Views: 17
“Agus Yusufi Klarifikasi Pasokan Solar Lindes Tomu-Sebyar”

BINTUNI — Solar bagi warga Tomu dan Sebyar bukan sekadar bahan bakar. Dari cairan itu mesin Listrik Desa atau Lindes bekerja, lampu rumah menyala, anak-anak dapat belajar pada malam hari, dan aktivitas warga tetap berjalan. Ketika pasokan terlambat, yang ikut tersendat bukan hanya mesin, melainkan kehidupan sehari-hari.
Persoalan pasokan solar untuk Lindes di dua wilayah itu mendapat klarifikasi dari Pedia Solar Lindes Agus Yusufi. Ia mengatakan 10 ton BBM industri telah dikirim pada 6 September 2026. Pengiriman tersebut, menurut Agus, dilengkapi berita acara serah terima yang mencatat BBM telah diterima operator Lindes, Royen Simanjuntak.
Dengan volume 10 ton itu, Agus memperkirakan kebutuhan operasional Lindes dapat terpenuhi sekitar dua pekan. “Seharusnya listrik menyala mulai tanggal 6 sampai dengan tanggal 20 September,” kata Agus kepada wartawan di Terpadu, Distrik Bintuni, Selasa, 8 September 2026.
Agus mengakui distribusi BBM sempat mengalami keterlambatan beberapa hari. Ia menyebut persoalan transportasi dari Bintuni menuju Tomu sebagai kendalanya. Namun ia memastikan pasokan yang dikirim pada 6 September telah diterima operator.
Di titik inilah persoalan pasokan BBM dan persoalan listrik perlu dibedakan. Solar yang sudah tiba belum otomatis berarti listrik menyala. Ketersediaan bahan bakar berada pada rantai distribusi, sedangkan pengoperasian mesin Lindes menjadi tanggung jawab operator di bawah Unit Pelaksana Teknis Daerah atau UPTD.
“Saya tidak punya kewenangan untuk mengatur operator, karena operator Lindes itu diatur UPTD. Saya hanya menyalurkan BBM ke Lindes,” ujar Agus.
Penjelasan itu penting bagi masyarakat. Gangguan listrik di kampung dapat memiliki lebih dari satu penyebab. Jika BBM belum tiba, persoalannya berada pada distribusi. Tetapi jika BBM sudah diterima dan mesin belum beroperasi, persoalannya perlu ditelusuri pada tahap pengelolaan dan pengoperasian Lindes. Memisahkan kedua persoalan itu membantu menghindari kesimpulan yang keliru dan saling menyalahkan.
Agus juga meminta warga segera menyampaikan informasi jika menemukan persoalan distribusi BBM. Laporan, kata dia, dapat disampaikan kepadanya agar kondisi di lapangan bisa segera diperiksa dan diklarifikasi.
Ia menjelaskan nomor telepon lamanya kini sudah tidak dapat digunakan. Telepon seluler itu jatuh ke air ketika dirinya sedang mendistribusikan BBM ke wilayah Weriagar.
“Saya memastikan BBM tidak ada keterlambatan,” katanya.
Bagi warga Tomu dan Sebyar, kepastian pasokan tetap menjadi bagian penting dari persoalan yang lebih besar: bagaimana listrik desa benar-benar hadir secara rutin. BBM adalah bahan bakarnya, operator adalah pihak yang menjalankan mesin, sementara UPTD memegang kewenangan pengelolaan. Ketiganya harus bekerja dalam satu rantai yang sama.
Sebab bagi warga, yang dibutuhkan pada akhirnya bukan sekadar bukti bahwa solar telah dikirim atau diterima. Mereka membutuhkan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih nyata: lampu yang menyala ketika malam datang.
**(Tim/red/MA/inspirasipapua.id)**













