Views: 1
“Guru PAUD Menyalakan Asa dari Bintuni, Pemerintah Siapkan PAUD Holistik Integratif 2027”
BINTUNI, inspirasipapua.id — Di ruang-ruang belajar yang sederhana, masa depan anak-anak Teluk Bintuni mulai dibentuk. Bukan hanya lewat huruf, angka dan warna, tetapi melalui senyum, kesabaran, disiplin, keberanian hingga kebiasaan berbagi.
Para guru pendidikan anak usia dini atau PAUD menjadi orang-orang yang setiap hari berada di garis awal perjalanan itu.
Pesan tersebut mengemuka dalam puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-21 Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kabupaten Teluk Bintuni di Gedung Women and Child Center (WCC), Distrik Bintuni, Senin, 31 Agustus 2026.
Peringatan tahun ini mengusung tema “Nyalakan Asa, Wujudkan Pengakuan dan Kesetaraan Guru PAUD.” Tema itu tidak sekadar menjadi slogan perayaan. Bagi para pendidik, tema tersebut menyentuh persoalan yang mereka hadapi: bagaimana pengabdian guru PAUD, terutama pendidik nonformal, memperoleh pengakuan, hak dan perhatian yang setara.
Ketua HIMPAUDI Kabupaten Teluk Bintuni, Blandina Ester Arsai, mengatakan usia 21 tahun merupakan perjalanan panjang bagi organisasi yang selama ini menjadi wadah perjuangan para pendidik anak usia dini.
Menurut Blandina, perjalanan itu tidak selalu mudah. Para pendidik menghadapi berbagai keterbatasan, namun tetap berusaha memberikan fondasi pendidikan bagi anak-anak.
“Organisasi tercinta kita HIMPAUDI telah berusia 21 tahun. Ini merupakan usia yang matang bagi sebuah wadah perjuangan dalam mengabdi kepada anak negeri,” kata Blandina.
Ia mengajak para guru PAUD tidak kehilangan semangat meski menghadapi berbagai tantangan. Menurut dia, pekerjaan mendidik anak usia dini membutuhkan ketulusan karena hasilnya tidak selalu langsung terlihat.
“Kepada seluruh pendidik PAUD di Teluk Bintuni, tetaplah kuat dan tetaplah ikhlas mendidik dengan hati. Mari kita jadikan usia ke-21 HIMPAUDI ini sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas, meningkatkan kompetensi dan terus berjuang bersama,” ujarnya.
Blandina menyebut pengabdian guru PAUD di Teluk Bintuni tidak hanya berlangsung di pusat kota. Para pendidik juga menjalankan tugas di Distrik Bintuni, Manimeri, Tuhiba, Tembuni hingga wilayah pesisir dan pedalaman.
Di tempat-tempat tersebut, guru PAUD menjadi salah satu orang pertama yang memperkenalkan dunia pendidikan kepada anak-anak.
“Pendidik PAUD adalah pelita yang menyalakan asa masa depan anak-anak kita. Mereka adalah generasi emas dan penerus bangsa di Tanah Papua, khususnya di Kabupaten Teluk Bintuni,” katanya.
Pondasi sebelum anak melangkah lebih jauh
Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Teluk Bintuni, Dr. Henry D. Kapuangan, mengatakan pendidikan anak usia dini merupakan fondasi penting sebelum seorang anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
Menurut Henry, kesalahan dalam membangun karakter pada masa awal pertumbuhan dapat berpengaruh terhadap perkembangan anak pada tahap berikutnya.
“Pendidikan anak usia dini ini menjadi dasar dan pondasi untuk menuju ke jenjang pendidikan berikutnya. Ketika kita salah membentuk karakter dan pondasinya salah, maka ke depan juga pasti akan salah,” tegasnya.
Karena itu, kata Henry, tugas guru PAUD jauh lebih besar daripada sekadar mengajarkan anak mengenal huruf, angka atau warna.
Di ruang kelas PAUD, anak belajar mengenal kasih sayang, belajar menunggu giliran, berani berbicara, bertanggung jawab, bekerja sama dan mulai memahami kejujuran.
“Di tangan Bapak dan Ibu guru, anak-anak belajar mengenal kasih sayang, disiplin, tanggung jawab, kebersamaan, keberanian, kejujuran dan rasa percaya diri,” ujarnya.
Henry menyampaikan penghargaan kepada guru dan tenaga kependidikan PAUD yang tetap mengabdi di wilayah dengan akses terbatas.
Ia mengakui tantangan pendidikan di Teluk Bintuni masih cukup besar. Kondisi geografis, keterbatasan sarana dan prasarana serta distribusi tenaga pendidik menjadi persoalan yang membutuhkan kerja bersama.
Karena itu, pemerintah daerah, HIMPAUDI, sekolah, guru, orang tua dan masyarakat dinilai perlu berada dalam satu gerak.
“Pendidikan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah, bukan hanya tanggung jawab Dinas Pendidikan atau guru-guru. Ini adalah kolaborasi dan sinergitas yang harus kita bangun,” kata Henry.
PAUD Holistik Integratif mulai disiapkan
Salah satu agenda penting yang disampaikan Henry dalam peringatan tersebut adalah rencana Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menerapkan Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) mulai 2027.
Konsep tersebut memandang pendidikan anak tidak hanya dari sisi pembelajaran. Kesehatan, gizi, perlindungan, kenyamanan lingkungan serta tumbuh kembang anak harus diperhatikan secara bersamaan.
Untuk itu, pemerintah daerah akan membentuk gugus tugas lintas sektor.
Dinas Pendidikan tidak akan bekerja sendiri. Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Bappedalitbangda dan perangkat daerah maupun pihak terkait lainnya akan dilibatkan.
“PAUD tidak bisa hanya dikerjakan oleh Dinas Pendidikan. Kita akan melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Bappedalitbangda dan seluruh pihak terkait. Kita akan membentuk gugus tugas,” jelasnya.
Menurut Henry, rancangan Peraturan Bupati mengenai program tersebut telah disampaikan kepada Bupati Teluk Bintuni dan diharapkan segera direalisasikan.
Pendekatan itu penting karena seorang anak tidak hanya membutuhkan guru yang baik. Ia juga membutuhkan makanan bergizi, lingkungan yang aman, layanan kesehatan, perlindungan dari kekerasan serta dukungan keluarga.
Dengan PAUD HI, berbagai kebutuhan tersebut diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Mengejar ribuan data pendidikan
Selain kualitas pembelajaran, Henry menyoroti persoalan lain yang tidak kalah penting: data pendidikan.
Ia meminta seluruh kepala satuan pendidikan, guru dan tenaga kependidikan memastikan data dalam Data Pokok Pendidikan atau Dapodik selalu akurat dan diperbarui.
Menurut Henry, data bukan sekadar angka administratif. Data menjadi dasar pemerintah dalam merencanakan anggaran dan menentukan penerima berbagai program pendidikan.
Penyaluran Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP), Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) dan sejumlah program pemerintah lainnya bergantung pada data yang tercatat dalam sistem.
“Data ini menjadi sangat penting. Penyaluran BOSP, BOP dan berbagai program pemerintah semuanya berbasis data Dapodik. Kalau data tidak direncanakan dan diverifikasi dengan baik, maka kita sendiri yang akan dirugikan,” katanya.
Henry mengungkapkan, ketika mulai menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan, terdapat sekitar 9.000 data siswa yang belum valid atau belum tercatat dengan baik.
Data tersebut kemudian dikejar melalui proses verifikasi dan validasi.
“Dalam satu tahun kita mengejar hampir 9.000 data siswa yang tidak valid. Hari ini jumlahnya sudah jauh berkurang, dan ini terus kita kejar,” ujarnya.
Ia mengingatkan, anak yang tidak tercatat secara benar dalam sistem berpotensi kehilangan kesempatan memperoleh hak dari berbagai program pemerintah.
Karena itu, pembenahan data harus menjadi pekerjaan bersama, mulai dari satuan pendidikan hingga pemerintah daerah.
Guru PAUD dan investasi masa depan
Bagi Henry, memperbaiki pendidikan anak usia dini berarti menyiapkan manusia yang kelak akan menentukan arah Kabupaten Teluk Bintuni.
Ia meminta HIMPAUDI terus menjadi mitra strategis pemerintah daerah. Berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan, kata dia, harus disampaikan secara konstruktif agar dapat dicari jalan keluarnya bersama.
Ia juga meminta guru PAUD tidak menganggap pekerjaan mereka sebagai pekerjaan kecil.
“Jangan pernah merasa bahwa apa yang Bapak dan Ibu lakukan adalah pekerjaan kecil. Setiap senyum yang diberikan kepada anak, setiap pengetahuan yang diajarkan, setiap karakter yang dibentuk dan setiap kesabaran dalam mendampingi mereka adalah bagian dari investasi besar untuk masa depan Kabupaten Teluk Bintuni,” ujar Henry.
Anak-anak yang hari ini duduk di ruang PAUD, menurut dia, suatu hari akan menjadi bagian dari generasi yang memimpin daerah.
“Hari ini kita mendidik anak-anak PAUD, tetapi sesungguhnya kita sedang mempersiapkan pemimpin Teluk Bintuni di masa depan,” katanya.
Peringatan HUT ke-21 HIMPAUDI akhirnya tidak berhenti pada perayaan usia organisasi. Momentum itu menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia dimulai jauh sebelum anak mengenakan seragam sekolah dasar.
Dimulai dari ruang kelas kecil, dari guru yang sabar mendampingi, dari orang tua yang terlibat, dan dari pemerintah yang memastikan anak memperoleh haknya untuk tumbuh sehat, aman dan mendapatkan pendidikan yang layak.
Di sanalah asa masa depan Teluk Bintuni mulai dinyalakan.
Dirgahayu ke-21 HIMPAUDI. Jayalah Guru PAUD, wujudkan anak Indonesia yang sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia.
**(Tim/red/MA/inspirasi Papua.id)**













