Views: 1
“Frits Vence Suruan Pimpin Rutan Bintuni, Diminta Jaga Keamanan Tanpa Kehilangan Sisi Kemanusiaan”
BINTUNI, inspirasipapua.id — Menjadi kepala rumah tahanan bukan sekadar duduk di kursi pimpinan. Di balik tembok Rutan Kelas IIB Bintuni, seorang kepala rutan dituntut mampu menjaga keamanan, memastikan hak warga binaan terpenuhi, sekaligus membangun jajaran yang disiplin dan solid.
Pesan itu mengemuka dalam Serah Terima Jabatan Kepala Rutan Kelas IIB Bintuni dari Pelaksana Tugas Kepala Rutan, Kamaruddin, S.H., kepada Frits Vence Suruan, S.H., M.H., di Aula Rutan Kelas IIB Bintuni, Distrik Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, Selasa, 1 September 2026.
Frits kini memimpin Rutan Bintuni secara definitif setelah dilantik Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Papua Barat pada 27 Agustus 2026.
Kepala Bagian Tata Usaha dan Umum Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Papua Barat, Yonas Kaway, S.H., M.Th., yang membacakan sambutan Kepala Kanwil, mengingatkan bahwa pergantian pimpinan bukan sekadar perpindahan jabatan. Sertijab, kata dia, merupakan bagian dari regenerasi dan upaya menjaga kesinambungan organisasi.
“Jabatan adalah amanah. Jabatan bukan sekadar kedudukan, tetapi tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan penuh integritas, loyalitas dan keteladanan,” ujar Yonas.
Pesan itu sekaligus menjadi pekerjaan pertama bagi Frits. Ia diminta segera membaca kondisi internal Rutan Bintuni, memahami karakter satuan kerja, kemudian memetakan persoalan sebelum menentukan langkah.
Menurut Yonas, konsolidasi internal diperlukan agar pemimpin baru tidak bekerja berdasarkan asumsi. Kondisi keamanan dan ketertiban, pelayanan kepada tahanan dan warga binaan, disiplin pegawai, sumber daya manusia, keuangan, Barang Milik Negara, administrasi hingga akuntabilitas harus dipahami secara menyeluruh.
Terutama soal keamanan.
Yonas mengingatkan agar setiap potensi gangguan tidak dianggap remeh. Deteksi dini, komunikasi dan koordinasi antarpersonel harus menjadi bagian dari kebiasaan kerja.
“Jangan pernah menganggap kecil setiap potensi gangguan keamanan. Lakukan deteksi dini, bangun koordinasi yang kuat dan pastikan seluruh jajaran memahami bahwa keamanan dan pelayanan merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.
Namun, keamanan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah rutan. Di balik pintu Rutan, terdapat tahanan dan warga binaan yang tetap memiliki hak atas pelayanan dan pembinaan.
Karena itu, kepemimpinan di Rutan Bintuni juga dituntut mampu menjaga keseimbangan antara ketegasan dalam keamanan dan pendekatan yang manusiawi dalam pelayanan.
Yonas meminta Frits membangun lingkungan kerja yang sehat, disiplin, profesional dan harmonis. Komunikasi dengan pegawai harus dibuka, termasuk mendengarkan persoalan dan aspirasi yang muncul dari jajaran.
Pemimpin, menurut dia, juga tidak cukup hanya pandai mengelola administrasi. Ia harus mampu memberi arah dan berani mengambil keputusan ketika organisasi menghadapi persoalan.
“Jadilah pemimpin yang hadir, bukan hanya terlihat hadir. Hadir dalam menyelesaikan persoalan, hadir ketika jajaran membutuhkan arahan, dan hadir dalam memastikan setiap tugas dilaksanakan dengan benar,” ujarnya.
Bukan Kerja Sendiri
Tantangan Rutan Bintuni juga tidak mungkin diselesaikan hanya dari dalam tembok rutan.
Pelaksanaan tugas pemasyarakatan membutuhkan hubungan kerja dengan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni, aparat penegak hukum, instansi vertikal, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
Yonas mengapresiasi dukungan Pemkab Teluk Bintuni, Forkopimda dan stakeholder yang selama ini membantu pelaksanaan tugas Rutan Bintuni. Sinergi tersebut diminta tidak berhenti setelah pergantian pimpinan.
“Pemasyarakatan bukan hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menciptakan keamanan, ketertiban dan pembinaan bagi warga binaan agar dapat kembali ke tengah masyarakat,” katanya.
Pandangan itu menempatkan rutan bukan semata-mata sebagai tempat penahanan. Ada fungsi pembinaan yang harus berjalan agar warga binaan memiliki kesempatan memperbaiki diri dan ketika masa pidana berakhir dapat kembali menjadi bagian dari masyarakat.
Di sisi lain, Yonas meminta seluruh pegawai Rutan Bintuni memberikan dukungan kepada Frits. Perbedaan internal tidak boleh berkembang menjadi kelompok-kelompok yang mengganggu soliditas organisasi.
“Seorang Kepala Rutan membutuhkan dukungan dari seluruh pegawai. Sebaliknya, pimpinan harus mampu memberikan arah, perlindungan dan keteladanan kepada jajarannya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Kanwil Dirjen Pemasyarakatan Papua Barat juga menyampaikan penghargaan kepada Kamaruddin yang selama menjalankan tugas sebagai Plt Kepala Rutan Bintuni dinilai telah menjaga roda organisasi dan pelayanan pemasyarakatan tetap berjalan.
Pergantian kepemimpinan tersebut akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang menempati jabatan kepala rutan. Lebih jauh, Sertijab menjadi penanda dimulainya tanggung jawab baru: menjaga rutan tetap aman, memastikan pelayanan berjalan, membangun pegawai yang solid, dan memastikan pembinaan warga binaan tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.
Di bawah kepemimpinan Frits, Rutan Kelas IIB Bintuni diharapkan tidak hanya bekerja lebih tertib secara administratif, tetapi juga semakin kuat dalam keamanan, pelayanan, pembinaan dan inovasi.
Frits kini memiliki ruang untuk membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal seberapa sering seorang pimpinan terlihat di kantor, melainkan seberapa jauh kehadirannya mampu menyelesaikan persoalan dan menggerakkan seluruh jajaran menuju tujuan yang sama.
**(Tim/red/MA/Inspirasi Papua.id)**













