos, Sekretaris Fraksi NasDem DPRK Teluk Bintuni.

Lebih dari sekadar membawa sembako, para anggota DPRK ini datang dengan niat tulus: ingin melihat sendiri bagaimana anak-anak muda dari Bintuni hidup dan belajar di kota yang keras sekaligus penuh peluang ini.

Asrama yang Renta, Semangat yang Menggugah

Dalam dialog hangat yang digelar bersama para mahasiswa, sejumlah fakta miris mencuat ke permukaan. Fasilitas asrama yang semestinya menjadi tempat aman dan nyaman untuk beristirahat, justru menyimpan banyak cerita getir. Kebocoran atap yang membasahi lantai kamar setiap kali hujan turun, fasilitas kamar yang rusak, hingga keterbatasan akses internet — semua itu menjadi bagian dari perjuangan sehari-hari mereka.

Yang paling menyayat hati, kondisi asrama putri yang dinilai sudah tidak layak huni. Dari lantai tiga hingga lantai bawah, air hujan merembes masuk seakan tak mengenal batas. Padahal, menurut keterangan para mahasiswa, kontrakan itu dibayar lancar oleh Pemda Teluk Bintuni.

“Kalau seperti ini terus, tentu sangat mengganggu kenyamanan dan konsentrasi belajar mereka,” ujar Jefri. “Kami akan cek ulang antara OPD terkait dan pemilik kontrakan. Melihat kondisi saat ini, asrama putri sebaiknya segera direlokasi ke tempat yang lebih layak.”

Daya Tampung Terbatas, Asa Tak Terbatas

Di Yogyakarta, saat ini terdapat lebih dari 100 mahasiswa asal Teluk Bintuni. Sekitar 40 orang tinggal di asrama putra milik Pemda, sementara asrama putri masih mengandalkan kontrakan. Banyak mahasiswa lainnya memilih tinggal di kos-kosan karena daya tampung yang terbatas.

Keterbatasan fasilitas bukan berarti semangat mereka surut. Justru, inilah bukti bahwa meski dengan segala kekurangan, tekad untuk menuntut ilmu tetap berkobar.

Janji Koordinasi dan Tindak Lanjut

Menanggapi semua keluhan dan aspirasi tersebut, DPRK Teluk Bintuni tidak tinggal diam. Mereka berjanji akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, OPD terkait, hingga Bupati dan Wakil Bupati untuk mencarikan solusi terbaik.

“Aspirasi ini penting karena menyangkut kenyamanan tempat tinggal mahasiswa kita yang sedang berjuang untuk masa depan mereka,” tegas Jefri Orocomna menambahkan.

Lebih dari Sekadar Kunjungan

Apa yang dilakukan DPRK Teluk Bintuni hari itu bukan semata kunjungan seremonial. Di mata para mahasiswa, itu adalah bentuk nyata perhatian. Bahwa di balik meja dan ruang sidang, para wakil rakyat tak lupa pada generasi penerus yang sedang membangun pondasi masa depan.

“Kehadiran para wakil rakyat dari Bintuni sangat berarti bagi kami. Kami merasa diperhatikan dan didengarkan,” ungkap salah satu mahasiswa dengan mata berkaca-kaca.

Catatan Akhir: Dari Yogyakarta untuk Bintuni

Di antara dinding asrama yang lembab dan sempit, tersimpan harapan besar. Para mahasiswa asal Teluk Bintuni ini bukan sekadar perantau, mereka adalah investasi masa depan, pemilik mimpi-mimpi besar untuk membangun kampung halamannya kelak.

Dan hari itu, kunjungan para anggota DPRK adalah bukti bahwa benang penghubung antara pemerintah dan rakyatnya masih kuat — mengikat erat meski terbentang jarak ribuan kilometer.

Mereka pulang membawa cerita, membawa suara-suara yang tak sempat terdengar di ruang-ruang kantor, namun hidup di lorong-lorong asrama. Kini tinggal bagaimana cerita itu diterjemahkan menjadi aksi nyata, agar perjuangan para mahasiswa tidak hanya didengar, tapi juga dijawab. ***

 

Versi berita dalam bahasa Inggris:

Visiting Hope in a Distant Land: A Touch of Care from DPRK Teluk Bintuni for Students in Yogyakarta

 

Report: Editorial Team | KADATEDE – Inspirasi Papua

YOGYAKARTA, July 10, 2025 — Known for its hospitality and intellectual spirit, this city of students witnessed a heartwarming moment. Amid their busy schedule for medical check-ups at Panti Rapih Hospital in Yogyakarta, several members of the Teluk Bintuni Regional People’s Representative Council (DPRK) took time to visit their “children in exile” — students from Teluk Bintuni who are currently pursuing higher education in the heart of Java.

Led by Deputy Speaker II of the DPRK Teluk Bintuni, Yasman Yasir and Deputy Speaker III, Budi Irianto Nawarisa, along with other legislators Roy Marthen Masewi, Andreas Nauri, Wagiman, Anthon Asmorom, and Jefri Orocomna, the visit was far more than a routine formality. Beneath its simplicity lay a sincere concern, a shared hope to be woven, and a genuine curiosity about the real conditions faced by Bintuni students struggling far from home.

When Longing Meets Compassion

That afternoon, many cheerful student faces welcomed the DPRK delegation. For them, the presence of these hometown representatives was a balm for their longing — a sign that they have not been forgotten, that though far in distance, they remain close at heart.

“We made time to visit our younger siblings here to directly observe the dormitory conditions, listen to their aspirations, and distribute basic food supplies,” said Jefri Orocomna, S.Sos, Secretary of the NasDem Faction of the DPRK Teluk Bintuni.

Beyond the donations, the lawmakers came with heartfelt intention: to witness firsthand how these young minds from Bintuni live and learn in a city that is both challenging and full of opportunity.

A Worn-Out Dorm, a Stirring Spirit

In a warm dialogue with the students, a number of concerning facts surfaced. Dormitory facilities, which should be a safe and comfortable haven, instead bore stories of hardship. Leaking roofs that drenched floors during rain, damaged room fixtures, and limited internet access were all part of their daily struggles.

Most alarming was the condition of the girls’ dormitory, which has become nearly uninhabitable. From the third floor to the ground, rainwater seeped through as if boundaries didn’t exist. According to the students, the rent has been consistently paid by the Teluk Bintuni local government, yet the landlord has failed to make repairs.

“If this continues, it will clearly disrupt their comfort and focus in studying,” said Jefri. “We will follow up with the relevant OPD and the landlord. Given the current state, the girls’ dorm should be relocated to a more decent place.”

Limited Space, Limitless Dreams

Currently, there are over 100 students from Teluk Bintuni studying in Yogyakarta. About 40 students reside in a government-owned boys’ dormitory, while the girls are still relying on rented housing. Many others have opted for boarding houses due to limited space.

Despite the lack of facilities, their spirit remains unbroken. In fact, their determination to pursue education continues to burn brightly through every challenge.

Promises of Coordination and Real Action

Responding to all the concerns and aspirations expressed, the DPRK Teluk Bintuni promised swift action. They committed to coordinating with the Regional Government, relevant OPDs, the Regent and Vice Regent to find the best solution.

“These aspirations matter, because they relate to the comfort and safety of our students who are fighting for their future,” emphasized Jefri Orocomna.

More Than a Visit

What DPRK Teluk Bintuni did that day was not merely a ceremonial visit. In the eyes of the students, it was a tangible form of care. It affirmed that beyond the council chambers and offices, their elected representatives have not forgotten the next generation who are laying the foundation for a brighter tomorrow.

“The presence of our representatives from Bintuni means a lot to us. We feel seen, heard, and cared for,” expressed one student, eyes glistening with emotion.

Final Note: From Yogyakarta, With Hope for Bintuni

Amid damp walls and narrow spaces, great hopes reside. These students from Teluk Bintuni are not just wanderers; they are an investment in the future — the bearers of dreams to one day return and build their homeland.

And on that day, the DPRK’s visit served as proof that the bond between government and its people remains strong — tying tightly across thousands of kilometers.

They returned home carrying stories, voices that might not echo through formal corridors but live in the quiet corners of student dormitories. The next step is to turn these stories into real action — so that the struggles of these students are not only heard, but truly answered. ***

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *