Seribu Lilin di Bintuni dan Misteri Kematian Yanto Idoorway

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 1

“Seribu Lilin untuk Yanto Idoorway: Ketika Keluarga Menunggu Jawaban dari Balik Misteri Kematian”

BINTUNI, inspirasipapua.id — Seribu lilin menyala di Tugu Bangkit Bintuni Ku, Sabtu malam, 8 Agustus 2026. Cahaya kecil itu berderet di antara ratusan orang yang datang bukan sekadar untuk mengenang Yanto Idoorway. Mereka membawa satu pertanyaan yang belum memperoleh jawaban pasti: apa sebenarnya yang terjadi sebelum putra Teluk Bintuni itu ditemukan meninggal?

Keluarga besar Idoorway, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bintuni (Unimutu) dan Institut Transformasi Bintuni (ITB), pemuda tujuh suku, serta masyarakat berkumpul dalam aksi doa dan penyalaan 1.000 lilin.

Tidak ada putusan yang lahir malam itu. Tidak pula ada kesimpulan baru mengenai penyebab kematian Yanto. Yang hadir adalah keluarga yang masih berduka, mahasiswa yang menyatakan kepeduliannya, dan masyarakat yang berharap proses penyelidikan dapat menjelaskan rangkaian peristiwa secara utuh.

Bagi keluarga, pertanyaan tentang kematian Yanto bukan perkara sederhana. Jawaban yang mereka cari harus lahir dari pemeriksaan dan bukti, bukan dari dugaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Aksi malam itu diawali ibadah syukur yang dipimpin Pdt. Kores Ansek, S.Th. Liturgi dibawakan Veronika Kendiwara.

Dalam doa, Kores menyampaikan pergumulan keluarga Idoorway yang kehilangan salah satu anggota keluarganya. Ia meminta agar proses yang sedang berjalan dapat dikawal hingga pemeriksaan selesai dan hasilnya dapat diterima secara terbuka.

“Karena itu kami minta Tuhan saja yang berperkara. Kami minta Tuhan menuntun keluarga Idoorway agar perkara ini dapat berproses dan dikawal dengan baik sampai pemeriksaan secara detail, bahkan sampai hasilnya dapat kami semua terima,” kata Kores.

Doa itu kemudian diarahkan kepada mereka yang terlibat dalam proses pemeriksaan, termasuk dokter, pihak yang mengawal perkara, serta para saksi dan orang-orang yang mengetahui perjalanan hidup Yanto.

Kores meminta agar para saksi dapat memberikan keterangan secara bebas.

“Tuhan bukalah jalan kepada para saksi agar mereka tidak diintimidasi maupun tertekan sehingga mereka bisa menyampaikan apa yang benar,” ujarnya.

Permintaan itu penting dalam setiap proses pencarian fakta. Keterangan saksi semestinya diperoleh secara bebas dan kemudian diuji dengan bukti lain. Dengan cara itu, penyelidikan tidak berhenti pada kesaksian perorangan, tetapi dapat membangun rangkaian peristiwa yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kores juga meminta agar proses pemeriksaan tidak terhambat.

“Kami mohon kepada Tuhan agar proses ini tidak terhalang. Biarlah Tuhan buka dengan terang benderang agar kami bisa melihat dan mengetahui apa yang terjadi,” katanya.

Keluarga Memilih Jalur Hukum

Setelah doa, keluarga menyampaikan sikapnya.

Godlif Idoorway, yang mewakili keluarga, berterima kasih kepada mahasiswa, pemuda, dan masyarakat yang hadir. Menurut dia, dukungan publik membuat keluarga merasa tidak berjalan sendirian dalam menghadapi persoalan yang menyelimuti kematian Yanto.

“Sebagai manusia biasa kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami perlu dukungan dari semua yang hadir lewat doa sehingga kebenaran itu bisa dimunculkan,” ujar Godlif.

Ia menyebut kematian Yanto masih menjadi misteri bagi keluarga. Namun keluarga, kata dia, memilih membawa persoalan tersebut melalui proses hukum.

“Kebenaran pasti menang dan kami yakin Tuhan akan memunculkan itu. Kematian saudara Yanto Idoorway terus kita kawal hingga selesai,” katanya.

Godlif juga menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan forensik telah dibawa ke Jakarta untuk diperiksa lebih lanjut.

Pemeriksaan forensik memiliki posisi penting karena kematian seseorang tidak semestinya disimpulkan hanya berdasarkan cerita atau persepsi yang beredar. Temuan medis dan forensik perlu dibaca bersama kronologi, keterangan saksi, serta bukti lain yang diperoleh penyidik.

Keluarga berharap proses tersebut dapat memberikan penjelasan yang objektif.

“Dan kami keluarga sudah sepakat masalah ini akan terus kami bawa ke proses hukum. Sehingga kami perlu dukungan semua agar kebenaran itu menang,” ujar Godlif.

Mahasiswa Menyatakan Siap Mengawal

Kegelisahan keluarga juga mendapat dukungan dari mahasiswa.

Koordinator mahasiswa, Ali Akbar Fimbay, mengatakan mahasiswa merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengawal persoalan yang menimpa Yanto.

Menurut Akbar, terdapat hal-hal yang dinilai janggal oleh pihak keluarga dan masyarakat sehingga diperlukan penjelasan yang dapat menjawab pertanyaan mengenai penyebab kematian Yanto.

“Sebagai mahasiswa Teluk Bintuni kami tidak akan tinggal diam,” katanya.

Akbar mengatakan mahasiswa, Forapelo, pemuda tujuh suku, dan masyarakat Teluk Bintuni siap mengambil langkah lebih lanjut apabila belum terdapat jawaban yang dianggap memadai.

“Kami mahasiswa, Forapelo dan masyarakat tujuh suku Teluk Bintuni tidak tinggal diam. Apabila belum ada jawaban yang pasti penyebab kematian Yanto Idoorway, kami siap turun ke lapangan bersama mahasiswa, pemuda tujuh suku dan masyarakat Teluk Bintuni untuk menuntut keadilan agar mendapatkan jawaban,” ujar Akbar.

Namun, tuntutan atas kejelasan tetap perlu dibedakan dari kesimpulan mengenai siapa yang bertanggung jawab. Dalam proses hukum, dugaan harus diuji melalui penyelidikan, alat bukti, keterangan saksi, pemeriksaan forensik, dan mekanisme hukum yang berlaku.

Karena itu, dukungan masyarakat terhadap keluarga dapat diarahkan pada pengawalan proses agar transparan dan profesional, bukan pada penghakiman sebelum seluruh fakta terungkap.

Akbar kemudian meminta masyarakat Teluk Bintuni terus memberikan dukungan doa.

“Kami minta dukungan doa kepada seluruh masyarakat Teluk Bintuni agar proses penyelidikan bisa berjalan baik dan kita mendapat jawaban yang pasti atas misteri kematian saudara kita terkasih Yanto Idoorway,” katanya.

Di Antara Cahaya dan Duka

Setelah ibadah dan sambutan selesai, keluarga besar Idoorway menyalakan lilin pertama. Nyala itu kemudian diikuti peserta lainnya.

Satu per satu lilin menyala hingga kawasan Tugu Bangkit Bintuni Ku dipenuhi cahaya.

Di tengah kerumunan, kesedihan keluarga terlihat nyata. Tangis pecah ketika mereka mengenang Yanto—seorang putra yang bagi keluarganya bukan sekadar nama dalam sebuah perkara, melainkan anak, saudara, dan bagian dari keluarga yang kini tidak akan kembali.

Malam itu tidak menghasilkan jawaban atas kematian Yanto.

Tetapi seribu lilin menjadi penanda bahwa pertanyaan keluarga belum padam.

Di satu sisi, ada proses hukum yang harus bekerja dengan bukti dan pemeriksaan yang objektif. Di sisi lain, ada keluarga yang membutuhkan kepastian agar duka tidak terus dibebani ketidakjelasan.

Di antara keduanya, masyarakat menunggu satu hal: kebenaran yang dapat dibuktikan, bukan sekadar dugaan.

Aksi penyalaan 1.000 lilin berlangsung aman, lancar, dan tentram. Setelah lilin-lilin menyala, para peserta menutup malam dengan doa—berharap proses penyelidikan berjalan tanpa tekanan dan keluarga akhirnya memperoleh jawaban mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Yanto Idoorway.

**(TIM/red/MA/inspirasi Papua.id)**

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *