Views: 17
Bukan Sekadar Pelayan Gereja, Petronela Krenak Ajak Pemuda GKI Jadi Penggerak Perubahan
BINTUNI, inspirasipapua.id — Pemuda gereja tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan peribadatan. Mereka juga perlu mengambil bagian dalam kehidupan sosial, menyampaikan gagasan, dan bekerja bersama pemerintah untuk membangun masyarakat. Semangat inilah yang ingin diperkuat melalui Rapat Kerja (Raker) I Forum Generasi Muda (FGM) Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua Tahun 2026 di Teluk Bintuni.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) FGM GKI di Tanah Papua, Petronela Krenak, S.Sos., M.Tr.AP, mengatakan pelaksanaan Raker yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober, menjadi momentum penting untuk membangkitkan peran generasi muda gereja. Hal itu disampaikannya saat ditemui di halaman Gereja GKI Viadolorosa, Teluk Bintuni, Rabu (28/10/2026).
Menurut Petronela, pemuda gereja harus berani mengambil peran lebih luas. Mereka tidak boleh hanya menjadi objek pelayanan, tetapi perlu tampil sebagai subjek yang aktif, mampu melahirkan gagasan, serta berkontribusi bagi kemajuan daerah.
“Pemuda GKI di Tanah Papua harus mampu memberikan dampak nyata di luar dinding gereja. Kita ingin mereka hadir dengan pandangan yang konstruktif dan kerja nyata, serta berkolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah dalam mendukung pembangunan Tanah Papua,” ujarnya.
Petronela mengaitkan semangat tersebut dengan pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tentang besarnya kekuatan generasi muda dalam menentukan masa depan bangsa.
“Bung Karno pernah berkata, beri saya sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia. Jika Bung Karno percaya pemuda mampu membangun negeri, saya juga percaya Pemuda GKI di Tanah Papua mampu membawa Tanah Papua menjadi lebih baik ke depan,” katanya.
Bagi Petronela, semangat kepemudaan tidak berhenti pada slogan atau peringatan seremonial. Nilai persatuan, keberanian, dan tanggung jawab harus diterjemahkan menjadi program yang menjawab kebutuhan generasi muda dan masyarakat.
Karena itu, Raker I FGM GKI di Tanah Papua akan berfokus pada penyusunan program kerja pelayanan untuk 2027. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang bagi pengurus dan perwakilan klasis untuk menyatukan gagasan, menentukan prioritas, serta merumuskan langkah konkret selama satu tahun pelayanan mendatang.
Petronela berharap seluruh peserta dari 70 klasis GKI di Tanah Papua dapat mengikuti sidang dengan baik sehingga program yang disepakati tidak berhenti sebagai dokumen organisasi, tetapi benar-benar dilaksanakan.
“Kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti Raker ini dengan baik, karena program yang dibahas akan menjadi pedoman pelaksanaan pelayanan selama satu tahun, yakni pada 2027,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Petronela bersama jajaran pengurus pusat, perwakilan kabupaten dan provinsi se-Tanah Papua, serta Dewan Kurator menyampaikan apresiasi kepada Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, atas dukungan dan penyambutan terhadap peserta Raker.
Ia berharap dukungan pemerintah daerah terhadap kegiatan tersebut dapat memperkuat hubungan antara gereja, generasi muda, dan pemerintah dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan.
“Kami mengapresiasi dukungan penuh Bupati Teluk Bintuni. Kami berharap Raker ini melahirkan rekomendasi-rekomendasi iman yang dapat menopang kerja-kerja pemerintah daerah di Tanah Papua,” katanya.
Raker I FGM GKI di Tanah Papua dijadwalkan berlangsung selama dua hari, 29–30 Oktober 2026, di Gedung Serba Guna (GSG) Kalikodok, Teluk Bintuni. Kegiatan ini diperkirakan dihadiri sekitar 400 peserta dari unsur DPP, DPD, DPC, dan pengurus klasis GKI se-Tanah Papua.
Selain merumuskan program pelayanan internal, forum tersebut juga akan menyusun rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah di Tanah Papua. Rekomendasi itu diharapkan turut mendukung pembangunan sumber daya manusia Papua dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, sejalan dengan agenda pembangunan nasional pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Petronela mengatakan rekomendasi hasil Raker nantinya akan disampaikan ke 70 klasis dan 46 kabupaten/kota di Tanah Papua. Namun, untuk tahap awal, FGM GKI akan memusatkan perhatian pada kebutuhan dan prioritas pembangunan di tingkat Papua.
“Dari hasil Raker ini akan ada rekomendasi yang dibagikan ke seluruh wilayah Tanah Papua, 70 klasis dan 46 kabupaten/kota. Untuk saat ini, kami fokus pada skala Papua terlebih dahulu,” pungkasnya.
Melalui forum ini, FGM GKI di Tanah Papua diharapkan tidak hanya memperkuat konsolidasi organisasi, tetapi juga menyiapkan generasi muda gereja yang berkarakter, kritis, dan mampu bekerja bersama berbagai pihak. Sebab, masa depan Papua tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh sejauh mana generasi mudanya diberi ruang untuk berpikir, berkarya, dan mengambil tanggung jawab.
(MA/Inspirasi Papua)













