Ketika Ijazah S1 Belum Cukup, Asriyanto Memilih Belajar Lagi

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 13

“Ijazah S1 Tak Membuat Asriyanto Menunggu, P2TIM Membawanya ke LNG Tangguh”

BINTUNI, inspirasipapua.id — Gelar sarjana pendidikan tidak serta-merta membawa Asriyanto Nabi ke dunia kerja. Setelah lulus, ia justru berhadapan dengan persoalan yang dialami banyak anak muda: mencari pekerjaan di tengah persaingan dan keterbatasan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri.

Asriyanto tidak memilih menunggu.

Pemuda asal Suku Sebyar, Kampung Kamundan, Kabupaten Teluk Bintuni, itu mengambil keputusan untuk kembali belajar. Pada April 2023, ia masuk Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas (P2TIM). Sekitar tiga setengah bulan kemudian, ia menuntaskan pelatihan dan mulai mengetuk pintu-pintu pekerjaan.

Kini, lebih dari setahun terakhir, Asriyanto bekerja di kawasan LNG Tangguh bersama PT Petrosea UCC Tangguh sebagai General Helper Scaffolding.

Perjalanan itu menjadi bukti baginya bahwa pendidikan formal dan keterampilan kerja harus berjalan beriringan.

Asriyanto merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Ia telah menyelesaikan pendidikan strata satu dan memperoleh gelar S.Pd. Namun gelar akademik tersebut tidak membuatnya merasa cukup.

Justru setelah menyelesaikan pendidikan, ia menyadari bahwa dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar ijazah.

Di P2TIM, ia belajar hal-hal yang sebelumnya mungkin tampak sederhana, tetapi kemudian menjadi penting ketika masuk ke lingkungan industri: disiplin, komunikasi, keselamatan kerja dan kemampuan bekerja bersama orang lain.

“P2TIM adalah pembinaan dan tempat training yang sangat luar biasa. Saya merasa aman dan nyaman selama sekolah di P2TIM,” kata Asriyanto.

Salah satu pelajaran yang paling membekas baginya adalah communication skill.

Asriyanto mengaku kemampuan berkomunikasi menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak yang tumbuh di kampung ketika harus masuk ke lingkungan kerja dengan orang-orang dari berbagai latar belakang.

Ia belajar menyampaikan sesuatu dengan lebih jelas, mendengarkan instruksi dan membangun komunikasi dengan orang lain.

“Karena kita dari kampung kadang bicara tumpang tindih, orang tidak mengerti. Dari situ kita belajar komunikasi dan menjadi lebih nyambung serta percaya diri dengan orang lain,” ujarnya.

Pelajaran tersebut kemudian menemukan tempatnya di dunia kerja.

Di lingkungan proyek, komunikasi bukan hanya soal bagaimana seseorang berbicara. Komunikasi berkaitan dengan bagaimana instruksi dipahami, pekerjaan dilakukan dan keselamatan dijaga.

Selain communication skill, ia mendapatkan pelajaran teknik sesuai bidangnya serta materi lain yang diberikan selama training.

Namun bagi Asriyanto, pengalaman di P2TIM tidak berhenti pada materi di ruang kelas.

Ia mengingat bagaimana para staf mendampingi peserta di kelas maupun asrama. Menurut dia, para pembimbing mengajar dengan sabar, memberikan motivasi dan memperhatikan kebutuhan peserta, termasuk makan, minum, istirahat dan kesempatan menjalankan ibadah.

Pengalaman itu perlahan membentuk cara pandangnya tentang pekerjaan.

Setelah lulus training, ia menanamkan satu tekad: tidak boleh menyerah hanya karena belum mendapatkan pekerjaan.

Ia mulai mencari dan terus mencoba.

“Boleh berharap sama orang lain, tetapi bukan berarti tidak berusaha. Kalau kita ingin mendapatkan sesuatu yang kita mau, berusahalah untuk mendapatkan itu dengan tanganmu sendiri. Itu jauh lebih bermakna,” katanya.

Nasihat tersebut kini ia sampaikan kepada pemuda-pemudi Teluk Bintuni yang masih mencari arah.

Menurut Asriyanto, menganggur bukan alasan untuk berhenti belajar. Begitu pula mengikuti pelatihan bukan berarti seseorang otomatis mendapatkan pekerjaan.

Tetapi pelatihan dapat memberikan bekal yang sebelumnya belum dimiliki.

“Tidak semua yang ikut training langsung kerja. Tapi besar manfaatnya. Kita jadi tahu hidup disiplin dan bergaul dengan baik. Itu modal untuk diterima dan bergaul di mana-mana,” ujarnya.

Ia meminta anak-anak muda tidak mudah patah semangat dan tidak terus-menerus menyalahkan keadaan.

Baginya, masa depan merupakan tanggung jawab masing-masing orang.

“Jangan menyalahkan situasi. Hidup kita itu tanggung jawab kita sendiri. Jadi jangan salahkan orang lain dan jangan salahkan keadaan,” katanya.

Di atas usaha itu, ia menempatkan doa.

Sebagai seorang muslim, Asriyanto meyakini setiap ikhtiar perlu disertai dengan memohon pertolongan Allah SWT.

“Libatkan Sang Maha Kuasa, Allah SWT, dalam setiap apa yang kita inginkan. Insya Allah cepat atau lambat kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Doakan apa yang kamu mau dan usahakan itu dalam hidup sehari-hari,” ujarnya.

Kini pekerjaan di LNG Tangguh memberikan arti lain bagi perjalanan tersebut. Bukan hanya tentang posisi sebagai General Helper Scaffolding, tetapi juga tentang kesempatan membantu perekonomian keluarganya.

Karena itu, ia menyampaikan apresiasi kepada P2TIM, khususnya PetroTekno, beserta seluruh pimpinan dan staf yang telah memberikan pembinaan.

Ia berharap pengetahuan dan pengalaman yang diberikan kepada para peserta menjadi amal jariyah bagi mereka yang mengajar dan mendampingi.

Asriyanto juga berharap P2TIM terus berkembang sebagai tempat pembentukan keterampilan bagi anak-anak tujuh suku di Teluk Bintuni.

Ia ingin P2TIM semakin dikenal dan diterima masyarakat Papua Barat, terutama di Kabupaten Teluk Bintuni dan daerah sekitarnya.

“Terima kasih untuk P2TIM yang telah membantu kami bisa berkarier dan membantu ekonomi keluarga kami di luar sana,” katanya.

Kisah Asriyanto pada akhirnya bukan sekadar cerita seorang pemuda yang berhasil memperoleh pekerjaan.

Ia adalah gambaran tentang sebuah pilihan.

Ketika ijazah belum membuka pintu, ia memilih menambah keterampilan. Ketika pekerjaan belum datang, ia memilih mencari. Ketika keadaan tidak mudah, ia memilih tidak menyalahkan keadaan.

Dari Kamundan, ia membawa pendidikan S1. Dari P2TIM, ia membawa keterampilan dan disiplin. Dan di LNG Tangguh, ia sedang membangun satu hal yang lebih besar: masa depan untuk dirinya dan keluarganya.

Pesannya sederhana untuk generasi muda Teluk Bintuni: jangan hanya menunggu kesempatan. Persiapkan diri, berusaha, berdoa, lalu berani mengetuk pintu.

**(Tim/red/MA/Inspirasi Papua.id)**

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *