Masyarakat Minta Dinas PUPR Bintuni Perhatikan Jembatan Rotan Gantung Dan Jalan Mosut Jauh

Jembatan rotan gantung yang panjangnya 500 meter itu tersebut sudah banyak makan korban. Hal ini harus menjadi perhatian Pemkab Teluk Bintuni. IP-IST
Bagikan berita ini

Visits: 11

BINTUNI, InspirasiPapua.idPermasalahan masyarakat distrik Moskona Utara Jauh (Mosut) Jauh yang beribu kota di kampung Inofina yaitu jembatan rotan gantung dan jalan dari distrik Moskona Utara ke distrik Moskona Utara Jauh sampai saat ini masih menggunakan jalan setapak dan melalui hutan.

Nampak masyarakat Inofina memikul Genset untuk Listrik Kampung Inofina dari Mosokona Utara naik turun gunung menuju distrik Mosokona Utara Jauh. IP-IST

Untuk dapat sampai ke distrik Moskona Utara Jauh masyarakat dari Bintuni naik pesawat ke distrik Moskona Utara (Mosut) yang beribu kota Moyeba lalu 3 (tiga) jam berjalan naik dan turun gunung lalu melewati jembatan rotan gantung yang panjangnya 500 meter baru kemudian mendaki gunung baru tiba di Inofina,” ungkap Aparat Kampung Inofina Frangky Muk, S.IP kepada media ini, Senin (20/06/2022) saat ditemui di Bintuni.

Aparat Kampung Inofina itu juga mengatakan bahwa Apabila pesawat tidak ada maka masyarakat kampung Inofina yang ada di Bintuni terlebih dahulu naik mobil ke Merdey baru jalan kaki ke Masui menuju Moskona Utara.

“Kalau laki-laki jalan dari  Merdey ke Moskona Utara berjalan kami ditempuh selama 2 sampai 3 hari. Sedangkan kaum perempuan dan anak-anak itu jalan kaki selama satu minggu baru sampai ke Moskona Utara.

Jadi jembatan rotan gantung dan pembuatan jalan menuju distrik Moskona Utara Jauh harus mendapat perhatian pemerintah Teluk Bintuni dalam hal ini dinas teknis yaitu Dinas PUPR Teluk Bintuni harus memprogramkan itu.

Masyarakat saat melakukan pembangunan di kampung Inofina itu membawa material harus melewati jembatan rotan gantung tersebut karena satu-satunya jalan yang digunakan warga masyarakat untuk sampai ke Inofina,” ungkap Frangky yang juga adalah Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa distrik Moskonan Utara Jauh.

Alumni Universitas Cenderawasih itu juga memaparkan bahwa baru-baru ini kepala kampung Inofina beserta masyarakat menggunakan dana kampung dengan membuat program pembelian mesin diesel untuk keperluan listrik di kampung Inofina.

“Mesin diesel itu diangkat menggunakan pesawat dari Bintuni ke distrik Moskona Utara dengan biaya Rp. 24 juta. Lalu dari Moskona Utara warga masyarakat memikul mesin diesel tersebut biasanya itu dibayar tetapi kali ini mesin diesel untuk kebutuhan listrik untuk masyarakat.

Maka masyarakat beramai-ramai pikul mesin diesel tersebut sampai ke distrik Moskona Utara Jauh dan tidak meminta bayaran alias gratis karena diesel tersebut saat mengaliri listrik pada malam hari itu untuk kebutuhan mereka sendiri,” ujar Frangky.

Aparat Kampung Inofina Frangky Muk, S.IP bersama Kepala Distrik Moskona Utara Jauh Marius Orocomna, SE saat diwancarai media ini. IP-IST

Lanjut Frangky menegaskan bahwa begitu pentingnya jembatan rotan gantung dan jalan itu untuk menjadi perhatian Pemkab Bintuni dalam hal ini Dinas PUPR Teluk Bintuni untuk memperhatikan  jembatan gantung dan pembangunan jalan tersebut.

“Karena selama ini jembatan rotan gantung sudah banyak memakan korban baik manusia maupun material yang jatuh dari atas jembatan dan hilang tidak ditemukan.

Oleh sebab itu kami minta slank dan material lainnya yang sudah ada di Moskona Utara untuk segera memperbaiki jembatan rotan gantung tersebut yang hanya terbuat dari rotan dan bukan jembatan papan.

Mengingat arus kali Sebyar sangat kencang dan airnya tidak pernah surut atau meti sehingga manusia dan barang yang jatuh tidak bisa ditemukan dan hilang,” terang Frangky.

Frangky menambahkan material bangunan seperti semen dan pasir di Moskona Utara Jauh sangat mahal.

“Sebab ongkos tau biaya pikul 1 (satu) zak semen saja dari distrik Moskona Utara ke Moskona Utara Jauh itu Rp. 500 ribu per zak. Sedangkan pasir di distrik Moskona Utara Jauh cukup banyak. Namun masyarakat yang mengumpulkan pasir 1 (satu) tempat atau 1 (satu) ret itu biayanya Rp. 10 juta. Jadi jalan dan jembatan rotan gantung ini harus segera diperbaiki atau dibangun.

Kalau jembatan gantung dibangun  dengan baik maka kemungkinan orang atau barang jatuh itu kecil sekali. Sedangkan jalan dari Moskona Utara ke distrik Moskona Utara Jauh kalau pemerintah bangun maka kemungkinan harga pikul biayanya bisa turun.

Karena masyarakat Moskona Utara Jauh ketika dari distrik Moskona Utara bisa menggunakan kendaraan  sampai ke Jembatan gantung lalu masyarakat pikul masuk ke kampung yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh,” ujar Frangky.

Sementara hal yang sama juga dikatakan oleh Kepala Distrik Moskona Utara Jauh Marius Orocomna, SE bahwa jembatan gantung rotan Moskona Utara Jauh dari dulu sampai sekarang belum pernah diperbaiki oleh Pemkab Teluk Bintuni.

“Sehingga saya berharap semoga pada tahun 2022 ini atau tahun 2023 jembatan rotan gantung itu sudah harus diperbaiki. Sebab warga masyarakat distrik Moskonan Utara Jauh setiap hari harus melewati jembatan tersebut membawa material atau kebutuhan kampung dan bahan-bahan bangunan karena jembatan tersebut  satu-satunya yang harus dilalui untuk sampai ke distrik Moskona Utara Jauh .

Sementara itu harapan saya jalan raya dari Bintuni harus sampai diperbatasan distrik Moskona Utara Jauh dengan kabupaten Maybrat.

Agar masyarakat kita dari kampung Masyen dan Masyor yang selama ini tinggal di Kebar dan kabupaten Tambrauw serta Maybrat mereka bisa kembali di kampung mereka di Distrik Moskona Utara Jauh,” tutup Kadis Marius Orocomna. (01-IP)

 

About Post Author

banner x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *