IDI Teluk Bintuni Gelar Sosialisasi Hipertensi Si “Pembunuh Senyap” Atau “The Silent Killer”

Sosialisasi Hipertensi atau The Silent Kill atau penyakit Si Pembunuh Senyap. IP-IST
Bagikan berita ini

Visits: 27

IDI Teluk Bintuni Gelar Sosialisasi Hipertensi Si “Pembunuh Senyap” Atau “The Silent Killer”

BINTUNI, InspirasiPapua.id- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Teluk Bintuni  menggelar Sosialisasi tentang tekanan darah tinggi atau dikenal dengan sebutan Hipertensi Si Pembunu Senyap (The Silent Killer).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu  masalah kesehatan utama seluruh masyarakat penjuru dunia, berawal dari kondisi yang sering kali diabaikan sebagian besar orang yang merasa tidak memiliki keluhan.

Sehingga setiap tanggal 17 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Hipertensi Sedunia dengan harapan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan ancaman bahaya kesehatan dari tekanan darah tinggi yang tidak terkendali.

Dan tahun ini sosialisasi Hipertensi mengusung tema: “Measure Your Blood Pressure Accurately, Control It, Live Longer”,” ungkap dr. Jemi Tubung, M. Biomed, Sp. PD, Jumat (26/05/2023) belum lama ini ketika dirinya mensosialisasikan soal tekanan daerah tinggi atau Hipertensi kepada masyarakat Awam di Bintuni.

Jemi Tubung menjelaskan, sesungguhnya Hipertensi menjadi sumber komplikasi kesehatan yang lebih fatal untuk organ vital seperti otak, jantung, maupun ginjal.

“Dimana Hipertensi masih menjadi faktor risiko utama penyebab dari stroke perdarahan, penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit ginjal kronik, bahkan kematian dini.

Berangkat dari kondisi tersebut, hipertensi sering disebut sebagai ‘Si Pembunuh Senyap’ atau ‘The Silent Killer’,” ujar salah satu dokter ahli di RSU Bintuni itu.

dokter ahli penyakit dalam itu juga  menyebutkan, bahwa berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 tercatat kenaikan angka kejadian kasus hipertensi di Indonesia menjadi 34,11% dari 25,8% pada tahun 2013.

“Hipertensi terjadi ketika tekanan darah seseorang terdeteksi > 140/90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan yang berbeda saat pengukuran di klinik atau fasilitas layanan kesehatan dengan menggunakan alat ukur tekanan darah yang sudah tervalidasi,” terang dr. Jemi.

Sementara itu dalam sosialiasi tersebut dr. Andry Ganesha Rombe menambahkan bahwa Hipertensi sendiri terbagi dalam dua kelompok penyebab, yaitu hipertensi primer (esensial) sebanyak 90-95% kasus merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, dan hipertensi sekunder (5-10%), yaitu tekanan darah tinggi oleh penyebab yang mendasarinya antara lain berhubungan dengan tanda-tanda gangguan pembuluh darah ginjal.

“Gangguan kelenjar gondok (tiroid), dan penyakit kelenjar adrenal (sebuah kelenjar di atas ginjal yang bertugas menghasilkan hormon), serta konsumsi obat-obatan tertentu.

Tekanan darah tinggi pada hipertensi primer dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti, usia lanjut, obesitas, adanya riwayat hipertensi pada keluarga, konsumsi makanan asin atau tinggi garam (natrium), konsumsi makanan kemasan atau makanan cepat saji, kurangnya konsumsi buah dan sayur, pola hidup sendiri yaitu terlalu banyak duduk dan kurang berolah raga, konsumsi alkohol, serta kebiasaan merokok.

Sebagian besar kondisi tekanan darah tinggi, terutama pada kelompok hipertensi primer tidak memiliki gejala yang spesifik. Gejala klinis baru dirasakan bila kondisi hipertensi telah memberat atau yang telah berkomplikasi.

Gejala yang dapat muncul antara lain sakit kepala atau pusing, rasa mudah lelah saat aktivitas, nyeri dada, gelisah, penglihatan buram, mimisan, bahkan penurunan kesadaran,” papar dr. Andry.

Dokter Andry Rombe juga menjelaskan, terdapat beberapa komplikasi Hipertensi jika tidak terkontrol antara lain penyakit jantung koroner, gangguan serebral (otak) seperti stroke, penyakit gagal ginjal, retinopati (kerusakan retina), penyakit pembuluh darah tepi.

”Namun demikian, hipertensi dapat dicegah jika dapat dikelola dengan baik yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup. Hipertensi yang terkelola dengan baik dapat mencegah dan menurunkan risiko kesakitan, komplikasi, bahkan risiko kematian dini,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Dokter Andry Rombe juga memberikan solusi upaya penangnan penyakit Hipertensi yang dapat dicapai dengan modifikasi gaya hidup dan pemberian terapi obat rutin ketika sudah diperlukan.

Cek Kesehatan rutin dan ikuti anjuran dokter, Konsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, Pola makan dengan meningkatkan konsumsi buah, sayur, dan konsumsi rendah lemak, serta hindari zat karsinogenik.

Membatasi konsumsi natrium, yaitu dianjurkan maksimal 1 sendok teh garam atau setara 5 gram garam dapur dalam sehari, hindari alkohol, tetap mempertahankan berat badan ideal, berhenti merokok.

Membiasakan untuk beraktivitas fisik teratur, yaitu dengan berolahraga yang bersifat aerobik minimal 30 menit per hari dengan frekuensi 5 kali dalam seminggu.

Istirahat yang cukup serta kelola stress. Pada kasus hipertensi yang sudah mendapatkan obat anti hipertensi rutin dari dokter, diharapkan untuk selalu mengkonsumsi obat secara teratur dan berkala sekaligus memeriksakan kondisi kesehatannya ke fasilitas Kesehatan,”anjurnya.

Anggota IDI Cabang Bintuni itu juga mengatakan bahwa sebagian besar pengobatan hipertensi diberikan dalam jangka panjang bahkan mungkin sampai seumur hidup pasien, karena terapi hipertensi ini bertujuan untuk mengendalikan tekanan darah sesuai target agar dapat memperpanjang harapan hidup serta mengurangi risiko komplikasi.

“Mari segera konsultasikan kondisi kesehatan Anda kepada dokter yang berkompeten di Rumah Sakit atau fasilitas Kesehatan terdekat.

Diharapkan untuk selalu mengkonsumsi obat secara teratur dan berkala sekaligus memeriksakan kondisi kesehatannya ke fasilitas kesehatan,” pesan dr. Andry sembari mengatakan  Salam Sehat!.

Referensi: (1). Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi.

Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia, 2021. (2). World Health Organization. Hypertension. vailable from: https://www.who.int/newsroom/fact-sheets/detail/hypertension [cited 20 Mei 2023]. (3). Infodatin 2020 Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Hipertensi Si Pembunuh Senyap. (ahd-IP)

About Post Author

banner x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *