Kendala Mama-Mama Atibo-Manimeri, Setiap Bulan Harus Patungan Bayar Sewa Lahan Pondok

Mama Seftina Tiri dan beberapa mama sedang berjualan hasil kebun di Pondok Atibo. IP-IST
Bagikan berita ini

Visits: 0

BINTUNI, InspirasiPapua.idMama-mama penjual hasil kebun di Pondok yang berlokasi depan jalan masuk kampung Atibo Manimeri mengalami kendala sebab setiap bulan sebanyak kurang lebih 20 mama-mama penjual hasil kebun harus patungan sebesar Rp. 1 juta untuk membayar mama Ana Iba selaku pemilik lokasi dimana Pondok Tempat Berjualan Mama-Mama kampung Atibo Manimeri itu berdiri.

“Kita berjulan di sini setiap bulan patungan untuk membayar sewa lokasi dimana pondok tempat berjualan bediri sebesar Rp. 1 juta kepada pemilik tempat atau lokasi ini.

Nampak mama-mama Atibo sedang menjajakan hasil kebun dan menunggu pembeli. IP-IST

Terkait hal tersebut kami minta kepada Pemkab Teluk Bintuni untuk membebaskan lahan ini agar kami mama-mama penjual hasil kebun tidak lagi patungan setiap bulannya untuk bayar sewa lahan atau lokasi tersebut,” ungkap Sekretaris Kampung Atibo distrik Manimeri Seftina Tiri kepada media ini, Rabu (12/01/2022) ketika dikonfirmasi di Pondok Tempat Mama-Mama Kampung Atibo Berjualan Hasil Kebun di Jalan Masuk Kampung Atibo distrik Manimeri.

Mama-mama Seftina Tiri juga mengisahkan bahwa mama-mama kampung Atibo berjualan hasil kebun di Pondok ini awal mulanya berdiri satu unit pondok untuk 2 sampai 3 orang di Pinggir Jalan Raya Bintuni-Manimeri.

“Di pondok itu yang pertama kali berjualan saya dan mama Iba waktu itu kami berjualan buah Durian karena saat itu musim durian. Dan kami masing-masing pada hari itu mendapat Rp. 1 juta.

Nampak mama-mama Atibo sedang menjajakan hasil kebun dan menunggu pembeli. IP-IST

Melihat ada potensi penghasilan dari berjulan hasil kebun termasuk buah-buahan akhirnya mama-mama lainnya juga ikut kami berjualan. Karena yang berjualan cukup banyak maka pada tahun 2019 Pemkab Teluk Bintuni melalui Dinas Perindagkop dan UMKM Kabupaten Teluk Bintuni kemudian membangunkan kami satu pondok yang cukup besar bisa ditempati berjualan kurang lebih sepuluh orang sampai sekarang.

Namun pondok yang berdiri ini sampai sekarang terasa sempit karena penjual bertambah banyak yaitu sudah ada kurang lebih 20 orang. Maka terkait hal itu kami mohon kepada Pemkab Teluk Bintuni agar dapat membangunkan kami lagi 1 pondok seperti ini,” ungkap Seftina Tiri.

Seftina Tiri juga mengungkapkan bahwa dulu tempat dimana mereka sekarang ramai berjualan bisa dikatan sepih sekali.

“Tetapi dengan dibangunnya pondok untuk tempat berjualan hasil kebun di Atibo ini oleh Pemkab Teluk Bintuni maka kami warga Atibo tidak lagi pergi ke Pasar Sentral Bintuni untuk berjualan sebagaimana dulu kita lakukan dengan menyewa mobil lalu membawa hasil-hasil kebun kita ke pasar karena kita di sini tidak memiliki mobil sendiri.

Nampak salah satu mama penjual hasil kebun di Atibo sedang membersihkan kasbi yang baru diambil dari kebun untuk dijual. IP-IST

Disini kita menjual hasil-hasil kebun yang ditanam oleh warga masyarakat kampung Atibo seperti singkong, kacang tanah, pisang, labu, keladi juga buah-buahan musiman seperti rambutan dan durian ada juga buah merah.

Kami di sini hanya jual hasil kebun saja, kalau sayur-sayuran kami tidak pernah jual karena tidak laku atau tidak ada yang beli,” papar Mama Seftina.

Mama Seftina Tiri juga menambahkan bahwa puji Tuhan dirinya saat berjualan bisa dapat sehari Rp. 250 ribu sampai 300 ribu dari hasil jualan buah-buahan. Sedangkan pedagang yang lain bisa dapat uang di atas Rp. 500 ribu sampai Rp. 1 juta itu kalau ramai.

Tetapi kalau dalam kondisi kurang ramai atau biasa-biasa saja palingan mama-mama yang berjualan hasil kebun disini setiap harinya rata-rata minimal bisa memperoleh Rp. 200 ribu sampai 300 ribu.

Adapun harapan kami kepada Pemkab Teluk Bintuni agar juga memperhatikan kami mama-mama kampung Atibo penjual hasil kebun di Pondok ini.

Walaupun kami tidak mendapatkan bantuan modal usaha, tetapi kalau bisa pondok ini di tambah lagi karena warga masyarakat di sini banyak yang berminat jadi pedagang hasil-hasil kebun miliknya,” ujar mama Seftina Tiri. (01-IP)

About Post Author

banner x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *