Akibat Kenaikan BBM, Dampak Ekonomi Masyarakat Bintuni Akan Terasa

Pemerhati Sosial Bintuni Ari Murti, S.Pt. (IP-IST)
Bagikan berita ini

Visits: 5

BINTUNI, InspirasiPapua.id- Akibat naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat Teluk Bintuni secara perlahan tetapi pasti terutama dampak ekonomi masyarakat.

“Pemerintah pusat telah mengurangi alokasi dana subsidi BBM dimana sebelumnya rakyat masih mengenal bensin premium warna kuning. Selanjutnya dipaksa beralih ke pertalite dan pertamax.

Karena subsidi mulai berkurang menyebabkan harga BBM mulai naik dan tentunya juga memicu kenaikan harga barang dan jasa. Mulai dari tarif transportasi, harga pangan hingga merembet ke harga-harga lainnya.

Meskipun dijanjikan adanya Bantuan Langsung Tunai atau BLT. Namun hal itu dinilai kurang efektif.

Rakyat semakin menjerit, apalagi pendapatan tak kunjung naik sementara pengeluaran tentunya semakin besar. Rakyat miskin semakin mengencangkan ikat pinggang yang nampak kurus,” ungkap salah seorang pemerhati sosial di Bintuni Ari Murti, Selasa (06/09/2022) ketika dikonfirmasi wartawan di Bintuni  terkait naiknya harga BBM dan dampak yang akan dirasakan oleh masyarakat di Kabupaten Teluk Bintuni.

Pemerhati sosial itu mengatakan bahwa dengan kenaikan harga BBM bagaimana dengan nasib masyarakat Bintuni yang memiliki profesi sebagai petani atau sang pahlawan pangan.

Tentunya nasib petani mungkin tidak jauh beda dengan nasib-nasib rakyat jelatah lainnya, bahkan mungkin lebih menyedihkan.

Subsidi pupuk pun mulai dikurangi, yang sebelumnya pupuk bersubsidi diperuntukan bagi sekitar 70-an komoditi. Namun saat ini dibatasi hanya untuk 9 (sembilan) komoditi berdasarkan Permentan Nomor : 10 Tahun 2022, yaitu padi, jagung, kedelai, cabe, bawang merah, bawang putih, tebu, kakao dan kopi.

Lalu bagaimana dengan petani yang menanam komoditi lainnya?, tentunya mereka tidak mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi. Sementara harga subsidi dan non subsidi, perbedaannya sangat jauh.

Jika petani harus membeli pupuk non subsidi, maka tidak heran harga-harga pangan akan melonjak naik. Dan disisi lain tidak ada jaminan pasar dari pemerintah terkait hasil panen dari petani.

Biasanya terjadi, saat panen raya maka harga akan anjlok. Namun saat harga hasil panen mulai bagus dan menguntungkan petani. Biasanya pemerintah lebih memilih impor pangan dengan alasan menstabilkan harga pangan dalam negeri.

Sungguh tidak adil, petani harus bekerja berbulan- bulan menunggu hasil yang tidak seberapa,” papar pria yang saat ini bekerja sebagai ASN di Dinas Pertanian Kabupaten Teluk Bintuni.

Ari Murti yang kesehariannya sebagai pegawai Dinas Pertanian itu mengatakan bahwa apa yang terjadi, jika rakyat harus hidup tanpa subsidi. Mungkinkah akan terjadi krisis pangan, kemiskinan dan pengangguran semakin tinggi serta angka kriminalitas pun melonjak.

Arimurti menegaskan bahwa dengan adanya kenaikan harga BBM itu membutuhkan kebijakan yang cepat, tetap dan efektif dari pemerintah. Sehingga mimpi buruk yang tinggal menunggu waktu ini tidak semakin parah,” pungkasnya.

Pantauan media ini, bahwa Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada tanggal 03 September 2022 telah memutuskan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Dimana ini merupakan pilihan terakhir pemerintah mengalihkan subsidi BBM. Sehingga harga beberapa jenis BBM yang selama ini subsidi akan alami penyesuaian.

Sesuai dengan apa yang disampaikan presiden Jokowi dalam Konferensi Pers bersama dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif.

Dimana BBM jenis Pertalite dari harga Rp.7.650 per liter menjadi Rp.10.000 per liter, solar subsidi dari Rp.5.150 per liter jadi Rp.6.800 per liter, Pertamax non subsidi naik dari Rp.12.000 jadi Rp.14.500 per liter. (01-IP)

About Post Author

banner x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *