Asap Kebakaran Lahan Mengintai, Dinkes Bintuni Siapkan Oksigen di Puskesmas dan Pustu

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 0

“Api Membakar Lahan, Asap Mengincar Paru-Paru Warga Bintuni, Dinkes Bintuni Siapkan Oksigen di Pustu dan Puskesmas”

BINTUNI, inspirasipapua.id — Api mungkin membakar semak dan pepohonan, tetapi bahayanya tidak berhenti pada lahan yang hangus. Di udara, asap membawa partikel-partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan mengganggu kerja jantung.

Kekhawatiran itu mulai menjadi perhatian di Teluk Bintuni setelah kebakaran lahan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Tofoi, Babo dan sebagian kawasan SP-4, Distrik Manimeri.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap asap kebakaran lahan sebagai sekadar gangguan pandangan atau bau yang menusuk hidung.

Ketua PDPI Cabang Papua, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR, menjelaskan asap kebakaran hutan dan lahan mengandung berbagai zat berbahaya, mulai dari karbonmonoksida, karbondioksida, nitrogen oksida, ozon hingga sulfur dioksida.

Ada pula particulate matter atau partikel pencemar udara. Partikel berukuran 2,5 hingga 10 mikrometer (PM10) dapat mengiritasi hidung, tenggorokan dan mata. Sedangkan partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer (PM2,5) jauh lebih mengkhawatirkan karena dapat masuk ke saluran pernapasan hingga paru-paru.

“Partikel halus ini dapat masuk ke dalam saluran napas dan paru sehingga menimbulkan gangguan paru dan jantung,” kata Wiendo dalam materi edukasi mengenai dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap kesehatan, Senin (24/8/2026) di Bintuni.

Menurut dia, karbonmonoksida merupakan salah satu gas paling berbahaya dalam asap kebakaran. Gas ini dapat berikatan dengan hemoglobin jauh lebih kuat dibandingkan oksigen sehingga mengurangi kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan tubuh.

Dampaknya dapat muncul dalam waktu relatif singkat.

Mata bisa terasa perih. Hidung dan tenggorokan mengalami iritasi. Batuk dan bersin menjadi lebih sering. Pada kondisi tertentu, seseorang dapat mengalami sesak napas, dada terasa berat hingga muncul bunyi mengi atau ngik-ngik.

Risiko tersebut tidak sama bagi setiap orang.

Anak-anak, terutama balita, ibu hamil, lanjut usia, penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), penderita penyakit jantung serta mereka yang bekerja di luar ruangan merupakan kelompok yang lebih rentan terhadap paparan asap.

Wiendo juga mengingatkan, paparan asap dapat memperburuk penyakit yang sebelumnya sudah dimiliki seseorang. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat meningkat, terutama pada anak-anak. Serangan asma dan gejala PPOK juga dapat memburuk. Pada penderita penyakit jantung, polusi asap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius.

Dinkes Bintuni Siapkan “Payung Sebelum Hujan”

Di Teluk Bintuni, Dinas Kesehatan tidak ingin menunggu sampai warga mulai memenuhi fasilitas kesehatan baru kemudian bertindak.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, dr. Johannes Risamasu, mengatakan pihaknya telah menerima informasi mengenai kebakaran lahan di sejumlah wilayah.

“Kami mengimbau kepada masyarakat Teluk Bintuni untuk mengenali gejala-gejala penyakit yang mungkin muncul akibat terdampak dari adanya kebakaran lahan,” kata Johannes.

Menurut dia, asap kebakaran dapat menyebabkan sesak napas, ISPA dan iritasi mata. Karena itu, masyarakat diminta melakukan langkah pencegahan sejak dini.

Masker, kata Johannes, menjadi salah satu perlindungan sederhana ketika warga harus beraktivitas di luar rumah. Aktivitas di luar ruangan juga perlu dikurangi ketika kualitas udara memburuk.

Di dalam rumah, masyarakat diminta menjaga kualitas udara tetap baik, memperbanyak minum air putih dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Bila keluhan kesehatan semakin berat, masyarakat diminta tidak menunda pemeriksaan.

“Jangan ragu-ragu menggunakan fasilitas-fasilitas layanan kesehatan yang ada, mulai dari Pustu, Puskesmas sampai rumah sakit RSUD Teluk Bintuni,” ujarnya.

Dinas Kesehatan, kata Johannes, telah menyiapkan obat-obatan di Pustu dan Puskesmas untuk mengantisipasi penyakit yang berpotensi muncul akibat paparan asap.

Bukan hanya obat.

Tabung oksigen juga disiapkan di sejumlah Puskesmas. Puskesmas Tofoi, misalnya, telah dikirim empat tabung oksigen. Peralatan serupa juga dikirim ke Puskesmas Manimeri sesuai kebutuhan.

“Payung sebelum hujan. Jangan sampai sudah terjadi penyakit baru kita bingung,” kata Johannes.

Langkah tersebut menjadi penting karena karakter kebakaran lahan berbeda dengan kebakaran bangunan. Api dapat berpindah, sementara asap bisa terbawa angin dan mencapai wilayah yang relatif jauh dari titik api.

Bukan Hanya Masker

PDPI Cabang Papua mengingatkan perlindungan terhadap asap tidak cukup hanya dengan mengenakan masker.

Masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan dan menghindari kawasan yang masih terbakar atau memiliki kualitas udara tidak sehat. Pintu dan jendela rumah sebaiknya ditutup rapat untuk mengurangi masuknya asap.

Bagi warga yang menggunakan pendingin ruangan, AC dapat diatur pada mode recirculate agar udara dari luar yang tercemar tidak terus-menerus masuk ke dalam ruangan.

Daya tahan tubuh juga perlu dijaga dengan istirahat cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer.

Satu hal lain yang tak kalah penting adalah menjauhkan diri dari asap rokok. Bagi perokok, kondisi udara yang sudah tercemar asap kebakaran merupakan alasan tambahan untuk menghentikan kebiasaan tersebut.

Masyarakat juga diminta terus memantau perkembangan kebakaran dan kualitas udara di wilayah masing-masing.

Sebab, dalam situasi kebakaran lahan, yang tidak terlihat mata justru bisa menjadi ancaman paling dekat: partikel-partikel sangat kecil yang masuk bersama setiap tarikan napas.

Jika mulai muncul batuk, bersin terus-menerus, batuk berdahak, sesak napas, bunyi mengi atau nyeri dada, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Di Teluk Bintuni, api masih dapat dipadamkan. Namun untuk paru-paru, pencegahan jauh lebih mudah daripada mengobati kerusakan yang sudah terjadi.

**(Tim/red/MA/inspirasi Papua.id)**

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *