Barcode Tak Mampu Redam Antrean, DPR PB Minta SPBU Tisay Benahi Pengawasan

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 10

Barcode Berlaku, Antrean BBM di SPBU Tisay Kian Mengular; DPR Papua Barat Soroti Dugaan Penyalahgunaan Subsidi

BINTUNI, PAPUA BARAT, inspirasipapua id – Antrean kendaraan di SPBU Tisay, Distrik Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, justru kian mengular setelah sistem barcode untuk pembelian BBM subsidi diterapkan. Kondisi yang semula diharapkan membuat distribusi Pertalite dan Bio Solar lebih tertib itu kini dipersoalkan karena dinilai belum mampu menutup celah penyalahgunaan di lapangan.

Anggota DPR Papua Barat, Agustinus Orosomna, SH, mengatakan antrean panjang yang hampir setiap hari memadati badan jalan tidak semata dipicu tingginya kebutuhan masyarakat. Menurut dia, masih ada dugaan praktik pembelian BBM menggunakan kendaraan bertangki modifikasi untuk memperoleh volume lebih besar. Jika dugaan itu benar, sistem barcode belum sepenuhnya berjalan sesuai tujuan, yakni memastikan subsidi tepat sasaran.

“Pihak SPBU Tisay harus lebih tegas mengatur mekanisme pengisian BBM, termasuk membatasi praktik tap-tap yang menyebabkan antrean mengular di sepanjang jalan raya,” kata Agustinus kepada wartawan, Kamis (23/7/2026).

Politikus tersebut menilai penerapan barcode semestinya menjadi instrumen pengendalian distribusi BBM bersubsidi, bukan justru melahirkan antrean yang lebih panjang. Ia membandingkan kondisi sebelum sistem barcode diberlakukan, ketika antrean kendaraan disebut tidak sepanjang sekarang. Setelah kebijakan diterapkan, antrean bahkan meluber ke jalan raya dan berpotensi mengganggu arus lalu lintas.

Selain persoalan antrean, Agustinus juga menyoroti dugaan kebocoran distribusi BBM subsidi. Ia mengaku masih menemukan Pertalite yang dibeli dari SPBU kemudian dijual kembali di pinggir jalan dengan harga lebih tinggi. Praktik tersebut, menurut dia, mengindikasikan masih lemahnya pengawasan terhadap penyaluran BBM subsidi, meski mekanisme barcode telah diterapkan.

Karena itu, ia mendesak pengelola SPBU Tisay bersama instansi terkait memperketat pengawasan terhadap kendaraan yang melakukan pengisian, termasuk memeriksa dugaan penggunaan tangki modifikasi dan praktik pembelian berulang. Sosialisasi mengenai penggunaan barcode kepada masyarakat juga dinilai perlu ditingkatkan agar tidak menimbulkan kebingungan yang berujung pada penumpukan kendaraan.

Pernyataan Agustinus membuka pertanyaan yang lebih besar: apakah antrean panjang di SPBU Tisay semata-mata akibat implementasi sistem barcode, atau justru mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap distribusi BBM subsidi di tingkat lapangan. Hingga berita ini disusun, belum ada tanggapan resmi dari pengelola SPBU Tisay maupun instansi yang membawahi pengawasan distribusi BBM subsidi terkait kritik tersebut.

***(Tim/red/MA/inspirasi Papua.id)***

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *