Pesan Cinta dari Bupati untuk Anak-anak Teluk Bintuni

Peringatan Hari Anak Nasional di Bintuni, Rabu 23 Juli 2025 memiliki kesan yang mendalam bagi anak-anak Bintuni, mereka mengikuti kegiatan dengan penuh semangat dan suka cita. "Tumbuhlah dengan cinta, tawa, dan harapan" — Anak-anak Teluk Bintuni mendapat pesan hangat dari Bupati di Hari Anak Nasional. (ist/Tim Kadate/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 85

Langkah Kecil, Harapan Besar: Pesan Cinta dari Bupati untuk Anak-anak Teluk Bintuni

 

Oleh: Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua

BINTUNI — Rabu, 23 Juli 2025, pagi itu, Kota Bintuni berubah wajah. Jalanan yang biasanya dipadati kendaraan berubah menjadi lautan kecil manusia—anak-anak dari berbagai penjuru, lengkap dengan seragam sekolah berwarna-warni, topi lucu, dan bendera merah-putih di tangan mungil mereka. Mereka tidak hanya berjalan, mereka bercerita—tentang masa depan, tentang harapan, tentang dunia yang ingin mereka warnai dengan tawa dan mimpi.

Suara nyanyian anak-anak bersahutan dengan langkah mereka. Dari depan Café Mangrove menuju Gedung Women Center, pawai “Suara Hati Anak Negeri” menjadi simbol: bahwa Bintuni punya generasi muda yang tumbuh, hidup, dan menatap masa depan dengan mata berbinar.

Di tengah semarak suasana itu, sebuah pesan menyentuh hati menggema—datang dari Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, SE., MH., yang disampaikan oleh Asisten III Sekda, Yohanes Manobi.

“Anak-anakku, bermain dan belajarlah secara seimbang. Ukir prestasi setinggi-tingginya,” pesan Bupati.

Bukan sekadar ucapan, melainkan doa yang dijahit dari kasih sayang dan keprihatinan, dari impian tentang generasi masa depan yang tidak hanya cerdas dan kuat, tapi juga bahagia.


Anak Terlindungi, Teluk Bintuni Maju

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-41 di Teluk Bintuni tahun ini mengusung tema: “Anak Terlindungi, Teluk Bintuni Maju.” Tema ini bukan hanya slogan acara, melainkan cermin visi pembangunan: bahwa masa depan daerah tidak dibangun dengan beton dan baja saja, tetapi lewat tawa anak-anak yang tumbuh dalam pelukan aman dan cinta.

Dalam sambutannya, Bupati Yohanis menekankan bahwa anak adalah amanah, bukan beban. Mereka bukan sekadar bagian dari masa depan, tapi juga penentu arah pembangunan hari ini. Mereka perlu ruang untuk tumbuh, suara untuk didengar, dan tangan-tangan dewasa yang memeluk, bukan memukul.

“Perlindungan anak bukanlah pilihan, tetapi kewajiban kita semua—baik sebagai orang tua, pendidik, pemerintah, hingga masyarakat luas,” katanya.


Di Balik Tawa, Ada Tantangan

Acara peringatan HAN diisi dengan tawa, nyanyian, permainan, dan ekspresi ceria anak-anak. Tapi di balik itu semua, ada kenyataan pahit yang juga tak bisa diabaikan.

Bupati menyinggung beragam tantangan serius yang kini membayangi kehidupan anak-anak: mulai dari penyalahgunaan zat adiktif seperti lem aibon, perundungan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga ancaman kesehatan mental.

“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Negara harus hadir, masyarakat harus terlibat. Karena masa depan yang kuat hanya bisa lahir dari anak-anak yang merasa dicintai dan dihargai,” ujarnya penuh harap.

Pesannya jelas: menjaga anak-anak bukan hanya tugas polisi atau guru. Ia adalah panggilan nurani setiap orang dewasa yang pernah menjadi anak-anak.


Kita Semua Bertanggung Jawab

Dalam ajakan yang hangat namun tegas, Bupati Yohanis menyerukan agar momen HAN dijadikan titik balik. Ia tak hanya menyapa anak-anak, tapi juga mengetuk kesadaran para orang tua, guru, pemuka adat, tokoh agama, serta seluruh perangkat pemerintahan.

“Kita harus hentikan semua bentuk kekerasan terhadap anak, di manapun mereka berada,” ujarnya lantang.

Ia percaya, jika anak dibesarkan dalam suasana kasih sayang dan rasa aman, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara fisik, mental, dan spiritual. Mereka akan menjadi pemimpin masa depan yang berani bermimpi dan mampu mewujudkannya.


Dari Lembah Hingga Pesisir, Untuk Semua Anak

Pesan Bupati tak berhenti pada anak-anak yang hadir secara langsung di kota. Ia juga menitipkan salam dan cinta untuk anak-anak di kampung-kampung terpencil—di kaki gunung, pesisir laut, hingga lembah-lembah yang jauh dari pusat pemerintahan.

“Bermainlah dengan riang, belajarlah dengan semangat. Ukirlah prestasi setinggi langit. Kalian adalah cahaya harapan kami semua,” tuturnya lembut.

Karena di mata Bupati, setiap anak Teluk Bintuni adalah berlian yang belum diasah. Mereka hanya butuh sentuhan lembut, bukan tekanan. Mereka butuh dituntun, bukan ditakuti. Mereka butuh panggung untuk bersinar, bukan tembok yang menghalangi.


Hari Itu, Harapan Berjalan di Jalanan

Peringatan Hari Anak Nasional 2025 di Teluk Bintuni bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah napas dari harapan-harapan kecil yang berjalan bersama ribuan langkah mungil. Ia adalah pengingat, bahwa di setiap anak yang tertawa, tersimpan kekuatan luar biasa untuk mengubah dunia.

Di jalanan itu, hari itu—bukan hanya anak-anak yang berjalan. Tapi juga masa depan, yang dituntun oleh cinta.***



About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *