Dari Stan Pameran ke Kerja Nyata, Pesan Bupati Bintuni

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 2

Bupati Bintuni: Inovasi Jangan Berhenti di Panggung Pameran

 

BINTUNI, inspirasipapua.id — Sebuah inovasi akan kehilangan makna jika hanya berakhir di meja pameran. Setelah lampu pameran padam dan stan dibongkar, yang tersisa mestinya bukan sekadar dokumentasi, melainkan perubahan yang bisa dirasakan masyarakat.

Pesan itu disampaikan Bupati Teluk Bintuni Yohanis Manibuy saat menjadi narasumber Podcast Inovasi Award 2026 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Teluk Bintuni di Gedung Serba Guna Bintuni, Kamis, 13 Agustus 2026.

Yohanis mengatakan Pameran Inovasi Award 2026 seharusnya menjadi ruang untuk menunjukkan keberanian pemerintah dan masyarakat mencoba cara baru dalam menyelesaikan persoalan. Karena itu, inovasi yang dipamerkan tidak boleh berhenti sebagai pajangan atau kegiatan seremonial.

“Jangan sampai inovasi ini hanya ditampilkan dalam pameran saja, tetapi harus betul-betul diimplementasikan,” kata Yohanis.

Pameran tersebut diikuti berbagai unsur, bukan hanya organisasi perangkat daerah. Perguruan tinggi, instansi vertikal, perbankan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga pelajar turut menampilkan gagasan dan produk mereka.

Bagi Yohanis, keterlibatan banyak kelompok itu menunjukkan bahwa inovasi bukan monopoli pemerintah. Ia bisa lahir dari ruang kelas, kampus, dunia usaha, maupun masyarakat yang sehari-hari berhadapan dengan persoalan di lapangan.

“Yang ikut bukan hanya perangkat daerah, tetapi juga dari perguruan tinggi, instansi vertikal, perbankan, UMKM lokal, bahkan anak-anak kita dari SMA juga ikut memberikan inovasi,” ujarnya.

Di antara produk yang dipamerkan terdapat hasil pertanian dan olahan sumber daya lokal, termasuk nanas dan berbagai produk UMKM. Produk-produk itu, menurut Yohanis, tidak semestinya hanya menarik perhatian pengunjung selama empat hari pameran.

Potensi lokal perlu diolah menjadi produk bernilai tambah, memiliki pasar, dan pada akhirnya membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Di sinilah, menurut dia, ukuran keberhasilan sebuah inovasi tidak berhenti pada seberapa menarik gagasannya dipamerkan. Ukurannya adalah apakah gagasan itu mampu bekerja, menyelesaikan masalah, menghemat waktu dan biaya, memperbaiki pelayanan, atau menciptakan manfaat ekonomi.

Yohanis mendorong seluruh organisasi perangkat daerah menjadikan inovasi sebagai bagian dari budaya kerja. Aparatur pemerintah, kata dia, tidak cukup hanya menjalankan rutinitas, tetapi perlu terus mencari metode yang lebih efektif, efisien, transparan, cepat, dan tepat sasaran.

“Semangat inovasi ini harus menjadi visi kami bersama Wakil Bupati. Saya berharap inovasi yang ditampilkan tidak hanya berhenti di pameran, tetapi betul-betul dijalankan,” katanya.

Pesan tersebut menjadi penting karena pelayanan publik sering kali berhadapan dengan persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pola kerja lama. Jarak, waktu, biaya, keterbatasan informasi, dan akses masyarakat merupakan persoalan yang membutuhkan cara kerja yang lebih adaptif.

Karena itu, inovasi semestinya dipahami bukan sekadar penggunaan teknologi. Inovasi dapat berupa perubahan prosedur pelayanan, cara mendata masyarakat, pengembangan produk lokal, maupun cara pemerintah berkomunikasi dengan warganya.

Dalam podcast itu, Yohanis juga mengapresiasi PWI Teluk Bintuni yang menginisiasi diskusi tersebut. Menurut dia, media mempunyai peran penting dalam memperkenalkan inovasi pemerintah kepada masyarakat sekaligus membuka ruang bagi publik untuk mengetahui manfaatnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Bappelitbangda sebagai penyelenggara pameran dan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Teluk Bintuni yang mendokumentasikan serta menyebarluaskan berbagai kegiatan pemerintahan.

Pameran Inovasi Award 2026 dijadwalkan berlangsung hingga 16 Agustus 2026 malam. Bagi Yohanis, berakhirnya pameran bukan berarti berakhir pula proses inovasi.

Justru setelah pameran, setiap peserta dituntut membuktikan apakah gagasan yang mereka tampilkan mampu bertahan ketika kembali berhadapan dengan persoalan nyata.

Semangat itu pula yang ingin ia kaitkan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan, menurut Yohanis, tidak cukup dirayakan dengan seremoni. Ia harus diterjemahkan menjadi keberanian memperbaiki pelayanan, mengembangkan potensi daerah, dan menciptakan kerja nyata.

“Marilah kita isi kemerdekaan Republik Indonesia dengan inovasi, kerja nyata, dan keberanian untuk berubah,” pungkasnya.

**(Tim/red/MA/inspirasipapua.id)**

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *