Putra Tujuh Suku Memimpin Polsek Babo, Ipda Hardiknas Bawa Harapan Baru

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 1

“Putra Daerah Berdarah Tujuh Suku Teluk Bintuni, Ipda Hardiknas Tandiarang Kende, SH Resmi Jabat Kapolsek Babo”

BINTUNI, inspirasipapua.id — Di tanah yang dibentuk oleh keberagaman suku dan kekerabatan, jabatan kepolisian bukan semata soal seragam dan kewenangan. Di Babo, Kabupaten Teluk Bintuni, amanah itu kini berada di tangan seorang putra daerah: Ipda Hardiknas Tandiarang Kende, SH, yang resmi dipercaya menjabat sebagai Kepala Kepolisian Sektor Babo.

Penunjukan Hardiknas merupakan bagian dari keputusan Kapolda Papua Barat dalam rangka pengisian sejumlah jabatan di jajaran kepolisian. Bagi masyarakat Teluk Bintuni, pergantian tersebut memiliki makna lebih dari sekadar rotasi jabatan. Hardiknas dikenal sebagai putra asli daerah yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat dengan latar belakang adat dan budaya yang beragam.

Ia memiliki garis keturunan dari sejumlah suku di Teluk Bintuni. Dari garis ibunya, Hardiknas merupakan keturunan Suku Wamesa. Latar belakang tersebut menjadi bagian dari identitasnya sebagai anak daerah yang memiliki kedekatan dengan kehidupan sosial masyarakat setempat.

Kedekatan dengan akar budaya itu menjadi modal sekaligus tanggung jawab. Sebab, menjaga keamanan di wilayah seperti Babo tidak cukup hanya dengan memahami aturan hukum. Polisi juga dituntut mampu membaca persoalan sosial, mengenali struktur kekerabatan, menghormati pranata adat, dan memahami cara masyarakat menyelesaikan persoalan di lingkungannya.

Di titik inilah peran Kapolsek menjadi penting. Polisi berada di garis terdepan dalam menangani persoalan yang bersentuhan langsung dengan warga. Konflik antarwarga, persoalan pemuda, gangguan kamtibmas, hingga persoalan yang berkaitan dengan adat membutuhkan pendekatan yang tidak hanya tegas, tetapi juga komunikatif.

Sebagai putra daerah, Hardiknas diharapkan mampu menjadikan kedekatan dengan masyarakat sebagai kekuatan dalam menjalankan tugas. Komunikasi dengan tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, pemuda, serta kelompok masyarakat lainnya menjadi bagian penting untuk membangun kepercayaan publik.

Kepercayaan itu pula yang menjadi pekerjaan rumah seorang pemimpin kepolisian. Masyarakat tidak hanya membutuhkan polisi ketika terjadi kejahatan. Mereka membutuhkan polisi yang mudah ditemui, mau mendengar keluhan, memberikan penjelasan ketika terjadi persoalan, sekaligus bertindak tegas ketika hukum memang harus ditegakkan.

Karena itu, latar belakang sebagai putra daerah seharusnya tidak berhenti sebagai kebanggaan identitas. Ia perlu diterjemahkan menjadi pelayanan yang profesional, adil, dan tidak membeda-bedakan masyarakat berdasarkan suku, hubungan kekerabatan, ataupun latar belakang sosial.

Kehadiran Hardiknas di Polsek Babo pun membawa harapan agar hubungan polisi dan masyarakat semakin dekat. Pendekatan humanis bukan berarti mengurangi ketegasan dalam penegakan hukum, melainkan memastikan bahwa hukum dijalankan dengan cara yang menghormati martabat masyarakat.

Bagi Teluk Bintuni, penunjukan Ipda Hardiknas Tandiarang Kende menjadi Kapolsek Babo akhirnya bukan hanya cerita tentang seorang anak daerah yang memperoleh kepercayaan. Ini adalah ujian tentang sejauh mana seorang putra daerah mampu mengubah kedekatan dengan tanah kelahirannya menjadi pengabdian yang dirasakan masyarakat.

Di Babo, seragam yang dikenakannya kini membawa tanggung jawab yang lebih besar: menjaga keamanan tanpa kehilangan kedekatan, menegakkan hukum tanpa mengabaikan kearifan lokal, dan melayani masyarakat tanpa membuat jarak dengan mereka yang dijaganya.

**(Tim/red/MA/inspirasipapua.id)***

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *