Views: 2
Rutan Bintuni Dorong Warga Binaan Berubah Sebelum Kembali ke Masyarakat
BINTUNI, inspirasipapua.id — Menjalani masa pidana bukan semata soal menjalankan hukuman. Bagi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Bintuni, masa tersebut juga menjadi kesempatan untuk membina warga binaan agar memiliki bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Rutan Kelas IIB Bintuni, Frits Vence Suruan, mengatakan pembinaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. Menurut dia, kegiatan pembinaan dapat mengurangi kejenuhan sekaligus membantu warga binaan memperbaiki pola pikir dan perilaku.
“Rutan mengurus tahanan yang perlu mendapat perhatian pemerintah. Kegiatan-kegiatan pembinaan penting dilakukan agar warga binaan tidak merasa jenuh dan mendapatkan perhatian,” kata Frits saat bersilaturahmi dengan wartawan di Rutan Bintuni, Kamis (1/10/2026).
Per Oktober 2026, Rutan Bintuni dihuni 158 orang, terdiri atas 136 narapidana dan 22 tahanan. Mereka berasal dari Bintuni, Manokwari dan Sorong. Di antara mereka terdapat dua anak berhadapan dengan hukum dalam kasus pencurian, satu tahanan perempuan dan satu tahanan perkara tindak pidana korupsi.
Frits mengatakan Rutan juga berupaya membuka ruang keterampilan bagi warga binaan. Salah satunya melalui bengkel sepeda motor yang ada di dalam Rutan. Seorang warga binaan yang memiliki pengalaman sebagai montir memberikan pelatihan kepada warga binaan lainnya.
Menurut Frits, keterampilan semacam itu dapat menjadi bekal ketika mereka selesai menjalani masa pidana. Karena itu, Rutan juga menjalin kerja sama dengan organisasi perangkat daerah agar program pembinaan pemerintah daerah dapat turut dilaksanakan di dalam Rutan.
Pembinaan tidak hanya menyentuh keterampilan. Program kerohanian juga menjadi bagian penting, seperti salat berjamaah bagi warga binaan Muslim dan ibadah bagi warga binaan Kristen.
“Pembinaan kerohanian ini diharapkan dapat mengubah watak dan mindset atau pola pikir warga binaan,” ujar Frits.
Selain pembinaan, warga binaan yang memenuhi persyaratan juga memiliki hak untuk memperoleh program integrasi, antara lain remisi, pembebasan bersyarat, cuti bersyarat dan cuti menjelang bebas. Pengusulan dilakukan berdasarkan penilaian terhadap perilaku dan proses pembinaan warga binaan.
Frits menjelaskan, warga binaan yang memenuhi ketentuan akan dinilai melalui Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Jika memenuhi persyaratan, usulan diteruskan ke Balai Pemasyarakatan (Bapas) untuk dilakukan penelitian kemasyarakatan sebelum diproses lebih lanjut.
Saat ini layanan Bapas yang menangani warga binaan Rutan Bintuni berada di Manokwari. Namun, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan berencana membuka Pos Bapas di Bintuni. Lokasinya telah dikoordinasikan dengan pemerintah daerah dan direncanakan berada di kompleks perkantoran vertikal Manimeri.
Jika terealisasi, keberadaan Pos Bapas akan memangkas jarak pelayanan. Warga binaan yang menjalani program integrasi tidak perlu lagi selalu ke Manokwari untuk mendapatkan layanan Bapas. Sebagian pelaporan bahkan kini telah dilakukan secara daring melalui Zoom.
Di sisi lain, pembinaan di Rutan Bintuni masih berhadapan dengan keterbatasan sumber daya manusia. Saat ini terdapat 58 orang yang bekerja, terdiri atas 54 pegawai negeri sipil dan empat tenaga magang dari program Disnakertrans, masing-masing dua orang dari Medan dan dua orang dari Makassar.
Frits mengatakan kebutuhan paling mendesak berada pada petugas penjagaan. Satu regu saat ini hanya berjumlah lima orang, sementara kebutuhan ideal mencapai 10 orang per regu. Penambahan personel telah diusulkan kepada Kantor Wilayah.
“Menjaga Lapas atau Rutan itu menjaga manusia. Ibarat gunung meletus, kita tidak tahu kapan meletus. Karena itu kami membutuhkan personel yang kuat,” katanya.
Frits juga berharap aparat penegak hukum meningkatkan patroli sambang di sekitar Rutan. Menurut dia, sinergi antarlembaga penting untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di Teluk Bintuni.
Bagi Frits, pembinaan pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana warga binaan menyelesaikan hukuman, tetapi bagaimana mereka dapat kembali ke masyarakat dengan perilaku yang lebih baik.
Ia merangkum prinsip itu dalam pesan yang sederhana: “Hari ini kami melanggar, besok kami membangun.”
Frits juga memegang motto dalam bekerja: mencintai tempat bekerja meski pekerjaan itu tidak membuat seseorang kaya. “Kita masih bisa hidup walaupun sedikit, tetapi berkat,” ujarnya.
**(Tim/red/muris/inspirasipapua.id)**













