Views: 31
“Edison Orocomna dan Panah yang Tak Boleh Hilang dari Ingatan Bintuni”
BINTUNI, inspirasipapua.id — Sebilah busur ditarik perlahan. Anak panah diarahkan ke sasaran. Beberapa detik kemudian, tali dilepas.
Di balik gerakan sederhana itu, ada sesuatu yang jauh lebih tua daripada sebuah perlombaan.
Busur dan panah pernah menjadi bagian dari cara masyarakat Papua berhubungan dengan hutan: untuk berburu, bertahan hidup, mengenali alam, sekaligus mewariskan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kini, benda yang dahulu dekat dengan kehidupan sehari-hari itu sedang dicoba dihadirkan kembali dalam bentuk olahraga tradisional.
Itulah yang diapresiasi tokoh masyarakat Moskona dan Sough,
Edison Orocomna, ketika Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni memasukkan panahan tradisional dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Kami mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni yang sudah melaksanakan kegiatan olahraga tradisional panahan ini,” kata Edison kepada wartawan di Lapangan GSG Bintuni, Selasa, 11 Agustus 2026.
Bagi Edison, kegiatan itu lebih dari sekedar perlombaan untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Ia melihat ada kesempatan untuk menghidupkan kembali sesuatu yang mulai terdesak oleh perubahan zaman.
Busur dan panah di Papua bukan sekedar benda untuk membidik sasaran. Dalam berbagai komunitas, keterampilan membuat dan menggunakan busur berkaitan dengan pengetahuan tentang bahan alam, lingkungan, dan kehidupan di hutan.
Literatur mengenai budaya Papua juga mencatat bahwa busur dan panah memiliki sejarah panjang sebagai alat berburu dan bagian dari pengetahuan hidup masyarakat.
Karena itu, ketika panah tradisional dilepaskan di Lapangan GSG Bintuni, yang dipertaruhkan bukan hanya siapa yang paling tepat mengenai sasaran.
Ada ingatan yang sedang dicoba dipertahankan.
Panah dan Cerita yang Berpindah dari Generasi ke Generasi
Dalam masyarakat yang mengenal tradisi lisan, cerita tidak selalu tersimpan di dalam buku.
Ia dapat hidup melalui kebiasaan, benda, permainan, keterampilan, dan cara orang tua mengajarkan sesuatu kepada anak-anaknya.
Busur dan panah termasuk salah satu benda yang menyimpan jejak semacam itu.
Seorang anak yang belajar menarik busur bukan hanya belajar mengarahkan anak panah. Ia belajar ketenangan, ketepatan, membaca jarak dan sasaran.
Dalam konteks kehidupan masyarakat yang dekat dengan alam, keterampilan tersebut dahulu memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan hidup.
Bahan busur dan anak panah pun berasal dari lingkungan sekitar. Koleksi benda budaya Papua yang terdokumentasi di Museum Papua Erfgoed, misalnya, mencatat busur yang dibuat dari kayu dan anak panah dari bambu atau kayu, dengan penggunaan rotan sebagai bagian dari pengikatnya.
Di sanalah panahan tradisional memiliki cerita yang berbeda dengan panahan modern.
Panahan modern berbicara tentang teknik, skor, jarak dan kompetisi.
Panahan tradisional membawa lapisan cerita tentang bagaimana manusia mengenali alam dan menggunakan pengetahuan itu untuk bertahan hidup.
Cerita-cerita semacam itu tidak selalu mempunyai satu versi yang sama.
Ia dapat berubah ketika berpindah dari satu kampung ke kampung lain, dari satu keluarga ke keluarga lain.
Tetapi pesan besarnya serupa: keterampilan yang diwariskan tidak lahir dari ruang kosong.
Ia lahir dari pengalaman.
Dan pengalaman itu bisa hilang apabila generasi berikutnya tidak lagi diberi kesempatan untuk mengenalnya.
Jangan Berhenti di Lapangan GSG
Karena itu Edison berharap kegiatan panahan tradisional tidak berhenti setelah rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI selesai.
“Kalau bisa, kegiatan seperti ini jangan hanya dilakukan di tingkat kabupaten saja, tetapi dikembangkan sampai ke tingkat provinsi,” ujarnya.
Ia menginginkan pemerintah daerah membuat pembinaan yang lebih teratur. Perlombaan, menurut dia, dapat dilakukan secara berkala sehingga anak-anak muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut belajar dan berlatih.
“Mari kita lestarikan olahraga panahan tradisional ini,” kata Edison.
Harapan itu penting karena sebuah tradisi tidak selalu hilang dengan suara keras. Kadang ia hilang secara perlahan—ketika orang-orang yang menguasai keterampilan itu semakin sedikit, ketika anak-anak muda tidak lagi mengenal cara membuatnya, atau ketika benda tradisional hanya muncul pada acara seremonial.
Panahan tradisional dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah proses itu.
Bukan dengan mengembalikan masa lalu, melainkan membawa warisan tersebut ke masa kini.
Dari Warisan Menjadi Prestasi
Edison juga melihat kemungkinan yang lebih jauh. Panahan tradisional dari Bintuni, menurut dia, dapat dikembangkan hingga tingkat provinsi dan menjadi bagian dari ajang yang lebih luas.
Pandangan itu sejalan dengan gagasan bahwa panahan di Papua tidak hanya dapat dibaca sebagai peninggalan budaya, tetapi juga sebagai bentuk kearifan lokal dan cabang olahraga yang dapat dikembangkan menjadi prestasi.
Sebuah buku tentang panahan Papua bahkan melihat olahraga ini sebagai bagian dari identitas dan kearifan lokal masyarakat Papua.
Pemerintah daerah, komunitas, tokoh masyarakat, sekolah dan generasi muda karena itu mempunyai peran masing-masing.
Pemerintah menyediakan ruang dan pembinaan. Komunitas menjaga pengetahuan. Para tetua menyampaikan cerita dan keterampilan. Anak-anak muda membawa tradisi itu ke arena baru.
Dengan begitu, busur dan panah tidak berhenti sebagai benda yang dipamerkan ketika perayaan tiba.
Ia tetap hidup.
Di Lapangan GSG Bintuni, Selasa pagi itu, anak panah mungkin hanya diarahkan menuju sasaran yang terbuat untuk sebuah perlombaan.
Tetapi bagi Edison Orocomnah, sasaran yang lebih jauh adalah menjaga agar sebuah warisan tidak kehilangan generasi penerusnya.
Sebab kemerdekaan, dalam pengertian yang lebih luas, bukan hanya tentang mengibarkan bendera dan menggelar perlombaan.
Kemerdekaan juga tentang kemampuan sebuah masyarakat menentukan warisan apa yang ingin mereka bawa ke masa depan.
Dan kali ini, salah satunya adalah busur dan panah.
(Tim/red/MA/inspirasipapua.id)











