Views: 7
Papua Menunggu Guru, IKALJATIM Serukan Darurat Pendidikan Nasional
MANOKWARI, PAPUA BARAT, inspirasipapua.id — Di banyak kampung di Tanah Papua, persoalan pendidikan bukan lagi soal gedung sekolah yang belum berdiri. Bangunan itu ada. Papan tulis terpasang. Bangku-bangku tersusun rapi. Namun, ruang kelas kerap sunyi karena tidak ada guru yang mengajar.
Situasi itulah yang mendorong Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni Jawa Timur (IKALJATIM) di Tanah Papua, Amin Ngabalin, S.Pi., mendesak Presiden Prabowo Subianto menetapkan krisis kekurangan guru di Tanah Papua sebagai kondisi darurat pendidikan nasional. Menurutnya, persoalan tersebut sudah tidak dapat ditangani dengan pendekatan biasa karena menyangkut hak dasar ribuan anak untuk memperoleh pendidikan.
“Kami mendesak Presiden menekan tombol alarm darurat pendidikan di Tanah Papua. Jangan biarkan satu hari pun anak-anak Papua kehilangan hak belajar hanya karena negara belum mampu menghadirkan guru di sekolah mereka,” kata Amin kepada wartawan di Manokwari, Minggu (2/8/2026).
Amin menuturkan, kekurangan tenaga pendidik masih terjadi di berbagai wilayah, mulai dari pedalaman, pesisir hingga daerah kepulauan. Tidak sedikit sekolah yang harus menjalankan proses belajar mengajar dengan jumlah guru yang jauh dari kebutuhan, bahkan ada yang nyaris tanpa tenaga pengajar.
Ketua Fraksi Golkar DPR Provinsi Papua Barat Daya itu mengingatkan bahwa pembangunan pendidikan tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik sekolah. Gedung yang megah, menurut dia, tidak akan bermakna apabila tidak diisi oleh guru yang mendidik dan membimbing peserta didik setiap hari.
“Sekolah tanpa guru hanya akan menjadi bangunan kosong yang tidak mampu mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.
Bagi IKALJATIM, penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan kebijakan yang lebih berani. Organisasi itu mengusulkan percepatan rekrutmen guru, penempatan khusus bagi tenaga pendidik di wilayah terpencil, pemberian insentif yang layak, penyediaan rumah dinas, hingga beasiswa ikatan dinas bagi putra-putri asli Papua agar kelak kembali mengabdi di daerahnya.
Usulan tersebut lahir dari keyakinan bahwa pendidikan merupakan investasi paling mendasar bagi masa depan Papua. Tanpa guru, anak-anak kehilangan kesempatan belajar, sementara cita-cita menghadirkan sumber daya manusia yang unggul akan semakin sulit diwujudkan.
“Masa depan Papua tidak boleh dikorbankan oleh lambatnya kebijakan. Investasi terbesar negara bukan hanya membangun gedung sekolah, tetapi memastikan setiap ruang kelas memiliki guru yang mengajar. Itulah fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” kata Amin.
Seruan itu menjadi pengingat bahwa krisis pendidikan tidak selalu tampak dalam bentuk sekolah yang roboh. Kadang, ia hadir dalam ruang kelas yang berdiri kokoh, tetapi sepi dari sosok guru yang semestinya menyalakan harapan anak-anak untuk meraih masa depan yang lebih baik.
***(Tim/red/MA/inspirasi Papua.id)***













