Teluk Bintuni Tuan Rumah Rakerkesda 2025

Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si didampingi Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, SE., MH., resmi membuka Rakerkesda Papua Barat 2025 di Gedung Sasana Karya Kantor Bupati, SP 3 Manimeri Teluk Bintuni, Selasa (26/8/2025). (ist/Kadate/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 297

Teluk Bintuni Tuan Rumah Rakerkesda 2025: Dari Penghargaan PBB hingga Eliminasi Malaria

 

BINTUNI – Suasana Gedung Sasana Karya Kantor Bupati, SP 3 Distrik Manimeri, Teluk Bintuni, Selasa (26/8/2025), berbeda dari biasanya. Pagi itu, gedung yang berada di tengah kawasan perkampungan transmigrasi itu menjadi pusat perhatian se-Papua Barat. Ratusan peserta dari Dinas Kesehatan seluruh kabupaten/kota berkumpul dalam satu hajatan besar: Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Papua Barat 2025.

Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si, hadir langsung membuka kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kesehatan bukan hanya urusan teknis pelayanan, melainkan pondasi penting pembangunan manusia di tanah Papua Barat.

Namun, sorotan utama justru datang dari tuan rumah: Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, SE., MH. Dengan penuh keyakinan, ia menegaskan bahwa kesehatan adalah “pondasi utama untuk membangun masa depan Papua Barat.”

Prestasi Bintuni Mendunia

Bupati Yohanis memaparkan sederet capaian Teluk Bintuni yang membuat para peserta tertegun. Tidak banyak daerah di Papua Barat yang bisa mengantongi penghargaan United Nations Public Service Award (UNPSA) dari PBB—dan Teluk Bintuni melakukannya pada 2018 lewat program Early Diagnosis and Treatment (EDAT). Sebuah program yang sederhana, tapi mampu menyelamatkan banyak nyawa di pedalaman.

Tak berhenti di sana, Teluk Bintuni juga tercatat sebagai kabupaten terbaik dalam 8 Aksi Konvergensi Penurunan Stunting se-Papua Barat tahun 2024, serta meraih capaian penting dalam eliminasi malaria: tuntas di 6 distrik dan 118 kampung pada 2025. Ditambah lagi, data e-PPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) Bintuni berada di peringkat teratas provinsi tahun ini—sebuah bukti keseriusan daerah dalam urusan gizi anak.

“Prestasi ini bukan hanya milik Teluk Bintuni, tetapi milik seluruh Papua Barat. Karena tanpa kerja sama lintas sektor, kita tidak mungkin berdiri di sini dengan kebanggaan seperti sekarang,” ujar Bupati disambut tepuk tangan hadirin.

Sehat, Sejahtera, dan Pariwisata Mangrove

Di luar data dan capaian teknis, Yohanis Manibuy membawa satu kabar segar. Ia memperkenalkan kawasan eco wisata mangrove di Kampung Masina, hanya lima menit dari Pelabuhan Bintuni. Harapannya, kawasan itu bukan sekadar destinasi wisata, melainkan juga sarana edukasi dan pemberdayaan ekonomi warga lokal.

Bagi Bupati, kesehatan tidak bisa dilepaskan dari lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat. “Kalau alam kita terjaga, ekosistem sehat, maka manusia di dalamnya pun sehat. Karena itu pembangunan kesehatan harus berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi dan lingkungan,” ucapnya.

Momentum Sinergi

Rakerkesda 2025 menjadi ruang refleksi sekaligus proyeksi. Di balik angka-angka capaian, tersimpan realitas yang masih harus ditangani: akses kesehatan di pelosok, keterbatasan tenaga medis, dan kebutuhan infrastruktur dasar. Namun, semangat kolaborasi yang terasa di Bintuni hari itu memberi optimisme bahwa Papua Barat sedang melangkah ke arah yang benar.

“Mari kita jadikan Rakerkesda ini momentum memperkuat kolaborasi lintas sektor. Papua Barat harus sehat, berdaya saing, sejahtera, dan bermartabat,” pungkas Bupati Yohanis Manibuy.

Dan dari Bintuni, sebuah pesan sederhana tapi kuat mengalir: membangun Papua Barat tak bisa hanya dari ruang kota, melainkan juga dari tepian hutan mangrove, pesisir, hingga pedalaman yang jauh dari sorot lampu.

Tim Redaksi KADATE/Inspirasi

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *