Pertemuan Dengan TIAP, Pemda Bintuni Minta BP Tangguh Terbuka Dalam Rekrutmen Tenaga Kerja

Bupati teluk Bintuni Petrus Kasihiw ketika berfose dengan Kepala TIAP Senator Tom Daschle dan Tim di Jakarta usai pertemuan.IP-IST
Bagikan berita ini

Visits: 7

Pertemuan Dengan TIAP, Pemda Bintuni Minta BP Tangguh Terbuka Dalam Rekrutmen Tenaga Kerja

BINTUNI, InspirasiPapua.id- Bupati Teluk Bintuni Candidat Doktor Ir. Petrus Kasihiw, MT Selasa (21/03/2023) lalu didampingi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Teluk Bintuni Dr. Drs. Alimudin Baedu, MM melakukan pertemuan dengan Tangguh Independent Advisory Panel (TIAP).

TIAP atau Tim Independent Penilaian Tangguh LNG Project yang dipimpin Senator Tom Daschle yang juga dihadiri manajemen BP Indonesia yang berlangsung di Hotel Dharmawangsa-Kediri Room (Mezzanine Floor) Jakarta.

Tim TIAP, kata Bupati Kasihiw merupakan tim independent yang menilai pelsaksanaan proyek Train III sampai selesai. Dan Pembangunan Train III Tangguh saat ini sudah berakhir dan mungkin juga tugas Tim Independent ini akan berakhir.

Bupati Petrus Kasihiw juga menyebutkan banyak masukan-masukan terkait dampak dari Proyek Tangguh selama ini yang sudah disampaikan di dalam pertemuan tersebut.

“Termasuk persoalan tenaga kerja yang menjadi isu selama ini kita minta agar BP Tangguh terbuka dalam rekruitmen tenaga kerja dan mengundang Pemda Teluk Bintuni dengan pemerintah provinsi untuk duduk bersama dan membicarakan hal tersebut dengan baik.

Dimana dalam pertemuan tersebut banyak masukan-masukan yang kita berikan ke Tim TIAP  bahwa kehadiran Project LNG Tangguh sebagai Project Strategis Nasional sangat penting.

Yaitu penting bagi negara, penting bagi kabupaten Teluk Bintuni serta penting bagi Papua Barat dan juga penting bagi masyarakat,” ungkap Bupati Teluk Bintuni Petrus Kasihiw dalam pressrealisenya yang disampaikan Kabag Humas dan Protokoler Setda Teluk Bintuni Dominggus Pattykawa, S.Sos, Kamis (23/03/2023) di Bintuni.

Bupati Teluk Bintuni 2 priode itu juga menjelaskan bahwa apabila ada hal-hal yang selama ini barangkali masih dikeluhkan itu kita selalu mencari solusi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi.

“Terutama berkaitan dengan masalah-masalah hak-hak masyarakat  adat Teluk Bintuni, masalah tenaga kerja itu juga sudah kami sampaikan dalam pertemuan tersebut.

Dan mudah-mudahan ini menjadi masukan bagi manajemen BP Tangguh ke depan untuk lebih banyak memperhatikan keluhan-keluhan masyarakat.

Soal tenaga kerja yang menjadi isu selama ini kita juga minta BP terbuka dalam rekruitmen tenaga kerja dan mengundang Pemda Teluk Bintuni dan Pemprov untuk kita duduk dan bicara serta mengatur masalah ketenagakerjaan dengan baik.

Sehingga kita satu irama, satu bahasa serta satu penjelasan kepada masyarakat agar tidak menimbulkan dinamika-dinamika atau gejolak di masyarakat yang keluar dari konteks yang kadang-kadang tidak sesuai.

Dimana setelah kita melihat kenyataan yang ada ternyata bukan seperti itu. Karena kita miskomunikasi sehingga rekrutmen tenaga kerja harus dibenahi kembali.

Kita berharap ada pekerjaan-pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh orang Papua lebih khusus warga lokal Bintuni itu diberikan. “Jangan mengambil tenaga kerja dari luar Bintuni. Sebab kita sudah melatih anak-anak kita untuk siap bekerja.

Tetapi apakah tenaga kerja itu juga dibutuhkan oleh BP?. Makanya kita juga selalu berkoordinasi. Dan terkait ekspansi BP ke Obidari kita sangat berharap di proyek-proyek Obidari juga merekrut anak-anak Bintuni dan anak Papua pada umumnya untuk bekerja di sana,” papar Bupati Kasihiw.

Bupati Petrus Kasihiw juga menjelaskan bahwa dari Tim TIAP menilai selama ini kerja sama BP dan Pemda Teluk Bintuni berjalan dengan baik dan bisa sampai pada realisasi penyelesaian Train III.

“Itu mereka apresiasi dan mereka akan menyampaikan pandangan-pandangan mereka ke Manajemen BP Tangguh sesuai dengan hasil pembicaraan yang sudah kami bicarakan. Dan juga hasil pembicaraan-pembicaraan terdahulu.

Tim TIAP ini merupakan lembaga independent dan dia tidak hanya berpihak kepada BP saja tetapi dia juga melihat kondisi kebutuhan pemerintah daerah dan masyarakat dimana ada proyek Tangguh itu.

Saya kira masyarakat selama ini juga menyadari bahwa BP Tangguh itu harus tetap ada karena perusahaan itu juga membantu kita,” kata Bupati Kasihiw.

Bupati Petrus Kasihiw juga mengatakan bahwa kalau ada persoalan agar diselesaikan dengan cara-cara mekanisme yang baik  tidak harus saling palang mememalang tetapi aspirasi disampaikan agar ada langka-langka penyelesaian persolan-persoalan yang ada.

“Sehingga jangan ada kesan orang Bintuni anti terhadap investasi di daerah. Sebab setiap ada gejolak orang  tidak suka datang untuk investasi di Bintuni.

Masalah pasti ada tetapi mari kita mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Karena kalau kita menggunakan cara-cara kekerasan maka orang akan lari pergi.

Contoh dulu tenaga kerja dari Jakarta itu turun di Sorong dan langsung masuk ke LNG Tangguh.

Karena orang ribut di Sorong menolak maka akhirnya tenaga kerja itu tidak lagi turun di Sorong tetapi mereka turun di Ambon. Tentunya kita rugi karena kita tidak menikmati lagi efek singgahnya. Dimana Ambon bukan Papua tetapi dia menikmati hasil dari efek singgah tersebut.

Kita jangan terlalu keras dengan investor, kita tahu kita ingin diperlakukan secara adil tetapi marilah kita cari cara terbaik,” ujar Bupati Kasihiw. (ahd-IP)

About Post Author

banner x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *