Dari Laut ke Pasar Dunia: Cerita Sirip Pari Papua Selatan yang Mendunia

Pemeriksaan Sirip Pari, Menjaga Mutu dari Papua Selatan Petugas Karantina Romi, memeriksa sirip pari kering sebelum diberangkatkan ke Surabaya. Setiap tahap diperhatikan detail, demi memastikan hasil laut Papua Selatan memenuhi standar ekspor dan membawa manfaat bagi ekonomi nelayan lokal. (ist/Kadate/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 99

Dari Laut ke Pasar Dunia: Cerita Sirip Pari Papua Selatan yang Mendunia

 

Laporan Khusus Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua

MERAUKE — Aroma asin laut, terik matahari, dan deretan jaring yang tergantung di perahu nelayan—semua menjadi bagian dari rutinitas warga pesisir Papua Selatan. Di balik debur ombak yang tenang, tersimpan cerita tentang salah satu kekayaan laut yang kini mulai menembus pasar dunia: sirip pari kering.

Bulan Juli ini, 5.212 kilogram sirip dan daging pari kering diberangkatkan dari Merauke menuju Surabaya, setelah dinyatakan layak melalui pemeriksaan ketat oleh Karantina Papua Selatan. Bukan hanya soal kuantitas, tapi kualitas yang menjadi kunci.

“Jenisnya macam-macam, ada pari lontar, pari kikir, dan pari kekeh,” ujar Romi, petugas Karantina yang hari itu memeriksa tumpukan karung berisi sirip kering. Ia memeriksa satu per satu—mengecek dokumen, mencocokkan jumlah, memastikan tidak ada yang menyimpang dari standar. “Semua dokumen sudah lengkap, termasuk SAJI-DN, tinggal kami pastikan fisiknya juga oke,” tambahnya.

Langkah ini bukan sekadar formalitas. Di balik lembar-lembar dokumen dan prosedur teknis, ada nasib para nelayan yang menggantungkan hidup pada hasil tangkapan mereka. Ada ibu-ibu di kampung yang membersihkan, menjemur, dan mengemas sirip-sirip itu selama berhari-hari. Ada anak-anak yang bisa terus sekolah karena ayah mereka menjual hasil laut dengan harga yang lebih baik.

Cahyono, Kepala Karantina Papua Selatan, mengerti betul soal itu. “Kami tidak hanya menerbitkan sertifikat. Kami memastikan bahwa produk yang keluar dari Papua Selatan memang pantas bersaing di pasar nasional maupun internasional,” katanya. Sertifikat Kesehatan Ikan dan Produk Ikan (KI-2) yang mereka keluarkan menjadi pintu masuk untuk komoditas lokal menembus pasar ekspor.

Namun Cahyono menegaskan, ekonomi bukan satu-satunya fokus. “Kami juga menjaga agar kegiatan ini tidak merusak ekosistem. Keberlanjutan itu penting, karena kalau habis, kita semua yang rugi,” ujarnya.

Sirip pari memang bukan komoditas biasa. Di beberapa negara, ia menjadi bahan dasar sup mahal atau produk olahan bernilai tinggi. Tapi di Papua Selatan, ia adalah simbol dari perjuangan—perjuangan menjaga laut, mengangkat ekonomi, dan menyeimbangkan keduanya.

Dengan standar yang terus diperketat, bimbingan terhadap pelaku usaha perikanan, dan kesadaran ekologi yang ditanamkan, sirip pari dari tanah selatan ini melangkah pasti—dari kampung pesisir ke pasar dunia.

Karena dari laut, harapan itu lahir. ***

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *