156 Ton Benih Padi Disiapkan untuk Menyulap Papua Selatan Jadi Lumbung Pangan

Bagikan berita ini

Views: 56

Dari Butir ke Harapan: 156 Ton Benih Padi Disiapkan untuk Menyulap Papua Selatan Jadi Lumbung Pangan

 

MERAUKE — Di balik butiran kecil benih padi yang tiba di Kabupaten Merauke, tersimpan harapan besar untuk masa depan Papua Selatan. Lebih dari 156.840 kilogram benih unggul didatangkan dari Pulau Jawa, bukan sekadar angka logistik—tapi bagian dari mimpi panjang: menjadikan tanah Papua bukan hanya subur, tapi makmur.

Langit Merauke pagi itu masih teduh saat truk-truk pengangkut benih padi mulai menepi di gudang penyimpanan. Di sudut lokasi, seorang petugas berseragam karantina tampak menunduk memeriksa dokumen, lalu membuka satu karung. Tangannya menyelami butiran benih, matanya jeli. Ia bukan sekadar memeriksa — ia memastikan masa depan pangan daerah ini benar-benar aman sejak dini.

“Pemeriksaan kami tidak main-main. Kami pastikan benih yang masuk ini tidak membawa hama atau penyakit yang bisa merugikan petani,” ujar Khafidul Akmal, pejabat karantina yang hari itu memimpin pengawasan. Ucapannya tegas, tapi sorot matanya menyimpan kebanggaan: menjadi garda pertama penjaga pangan Papua.

Benih-benih itu nantinya akan ditanam di hamparan lahan luas yang masih perawan, sebagian bahkan belum pernah tersentuh mesin tanam. Kabupaten Merauke, sebagai jantung pertanian Papua Selatan, kini menjadi episentrum gerakan swasembada pangan.

“Lahan kita ada. Petani kita semangat. Yang dibutuhkan adalah benih unggul yang sehat dan terjamin,” kata seorang petugas dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Merauke yang ikut menyambut kedatangan benih.

Untuk memastikan kesehatan benih, pengujian dilakukan di Laboratorium Karantina dengan metode yang ketat. Salah satunya adalah perendaman untuk mendeteksi nematoda—hama mikro yang kerap jadi musuh dalam selimut bagi tanaman padi. Dengan mikroskop dan teknik identifikasi morfologi, tim laboratorium bekerja tanpa banyak bicara, tapi setiap tetes air rendaman yang mereka periksa bisa menentukan nasib satu musim tanam.

Cahyono, Kepala Karantina Papua Selatan, tahu betul bahwa tugas mereka bukan hanya soal teknis. “Kami sedang menjaga masa depan,” ucapnya. “Petani kita harus mendapat benih terbaik. Karena dari sanalah semua dimulai—dari benih.”

Langkah besar ini bukan datang tiba-tiba. Ini hasil konsolidasi, koordinasi, dan komitmen antara pemerintah pusat dan daerah. Karena Papua Selatan tak hanya butuh program—tapi lompatan nyata. Lompatan yang kini dimulai dari satu butir benih, lalu dua, lalu ratusan ribu kilogram yang siap ditanam dengan harapan.

Di sisi lain, petani-petani di kampung-kampung telah bersiap. Lahan sudah dibersihkan, alat tanam siap dihidupkan, dan doa-doa sederhana mulai dipanjatkan di malam hari—memohon musim tanam yang baik dan panen yang berkah.

“Ini bukan sekadar pengiriman benih. Ini adalah penanaman harapan. Dengan lebih dari 156 ton benih padi yang masuk, kita sedang menulis bab baru dalam sejarah ketahanan pangan Papua Selatan,” tutup Cahyono, suaranya mantap.

Papua Selatan sedang bersiap panen. Bukan hanya padi, tapi masa depan.

(Gultom/Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *