Pembangunan Dermaga Penyeberangan Tofoi Dibangun Tiga Tahap Dan Baru Selesai Tahap Pertama

Kepala Bidang (Kabid) Pelayaran dan Penerbangan Saifuddin Kasim, ST, M.Si ketika menyampaikan siaran pers kepada wartawan di Bintuni, Selasa 26 Juli 2022. IP-IST
Bagikan berita ini

Visits: 1

BINTUNI, InspirasiPapua.idPembangunan penyeberangan dermaga Tofoi yang mulai dikerjakan pada tahun 2020 awalnya diprediksi akan selesai pada tahun 2022 yang dikerjakan dengan skema multy yeard tiga tahap dengan persetujuan eksekutif dan legislatif yang diperkirakan akan menyerap total anggaran Rp. 56 milyar dari APBD Kabupaten Teluk Bintuni.
Namun karena awal tahun 2021 seluruh dunia diserang wabah pandemi covid-19 termasuk Indonesia dan kabupaten Teluk Bintuni maka dana awal yang direncanakan untuk tahap pertama sebesar Rp. 30 Milyar akhirnya direcofusing untuk pendanaan covid-19 sebab tahun 2021 orang yang positif covid-19 di Teluk Bintuni cukup tinggi maka dana pembangunan pelabuhan tersebut untuk tahap pertama yang disetujui untuk pembangunan dermaga itu hanya Rp. 25 Milyar.
Kepala Bidang (Kabid) Pelayaran dan Penerbangan Saifuddin Kasim, ST, M.Si ketika menyampaikan siaran pers kepada wartawan di Bintuni, Selasa 26 Juli 2022. IP-IST
Dimana saat awal kerja oleh pihak penyedia jasa sudah dicairkan uang muka sebesar Rp. 5 Milyar. Kemudian tiang pancang dermaga sudah selesai dan pengerjaannya selanjutnya ditunda untuk sementara karena dana untuk  pembangunan tersebut belum ada karena dialihkan ke pembiayaan covid-19.
Kondisi ini dimaklumi penyedia jasa atau pihak ketiga. Kemudian tahun 2022 pihak ketiga baru dibayarkan Rp. 20 Milyar sehingga untuk pekerjaan tahap pertama pelabuhan itu sudah menyerap anggaran Rp. 25 Milyar.
“Jadi pekerjaan dermaga tersebut tidak mangkrak karena pekerjaan tertunda karena adanya pandemi covid-19 dan itu merupakan pekerjaan multy yeard.
Kalau itu mangkrak berarti pekerjaan sudah dikerjakan dan kemudian tidak dikerjakan lagi. Ini yang perlu masyarakat ketahui tentang progres pembangunan pelabuhan penyeberangan Tofoi yang saat ini baru sampai dipengerjaan tiang pemancangan.
Dan tidak ada unsur politik di dalamnya karena sebagai ASN kita sebagai pelayan masyarakat dan tidak boleh berpolitik praktis dan harus netral sehingga pembangunan dermaga penyeberangan itu murni tertunda karena adanya pandemi covid-19 yang tidak bisa dihindari atau di luar kendali.
Kepala Bidang (Kabid) Pelayaran dan Penerbangan Saifuddin Kasim, ST, M.Si bersama dengan Sekretaris Dinas Perhubungan Bintuni Ganem Seknun, SH. IP-IST
Dan didalamnya tidak ada pelanggaran hukum,” ungkap Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Teluk Bintuni melalui Kepala Bidang (Kabid) Pelayaran dan Penerbangan Saifuddin Kasim, ST, M.Si, Selasa (26/07/2022).
Ketika menyampaikan Siaran Pers kepada wartawan di ruang kerjanya di Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Teluk Bintuni di Masui distrik Bintuni.
Kabid Pelayaran dan Penerbangan itu juga menjelaskan bahwa ada beberapa masyarakat yang memiliki persepsi bahwa Dinas Perhubungan Teluk Bintuni dalam mengerjakan pelabuhan Tofoi itu seakan-akan telah diberikan anggaran Rp. 56 Milyar.
“Tidak demikian, memang dalam pernyataan saya pada saat awal pembangunan pelabuhan Tofoi pada tahun 2020 bahwa pembangunan paling lama dikerjakan tiga tahap dengan anggaran Rp. 56 Milyar. Namun karena adanya pandemi maka baru terserap Rp. 25 Milyar untuk pembangunan tiang pancang.
Dan pekerjaan itu sudah diaudit secara administrasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), secara fisik dan administrasi oleh Inspektorat dan Kejaksaan Negeri Teluk Bintuni. Jadi tidak ada pelanggaran hukum,” terangnya.
Saifuddin juga berharap di APBD Perubahan tahun 2022 dan APBD Induk 2023 itu agar usulan anggaran pekerjaan tahap berikut pembangunan pelabuhan Tofoi oleh tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dapat dimasukkan sehingga apa yang diharapkan Bupati selaku kepala daerah itu pelabuhan Tofoi tersebut dapat selesai sebelum masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati selesai.
Nampak Gedung Dinas Perhubungan Kabupaten Teluk Bintuni dari depan. IP-IST
“Dengan adanya pelabuhan Tofoi kedepan sesuai visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Teluk Bintuni yaitu  terciptanya pelayanan transportasi yang baik, lancar, aman dan anyaman.
Serta terealisasinya konektifitas antar moda transportasi laut, udara dan darat di Papua Barat khususnya di Kabupaten Teluk Bintuni untuk menunjang kelancaran pembangunan di segala sektor yang tentunya akan berdampak kepada perkembangan ekonomi.
Dan bermuara kepada kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Teluk Bintuni lebih khusus menyentuh ke pelayanan untuk masyarakat Asli Papua (OAP),” paparnya.
Kabid Pelayaran dan Penerbangan itu juga menyebutkan bahwa besaran anggaran itu pembangunan infrastruktur itu menyesuaikan eskalasi atau kenaikan harga material di pasaran terkhusus harga bahan baku pabrikan.
“Apabila semakin lama dibiarkan akan mengakibatkan peningkatan pembiayaan dan sudah barang tentu juga mempengaruhi umur kontruksi.
Kami berharap melalui penentu kebijakan di daerah ini bisa segera direalisasikan untuk menyelesaikan pembangunan pelabuhan penyeberangan ini agar asas manfaat dapat segera dirasakan oleh pengguna jasa transportasi.
Dan sejalan dengan itu untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD)  Teluk Bintuni kedepan dapat kita optimalkan melalui operasional sarana dan prasarana transportasi yang pemerintah Teluk Bintuni sediakan ini.
Di sini pemerintah daerah bisa mendapatkan PAD melalui pungutan resmi berupa uang tambat, uang labuh, bongkar/muat, retribusi parkir dan pendapatan lain-lain yang sah sesuai peraturan yang berlaku.
Maka peluang berkembangnya ekonomi di kawasan Teluk Bintuni melalui pembangunan transportasi penyeberangan Tofoi simpul Kampung Lama, Aranday sangat berpeluang menjadikan kawasan Teluk Bintuni menjadi salah satu kawasan bertumbuh kembangnya perekonomian dan menjadikannya salah satu kawasan  sentra atau pusat pergerakan ekonomi dari beberapa daerah di luar kawasan Teluk Bintuni.
Seperti kabupaten Fakfak, Kaimana dan Nabire Provinsi Papua dan melalui pelabuhan penyeberangan Tofoi ini dapat mengakses ke seluruh daerah di Provinsi Papua Barat seperti Kabupaten Mansel, Manokwari, Sorong serta Maybrat dan kabupaten lainnya,” papar Saifuddin.
Saifuddin juga menambahkan bahwa diprediksi dengan biaya Rp. 35 Milyar untuk pekerjaan tahap II dan III pelabuhan Tofoi sudah bisa diselesaikan.
“Dan kalau pelabuhan Tofoi itu nantinya sudah operasional maka orang dari Babo raya dan Sebyar raya tidak lagi ke Fakfak berbelanja tetapi bisa langsung ke Bintuni. Sehingga di Bintuni ada perputaran ekonomi. Selain itu kabupaten Teluk Bintuni juga berpeluang menjadi destinasi wisata dengan keindahan alam atau hutan bakau (mangrove) yang dimiliki.
Seandainya dalam pengerjaan pelabuhan Tofoi itu tidak ada kendala covid-19 dan bisa rampung pada tahun 2022 maka melalui Kementrian Perhubungan pusat itu sudah menjanjikan dua unit kapal Ferry setara kapal Lema tipe kapal roro. Namun kita harus selesaikan dulu infrastrikturnya.
Dan kita berharap janji dari pusat itu masih berlaku hingga pelabuhan Tofoi itu selesai,” pungkas Saifuddin. (01-IP)

 

About Post Author

banner x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *