PDPI Cabang Papua Gelar Webinar Gratis  Tentang Kewaspadaan COVID-19 dan Vaksinasi Booster COVID -19

Bagikan berita ini

Visits: 65

PDPI Cabang Papua Gelar Webinar Gratis  Tentang Kewaspadaan COVID-19 Dan Vaksinasi Booster COVID -19

BINTUNI, InspirasiPapua.id- Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua telah menggelar Webinar Gratis, Sabtu (23/12/2023) secara live by zoom buat tenaga kesehatan untuk mengupdate pengetahuan terkini terkait gejala, diagnosis dan pengobatan COVID-19 dan efektifitas vaksinasi booster COVID-19 terhadap varian COVID- 19 yang terbaru.

Dilaksanakannya Webinar gratis tentang kewaspadaan COVID-19 dan vaksinasi Booster COVID-19 disebabkan sejak tanggal 23 Oktober 2023 hingga 19 November 2023 kasus COVID-19  dilaporkan meningkat di 104 negara dan 43 negara telah melaporkan kematian akibat COVID-19.

Kasus COVID-19 meningkat dua kali lipat di Singapura menjadi 22.094 kasus pada periode 13 – 19 November 2023. Di Malaysia juga dilaporkan peningkatan kasus COVID-19 menjadi 2.328 kasus pada periode yang sama 13 -. 19 November 2023.

Di Indonesia sendiri juga dilaporkan  peningkatan  kasus konfirmasi COVID-19 pada periode  20 – 26 November 2023 sebanyak 151 kasus  yang diduga karena varian EG.5 dan 1 pasien COVID-19 meninggal dunia.

Gejala COVID-19 saat ini secara umum dikategorikan sebagai gejala yang ringan  yang menyerupai gejala Omicron seperti demam, batuk, pilek, gangguan penciuman dan pengecapan.

Webinar gratis itu mengupas tentang kewaspadaan COVID-19 dan vaksinasi Booster COVID-19 dimana dr. Wiendo, Sp.P, FAPSR, FISR bertindak sebagai  moderator Webinar Kewaspadaan COVID-19  dan webinar dibuka oleh sekretaris PDPI Cabang Papua dr. Helena Pakiding, Sp.P, M.Kes, FAPSR, FISR.

Dalam webinar itu, dr. Wiendo, Sp.P, FAPSR, FISR menjelaskan bahwa topik yang diangkat menyangkut gejala, diagnosis dan pengobatan COVID-19 yang dipresentasikan oleh pembicara pertama yaitu Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, MSc, Sp.P – Konsultan Infeksi Paru, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus juru bicara Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

“Dimana Prof. Dr. Erlina menyampaikan penyebab kasus COVID-19 meningkat kembali saat ini di Indonesia karena mobilitas penduduk yang meningkat menjelang akhir tahun, angka vaksinasi booster COVID-19 yang masih rendah dan penerapan protokol kesehatan yang mulai longgar,” ungkap dr. Wiendo, Sp.P, FAPSR, FISR kepada media ini, Selasa (26/12/2023) di Bintuni.

Selanjutnya dr. Wiendo, Sp.P juga memaparkan bahwa dalam webinar itu Prof. Dr. Erlina juga menjelaskan tentang Pedoman Terapi COVID-19  Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) yang terbaru bulan November 2023 dan Pemeriksaan rapid antigen dan PCR  yang tersedia saat ini di Indonesia masih dapat mendeteksi varian COVID-19.

“Adapun pasien konfirmasi COVID-19 dengan gejala ringan dan  memiliki risiko rendah untuk rawat inap saat ini  direkomendasikan untuk menjalani masa isolasi mandiri selama 3-5 hari, berjemur 15 menit setiap hari dan diberikan suplemen vitamin C dan vitamin D serta asupan bergizi.

Selanjutnya  tidak perlu diberikan obat antivirus serta tidak perlu diswab ulang setelah menjalani isolasi selama 5 hari. Upaya pencegahan COVID-19  yang telah terbukti efektif dengan melaksanakan kembali protokol kesehatan dengan baik dan meningkatkan cakupan vaksinasi booster COVID-19,” terang dr. Wiendo, Sp.P.

Pembicara kedua, kata dr. Wiendo spesialis Paru RSUD Teluk Bintuni yaitu Dr. dr. Soekamto, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi Imunologi sekaligus Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

“Dimana Dr. dr. Soekamto, Spesialis Penyakit Dalam tersebut memaparkan data cakupan vaksinasi COVID-19 di Indonesia untuk dosis 1 sebesar 86,88 %, dosis 2 sebesar 74,56 %,  dosis 3 sebesar 38,17 % dan dosis 4 sebesar 2 %.

Vaksinasi COVID-19  menyebabkan penurunan kasus COVID-19, kasus kematian dan kasus rawat inap akibat COVID-19 secara bermakna.

Individu yang tidak divaksinasi COVID-19 secara lengkap memiliki risiko 4,6 x lebih besar untuk terinfeksi COVID-19, risiko rawat  inap 10,4 x lebih besar dan risiko kematian  akibat COVID-19 menjadi 11,3 x lebih besar,” ujar Pengurus IDI Cabang Teluk Bintuni itu.

Salah satu pengurus PDPI Cabang Papua itu juga mengatakan bahwa vaksinasi booster COVID-19 itu  diperlukan karena titter antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi akan  berkurang dengan seiringnya waktu dan beberapa subpopulasi (kelompok masyarakat) memiliki respon imun yang tidak optimal terhadap vaksinasi.

“Kementerian Kesehatan  pada  tanggal 22 Mei 2023 telah mengeluarkan surat edaran  bagi masyarakat yang belum melengkapi dosis primer dan dosis lanjutan (booster)  maka dapat diberikan vaksinasi COVID-19 dengan menggunakan vaksin yang tersedia. Vaksinasi COVID-19  yang tersedia saat ini di Indonesia masih efektif terhadap varian COVID-19,” tutur dr. Wiendo. (ahm-IP)

About Post Author

banner x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *