Views: 2
Papua Barat Perkuat Jejaring Rumah Sakit dan Puskesmas, Perburuan Kasus TBC Tak Lagi Menunggu Pasien Datang
MANOKWARI, PAPUA BARAT, inspirasipapua.id – Upaya menemukan penderita tuberkulosis (TBC) di Papua Barat kini didorong lebih agresif. Penanganan penyakit menular itu tidak lagi hanya mengandalkan pasien yang datang berobat ke puskesmas atau rumah sakit, tetapi juga melalui penelusuran aktif hingga ke lingkungan masyarakat.
Strategi tersebut mengemuka dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Public Private Mix (PPM) Program Pengendalian Tuberkulosis Papua Barat yang digelar Dinas Kesehatan Papua Barat secara hybrid pada 13–14 Juli 2026 di Manokwari.
Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P., MMRS., FAPSR., FISR., mengatakan TBC masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan dunia. Dalam dua abad terakhir, penyakit ini diperkirakan telah menyebabkan sekitar satu miliar kematian.
Indonesia menjadi negara dengan beban kasus TBC terbesar kedua di dunia setelah India. Pada 2024, jumlah kasus di Indonesia diperkirakan mencapai 1,08 juta, meningkat sekitar 1,3 kali dibandingkan estimasi tahun 2010 yang mencapai 842 ribu kasus.
“Kasus TBC harus ditemukan sedini mungkin agar pasien dapat segera diobati, rantai penularan terputus, serta angka kematian dan kejadian TBC dapat ditekan,” ujar Wiendo.
Menurut dia, keberhasilan pengendalian TBC tidak bisa hanya bergantung pada fasilitas kesehatan milik pemerintah. Rumah sakit swasta, klinik, hingga praktik mandiri tenaga kesehatan harus menjadi bagian dari jejaring pelayanan melalui pendekatan Public Private Mix (PPM).
Melalui kolaborasi tersebut, seluruh fasilitas kesehatan didorong aktif melaporkan kasus, melakukan pelacakan pasien, serta memastikan pengobatan berlangsung hingga tuntas.
Di Papua Barat, layanan pengendalian TBC saat ini ditopang oleh 85 puskesmas, 11 rumah sakit pemerintah, satu rumah sakit swasta, 26 klinik pemerintah dan swasta, serta enam lembaga pemasyarakatan maupun rumah tahanan.
Wiendo menilai keterlibatan fasilitas kesehatan swasta menjadi langkah penting untuk menjangkau penderita yang selama ini belum terdeteksi oleh layanan pemerintah.
Ia menjelaskan, penemuan kasus TBC dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, penemuan kasus secara pasif, yakni ketika pasien datang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Kedua, penemuan kasus secara aktif dengan mendatangi kelompok masyarakat yang berisiko meski belum menunjukkan gejala.
Skrining aktif dapat dilakukan di tempat kerja, lembaga pemasyarakatan, lokasi pengungsian, panti asuhan, posyandu, hingga melalui kunjungan dari rumah ke rumah. Selain itu, kampanye skrining menggunakan kendaraan layanan keliling juga dinilai efektif memperluas jangkauan pemeriksaan.
Teknologi juga mulai dimanfaatkan dalam mendukung deteksi dini. Selain wawancara gejala, skrining kini dapat dilakukan menggunakan sistem digital dan teleradiologi yang mampu mendeteksi kelainan paru secara cepat, bahkan sebelum seseorang mengalami gejala TBC.
Wiendo menegaskan, keberhasilan eliminasi TBC membutuhkan dukungan seluruh pihak. Kepala daerah berperan sebagai penanggung jawab utama program kesehatan di wilayahnya, sementara dinas kesehatan bertugas memperkuat kebijakan, membangun koordinasi lintas sektor, memastikan ketersediaan obat dan logistik, serta menggandeng organisasi profesi dan masyarakat.
“Eliminasi TBC tidak bisa dikerjakan oleh satu institusi saja. Dibutuhkan jejaring pelayanan yang kuat antara rumah sakit, puskesmas, fasilitas kesehatan swasta, organisasi profesi, dan masyarakat agar semakin banyak kasus ditemukan lebih awal dan diobati hingga sembuh,” kata Wiendo.
***(Tim/red/MA/inspirasipbapua.id)***













