https://www.inspirasipapua.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241215-WA0027.jpg

Pemkab Teluk Bintuni Bangga Dan Apresiasi Dengan Kehadiran Rumah Adat Tongkonan Di Bintuni

Wakil Bupati Teluk Bintuni Matret Kokop, SH ketika meresmikan rumah adat Toraja "Tongkonan" yang ditandai dengan penandatanganan prasasti. IP-IST
Bagikan berita ini

Views: 171

BINTUNI, InspirasiPapua.id- Pemerintah kabupaten Teluk Bintuni merasa bangga dan memberikan apresiasi kepada Ikatan Keluarga Toraja (IKT) yang sudah menghadirkan rumah adat Toraja Tongkonan di Bintuni.

Nampak 8 miniatur alang-alang atau lumbung padi serta rumah adat Tongkonan yang baru diresmikan di Bintuni. IP-IST

“Tentunya dengan kehadiran Tongkonan ini di Bintuni akan menambah kekayaan budaya dan keragaman budaya Indonesia di daerah ini.

Hari ini kita melihat Tongkonan sebagai bagian kekayaan dan keragaman bangsa Indonesia, semua adalah kekayaan budaya bangsa yang terus terpelihara, terus dilestarikan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa,” ungkap Wakil Bupati Teluk Bintuni Matret Kokop, SH, Sabtu (22/10/2022).

Nampak Ketua didampingi Pengurus IKT Teluk Bintuni saat berada di atas rumah adat Tongkonan ketika memberikan sambutan. IP-IST

Pada saat dirinya mewakili Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni meresmikan rumah adat IKT Teluk Bintuni di Tanah Merah kampung Awarepi Distrik Bintuni.

Wakil Bupati Teluk Bintuni dua periode itu juga mengatakan bahwa dengan adanya rumah adat Tongkonan tersebut dapat meningkatkan pendapatan dalam bidang pariwisata karena akan menjadi destinasi wisata bagi warga Bintuni maupun dari luar Bintuni.

Nampak warga IKT Teluk Bintuni ketika menghadiri ibadah syukuran dan peresmian miniatur 8 alang-alang dan 1 unit rumah adat Tongkonan di Tanah Merah kampung Awarepi Bintuni.IP-IST

Wabup juga mengakui bahwa dengan  keberadaan masyarakat Toraja atau IKT Teluk Bintuni di Tanah Sisar Matiti ini telah banyak membantu pemerintah daerah yaitu terutama turut andil dalam menyukseskan program-program pembangunan dalam bidang pemerintahan maupun diberbagai sektor lainnya.

“Terkait hal itu saya berpesan kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Teluk Bintuni untuk terus menjaga dan memelihara keragaman budaya yang ada di daerah ini.

Dan khususnya kepada seluruh masyarakat Toraja bersama-sama masyarakat di Kabupaten Teluk Bintuni untuk terus menjaga serta memelihara keberagaman, kerukunan antar suku, agama serta budaya yang ada di daerah ini,” papar Wabup.

Nampak Pastor Alex dan Pastor Videlis ketika memimpin ibadah syukuran dan pemberkatan rumah adat Tongkonan di Bintuni.IP-IST

Di tempat yang sama, Ketua Panitia Pembangunan Tongkonan Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Kabupaten Teluk Bintuni Yosep Dian dalam laporannya dihadapan dua ribu warga IKT Teluk Bintuni  mengatakan bahwa rumah adat Tongkonan bisa berdiri berkat hasil swadaya dari seluruh warga IKT Teluk Bintuni.

“Satu Tongkonan dan delapan alang-alang atau lumbung dibangun dengan biaya kurang lebih Rp.2,5 milyar dimana biaya pembangunan Tongkonan beserta alang-alang tersebut merupakan swadaya dari warga IKT yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni,” tutur Yosep Dian sembari mengucapkan terima kasih kepada warga IKT yang ada di kabupatern Teluk Bintuni yang telah menghadirkan miniatur Tongkonan dan alang-alang tersebut.

Wakil Bupati Teluk Bintuni Matret Kokop ketika berfose dengan ketua dan pengurus IKT serta anggota DPR Papua Barat asal Teluk Bintuni dan Forkopimda. IP-IST

Kemudian Ketua IKT Kabupaten Teluk Bintuni Martinus Manatin didampingi segenap pengurus IKT Teluk Bintuni mengatakan bahwa Tongkonan itu menjadi kebutuhan untuk tempat berkumpul bagi masyarakat Toraja.

“Tongkonan ini akan kami jadikan sekretariat dan ini adalah kebutuhan kami, bukan untuk kemegahan tetapi kami akan gunakan Tongkonan tersebut baik suka maupun duka.

Oleh karena itu saya menitipkan bangunan tersebut kepada masyarakat Teluk Bintuni, khususnya kepada masyarakat IKT yang ada di daerah ini untuk digunakan dengan sebaik-baiknya,” pesan Manatin.

Ketua IKT Teluk Bintujni dan Ketua IKT Papua Barat ketika berfose dengan tokoh agama dan tokoh adat. Bintuni IP-IST

Pada kesempatan itu Manatin juga menambahkan bahwa dirinya kini telah bertugas di Kabupaten Toraja Utara dengan menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan, sehingga dirinya tidak dapat bertemu setiap hari dengan warga IKT yang ada di daerah ini,” paparnya.

Ketua IKT Teluk Bintuni itu juga mengingatkan bahwa kepengurusan IKT Teluk Bintuni sudah berakhir pada bulan April 2022, oleh karena itu ia meminta kepada seluruh masyarakat IKT Teluk Bintuni untuk segera menggelar musyawarah daerah (Musda) IKT Teluk Bintuni guna memilih pengurus baru yang terbaik.

Ketua dan Wakil Ketua IKT Teluk Bintuni beserta segenap pengurus fose bersama. IP-IST

“Saya berpesan kepada seluruh keluarga Toraja pilihlah pengurus yang terbaik di antara kita yang akan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, dapat mengayomi seluruh rumpun masyarakat Toraja yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni dan sanggup berdampingan dengan suku-suku lainnya yang ada di daerah ini,” harapnya.

Selanjutnya Pengurus IKT Provinsi Papua Barat Matius Menteng mewakili Ketua IKT Papua Barat menambahkan bahwa dengan keberadaan Tongkonan ini nantinya akan dijadikan tempat berkumpul bagi masyarakat Toraja serta tempat untuk melatih kesenian dan budaya.

Nampak prosesi ibadah syukuran Peresmian rumah adat Tongkonan IKT Teluk Bintuni. IP-IST

“Selain tempat untuk melatih seni dan budaya, juga dapat dijadikan tempat wisata. Adanya Tongkonan tersebut merupakan wujud adanya masyarakat Toraja di Papua khususnya di kabupaten Teluk Bintuni,” pungkasnya.

Usai acara ibadah syukuran dan Peresmian rumah adat Tongkonan IKT Teluk Bintuni Wakil Ketua IKT Teluk Bintuni drg. Ferdinand Mangalik kepada wartawan ketika diwawancarai mengatakan bahwa kehadiran Tongkonan berasal dari kata Tongkon artinya duduk bersama menyelesaikan segala permasalahan, berdiskusi di suatu tempat yang namanya Tongkonan.

Pengurus IKT Provinsi Papua Barat Matius Menteng ketika mewakili Ketua IKT Papua Barat menandatangani Prasasti Peresmian rumah adat Tongkonan beserta 8 alang-alang di Bintuni.IP-IST

“Jadi Tongkonan itu suatu wadah untuk bertemu berbagai rumpun keluarga untuk menyelesaikan berbagai persoalan, tantangan, perencanaan yang ada dan segala-segalanya itu kita duduk bersama selesaikan di Tongkonan.

Ide pembangunan Tongkonan  ini tercetus karena kita rumpun Toraja jauh dirantau maka dengan adanya Tongkonan ini ada wadah kita untuk bertemu.

Yaitu tempat bersilaturahmi mungkin ada yang berasal dari satu kampung, satu distrik yang ada di Toraja lalu bertemu perantauan atau daerah ini sebagai satu keluarga.

Ketua IKT Teluk Bintuni Martinus Manatin ketika menandatangani Prasasti Peresmian rumah adat Tongkonan beserta 8 alang-alang di Bintuni didampingi Wakil Ketua IKT Teluk Bintuni drg. Ferdinand Mangalik.IP-IST

Kehadiran kami di Teluk Bintuni tentunya harus mengikuti kearifan lokal yang ada di daerah ini yaitu dimana Bumi Dipijak Di Situ Langit Dijunjung sebagai orang atau suku Toraja kita harus bisa menempatkan diri dimana kita berada.

Dan tentunya kita harus bersinergi dengan suku-suku lainnya untuk membangun kabupaten ini. Artinya kehadiran IKT Teluk Bintuni adalah bagian dari 7 (tujuh) suku untuk memperkaya keragaman budaya di kabupaten ini.

Dan tidak ada satu pun niat negatif kami. Karena kalau jumlah kita sudah ribuan di daerah ini tentunya kalau tidak ada wadah untuk tempat kita bertemu dan duduk bersama itu tentunya dapat membuat kita susah atau kesulitan,” tutur Ferdinand.

Nampak Wakil Bupati Teluk Bintuni Matret Kokop ketika menyampaikan sambutan saat mewakili Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni. IP-IST

Wakil Ketua IKT yang kesehariannya itu adalah Plt RSUD Bintuni juga menambahkan bahwa   dengan adanya Tongkonan yang dibangun di Bintuni itu bisa menjadi destinasi wisata.

Kenapa? karena Tanah Toraja dari sisi wisata sudah terkenal di seluruh belahan dunia sejak lama. Maka dengan kehadirian Tongkonan di sini menunjukkan miniatur rumah adat Tongkonan agar orang bisa tahu dan merasakan seperti kalau ada di Tanah Toraja.

Dan bahkan kalau ada yang mau melihat rumah adat Tongkonan yang asli itu bisa datang langsung ke Tanah Toraja,” ujarnya.

Nampak warga masyarakat IKT dan para pejabat,, tokoh agama serta tokoh masyarakat duduk bersama di alang-alang atau lumbung dari rumah adat Tongkonan di Bintuni pada saat mengikuti acara syukuran dan Peresmian Tongkonan Bintuni. TP-IST

Pantauan media ini Rumah Adat Suku Toraja (Tongkonan) yang dibangun sejak 2011 silam telah berdiri bersama delapan alang atau lumbung tempat menyimpan hasil panen padi.

Peresmiannya ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Pemerintah Daerah Teluk Bintuni yakni Wakil Bupati Teluk Bintuni Matret Kokop, SH, Perwakilan Ketua IKT Provinsi Papua Barat Matius Menteng serta Ketua IKT Teluk Bintuni Martinus Manatin yang didampingi Wakil Ketua IKT Teluk Bintuni drg. Ferdinand Mangalik.

Sementara ibadah syukuran dan pemberkatan rumah adat Tongkonan dipimpin Pastor Alex dan Pastor Videlis.

Juga dihadiri beberapa anggota DPR Provinsi Papua Barat diantaranya Robert Manibuy, SH, MM selaku Ketua Fraksi PDIP, Syamsudin Seknun, SH, MH dari partai NasDem serta Daniel Asmorom dari partai Gerindra dan Dominggus Urbon dari Fraksi Otsus.

Selain itu juga hadir Forkopimda serta pimpinan OPD di lingkup Pemda Teluk Bintuni, para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda serta tokoh perempuan.

Serta segenap warga Toraja yang ada di Bintuni dan dari Manokwari maupun dari daerah lainnya serta masyarakat Bintuni.

Tongkonan tersebut dibangun di atas tanah seluas kurang lebih satu hektar yang berlokasi di Tanah Merah distrik Bintuni.

Berdasarkan data dari IKT Teluk Bintuni bahwa jumlah warga IKT yang ada saat ini di Teluk Bintuni sebanyak kurang lebih tiga belas ribu jiwa atau sebanyak kurang lebih empat ribu Kepala Keluarga (KK). (01-IP)

About Post Author

banner x600 banner x600 banner x600 banner x600 banner x600 banner x600 banner x600 banner x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *