Views: 358
Bintuni Jadi Tuan Rumah Rakerkesda Papua Barat: Menyatukan Visi, Menghadirkan Harapan Baru untuk Kesehatan
BINTUNI – Kabupaten Teluk Bintuni kembali dipercaya menjadi tuan rumah Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) se-Papua Barat yang akan digelar pada 25–27 Agustus 2025 mendatang. Sebuah momentum yang bukan hanya soal rapat teknis kesehatan, tetapi juga soal menyatukan visi besar: bagaimana kesehatan masyarakat Papua Barat bisa benar-benar merdeka dari penyakit, dari hulu hingga pesisir, dari kota hingga kampung-kampung terpencil.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, Franky D. Mobilala, SKM., M.Kes, mengaku, menjadi tuan rumah Rakerkesda untuk kedua kalinya adalah sebuah tanggung jawab sekaligus kebanggaan. “Kami ingin menunjukkan bahwa Bintuni siap, bukan hanya secara fasilitas, tapi juga siap menyatukan langkah bersama seluruh kabupaten/kota di Papua Barat untuk menuntaskan persoalan kesehatan yang masih jadi PR kita bersama,” ujarnya ketika ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, Kilo-6 Distrik Bintuni, Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat.
Mengawal Visi Nasional dan Daerah
Rakerkesda tahun ini menjadi sangat strategis. Sebab, forum ini tidak hanya membicarakan program rutin, tetapi juga merajut sinergi antara visi Presiden Prabowo Subianto di tingkat nasional, visi Gubernur Papua Barat, hingga visi para bupati dan wali kota. Semua akan dipadukan menjadi satu arah dalam program kesehatan daerah.
“Visi dan misi itu jangan hanya berhenti di kertas. Kita satukan supaya benar-benar bisa terwujud dalam kerja nyata, terutama untuk eliminasi penyakit-penyakit prioritas seperti malaria, HIV, hepatitis, dan lain-lain. Itu target nasional, tapi sekaligus kebutuhan riil masyarakat Papua Barat,” terang Mobilala.
Bintuni Bersolek untuk Menyambut Tamu
Persiapan pun dikebut. Bupati Teluk Bintuni sebelumnya menawarkan dua lokasi untuk pelaksanaan Rakerkesda, yaitu Gedung Serba Guna (GSG) Bintuni dan Gedung Sasana Karya Kantor Bupati. Setelah mempertimbangkan berbagai aspek, Panitia Provinsi akhirnya memilih Gedung Sasana Karya Kantor Bupati di Bumi Saniari SP-3, Distrik Manimeri, Teluk Bintuni sebagai tempat pelaksanaan. Lokasi ini dianggap lebih representatif sekaligus menjadi simbol bahwa pemerintah daerah benar-benar hadir dalam kerja besar ini.
“Panitia lokal sudah bekerja keras menyiapkan semua hal, mulai dari akomodasi, transportasi, hingga detail teknis lainnya. Kami ingin saat hari H, Bintuni tampil terbaik,” kata Mobilala penuh optimisme.
Dihadiri Tokoh-Tokoh Penting
Rakerkesda ini akan dibuka langsung oleh Gubernur Papua Barat. Menteri Kesehatan atau pejabat Dirjen Kemenkes juga direncanakan hadir sebagai narasumber utama. Kehadiran mereka tentu bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk dukungan nyata pusat terhadap kerja daerah.
Dengan efisiensi anggaran, peserta yang hadir difokuskan hanya pada mereka yang langsung bersentuhan dengan pelayanan kesehatan: Kepala Dinas Kesehatan se-Papua Barat, Direktur Rumah Sakit, BPJS, serta jajaran terkait lainnya. Di tingkat lokal, seluruh Kepala Puskesmas dari 24 puskesmas yang tersebar di Teluk Bintuni diwajibkan ikut serta.
Harapan dari Bumi Sisar Matiti
Bagi masyarakat Bintuni, menjadi tuan rumah bukan hanya soal keramaian acara. Lebih dari itu, ada harapan besar agar keputusan-keputusan penting yang dihasilkan di tanah mereka benar-benar menyentuh rakyat di kampung, pesisir, hingga pedalaman.
“Kesehatan adalah kebutuhan dasar. Kami ingin semua orang Papua Barat, khususnya di Teluk Bintuni, bisa menikmati layanan kesehatan yang setara. Malaria, HIV, hepatitis—semua itu bukan sekadar angka di laporan, tapi kenyataan yang masih dialami warga kami. Harapan kami, lewat Rakerkesda ini, ada percepatan nyata untuk mengatasinya,” tutur Mobilala dengan nada penuh harap.
Langkah Bersama, Jalan Panjang
Rakerkesda mungkin hanya berlangsung tiga hari. Namun, keputusan dan arah kebijakan yang lahir darinya akan menentukan wajah pelayanan kesehatan Papua Barat bertahun-tahun ke depan. Bagi Teluk Bintuni, peran sebagai tuan rumah adalah kesempatan untuk menunjukkan jati diri: daerah yang mampu berdiri sejajar, siap berkontribusi, dan berkomitmen menghadirkan kesehatan yang adil dan merata.
Dan ketika pintu Gedung Sasana Karya nanti terbuka, seluruh mata akan tertuju ke sana—menyaksikan bagaimana dari sebuah kabupaten di ujung Teluk Bintuni, lahir semangat baru untuk mengobati luka lama kesehatan masyarakat Papua Barat.
(Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)













